Banner Bawah

Penny, Kita dan Sang Waktu

Admin 2 - atnews

2026-01-04
Bagikan :
Dokumentasi dari - Penny, Kita dan Sang Waktu
Oleh Putu Suasta (ist/Atnews)

Oleh Putu Suasta

Tidak ada kata yang cukup sempurna untuk menggambarkan sedihnya perjalanan lintas waktu Penny adalah seorang sahabat yang sangat ramah, hangat, bersahaja dan menyenangkan. Bertutur kata santun dan rasa hormat. Dia selalu empati pada penderitaan orang, mengulurkan tangan tanpa diminta dan membantu siapa saja yang tertimpa bencana.

Saudaraku, dulurku...tanpa kita sadari.. satu persatu... saudara-saudara dan sahabat-sahabat kita... pamit pulang. ....Ternyata... sehebat-hebatnya manusia... pasti akan dikalahkan... oleh sang WAKTU.... Manusia.. lemah... sakit-sakitan...dan akhirnya menyerah... pada panggilan AJAL. WAKTU...setiap hari mengambil sebagian dari diri kita....Sedikit demi sedikit...hingga akhirnya TAK TERSISA...Maka yang CERDAS... adalah mereka yang tidak terlena dengan pesona dunia... Dia menyadari bahwa dirinya sewaktu-waktu pasti akan MATI.

Saat kita merasa gagal, dunia terasa hancur lebur, bayangkan saja: Bagaimana orang Tuli menghadapi kehidupan kesehariannya tanpa suara., bagaimana orang bisu ingin berbicara dan bagaimana orang buta menghadapi hidup seharianya tanpa cahaya. Tengoklah mereka yang papa, yatim piatu, mereka itu lebih pantas mengeluh.

Bahwa menjadi manusia bahagia bukan berarti memiliki langit tanpa badai, atau hidup tanpa musibah, atau bekerja tanpa merasa letih, ataupun hubungan tanpa kekecewaan.

Menjadi manusia bahagia adalah mencari kekuatan untuk memaafkan, mencari harapan dalam perjuangan, mencari rasa aman di saat ketakutan, mencari kasih di saat perselisihan.

Menjadi manusia bahagia bukan hanya menyimpan senyum tetapi juga mengolah kesedihan.

Menjadi manusia bahagia berarti berhenti memandang diri sebagai korban dari berbagai kerumitan duniawi, melainkan menjadi pelaku dalam sejarah itu sendiri.

Bahagia bukan hanya menyebrangi padang gurun yang berada diluar diri kita, tapi lebih dari pada itu, mampu mencari mata air dalam kekeringan batin kita.

Maka yang bijak adalah mereka yang tidak terlena dengan pesona sihir duniawi...

Kita menyadari bahwa setiap saat pastilah kita akan dipanggil PULANG.

Mumpung kita masih diberi waktu, mari kita gunakan WAKTU yang tersisa, sebaik mungkin. Maka hindari menunda setiap tindakan kebaikan, yang terbersit di hati... Lakukanlah dengan segera, Karena apapun bisa terjadi, semenit lagi... atau bahkan sedetik lagi... tidak ada jaminan bahwa kita masih bisa bernafas...dan masih bisa menunaikan kebaikan.

Untuk kebaikan mari kita..langsung Bertindak..!

Bila ada kesempatan mari kita langsung BERDO'A..., bila..Ada peluang marilah kita berdonasi, yang tentu dilakukan dengan keikhlasan hati dan kegembiraan rohani.

Meski kalah oleh sang WAKTU... setidaknya ada upaya untuk gunakan kesempatan secara tepat waktu... karena kita dapat menggunakannya dengan baik... dan kesempatan tidak hilang sia-sia ...hanya untuk menunggu waktunya PULANG ke Alam keabadian.

Awal dari penderitaan itu, karena kita merasa kuat terikat memiliki harta duniawi. Semakin kuat kita terikat memiliki, maka semakin melekat kita pada penderitaan. Perasaan kosong dan sengsara, karena kita takut kehilangan kebendaan material. Padahal semua yang ada di dunia ini, hanyalah Fetamorgana titipan sementara, yang pada waktunya akan diambil kembali oleh pemiliknya.

Jika hari ini dunia adalah nyata...maka swarga loka hanyalah cerita... Setelah kita tiada...dunia ini hanya cerita... sedangkan swarga loka jadi nyata*

Sekeras apapun kita tolak takdir, yang datang akan tetap datang. Sekuat apapun kita tahan takdir, yang pergi akan tetap pergi. Sederhanakanlah cara kita menyikapi kehidupan, takdir dan karma.

Kita bukan penghuni bumi ini... Tempat kita yang abadi ...adalah di dunia sana...di Alam keabadian, di Swarga loka.

Sang  KEMATIAN itulah... Peristiwa yang paling dekat dengan diri kita... Namun sayang, kita sering mengabaikannya.

Suatu hari nanti kita akan faham dengan makna dari kata kata ini:

Semua hal yang TIDAK DITAKDIRKAN untukmu akan menemukan jalannya untuk hilang. Dan semua yang DITAKDIRKAN untukmu akan menemukan caranya untuk datang. Yang buruk sengaja dilepaskan dari hidup kita, agar yang baik punya kesempatan untuk datang.

Kalo kita simak syair dari Puisi Ebiet, bahwa tugas kita masih sangat banyak, menyelesaikan hidup dengan benar. Tak perlu merampas yang bukan bagian kita. Ikhlaskan saja, bila kita pasrah tumbuh rasa damai, dalam damai kita bertemu bahagia, belajar tersenyum meski hati menjerit.

Tuhan maha bijaksana, dialah yang menentukan. Jangan berhenti, teruslah melangkah mumpung masih ada waktu, sampai suatu hari nanti kita menghadap Yang Kuasa.

*)Putu Suasta, Sekartunjung-Bali
Banner Bawah

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gubernur Koster Tirta Yatra Memohon Kesejahteraan Masyarakat BaliĀ 

Terpopuler

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Dari Kearifan Lokal ke Etika Global: Menata Kehadiran Hindu Indonesia di Dunia

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Penny, Kita dan Sang Waktu

Penny, Kita dan Sang Waktu

Peran Strategis Media Mengawal Pembangunan Bali Berkelanjutan

Peran Strategis Media Mengawal Pembangunan Bali Berkelanjutan

Birkenstock Bawa Perspektif Baru Tentang Kenyamanan Urban Lewat Kampanye Footbe Ecosystem

Birkenstock Bawa Perspektif Baru Tentang Kenyamanan Urban Lewat Kampanye Footbe Ecosystem