Gubernur Pastikan Banjir Pancasari Tak Ganggu Shortcut Singaraja–Mengwitani
Admin 2 - atnews
2026-01-15
Bagikan :
Gubernur Bali Wayan Koster (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Gubernur Bali Wayan Koster merespon banjir yang terjadi di kawasan Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, pada Minggu (11/1) kemarin.
Banjir tersebut tidak berdampak pada proyek pembangunan jalan shortcut Singaraja–Mengwitani.
Ia memastikan infrastruktur strategis penghubung Bali Utara dan Bali Selatan tersebut tetap aman dan pengerjaannya berjalan sesuai rencana.
Koster menjelaskan, banjir yang sempat terjadi di wilayah Pancasari tidak menyentuh badan jalan maupun area konstruksi shortcut. “Oh tidak, tidak kena. Shortcut-nya aman. Warga yang terdampak sudah dievakuasi dan ditangani bersama oleh pemerintah provinsi dan Kabupaten Buleleng,” ujarnya saat ditemui usai Rapat Paripurna DPRD Bali, Rabu (14/1).
Ia memastikan hingga saat ini tidak ada laporan banjir yang mengganggu pembangunan jalan shortcut di wilayah tersebut. Menurutnya, kejadian banjir di beberapa titik di Bali lebih disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem, bukan persoalan konstruksi infrastruktur.
Politisi dari Partai PDI Perjuangan ini mengungkapkan, sejak tahun 2025 curah hujan di Bali tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 70 tahun terakhir. Ia tidak menaik kondisi ini sempat memicu banjir di sejumlah kawasan, seperti Tukad Badung, Pasar Badung, hingga Pasar Kumbasari.
“Waktu itu curah hujannya mencapai 390 milimeter. Padahal sebelumnya selalu di bawah 100 milimeter. Ini curah hujan tertinggi yang pernah tercatat dalam 70 tahun terakhir,” ungkap Ketua DPD PDIP Bali ini.
Menurut Koster, fenomena tersebut dipengaruhi oleh siklus alam jangka panjang, termasuk pergerakan gelombang siklon yang memengaruhi pola hujan di Bali. Meski demikian, ia menyebut intensitas hujan kini mulai menurun dibandingkan periode sebelumnya. “Sekarang curah hujannya masih tinggi, tapi tidak setinggi sekitar September 2025. Sekarang banjirnya kecil-kecil,” katanya.
Koster juga menyampaikan ditengah intensitas hujan tinggi ini, secara umum juga sudah dengan sistem pengelolaan yang baik. “Namanya hujan gede, ya banjir-banjir dikit. Tapi sebenarnya sudah dikelola dengan baik,” tandasnya.
Di tengah kondisi cuaca ekstrem tersebut, pembangunan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani dipastikan tetap berlanjut. Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum bersama Pemerintah Provinsi Bali telah melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan shortcut titik 9–10 di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Rabu (7/1).
Koster menargetkan seluruh shortcut dari titik 1 hingga 12 dapat dituntaskan sebelum akhir masa jabatannya pada 20 Februari 2030. Prioritas berikutnya adalah pembangunan titik 11–12 yang memiliki medan paling berat.
Pembebasan lahan ditargetkan mulai 2026, dengan pembangunan fisik pada 2027- 2028 dan selesai 2029. Adapun titik 1–2 direncanakan dikerjakan terakhir karena kondisi medan relatif landai meski membutuhkan biaya pembebasan lahan yang besar. (Z/002)