Banner Bawah

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Admin 2 - atnews

2026-01-02
Bagikan :
Dokumentasi dari - Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun
Jro Gde Sudibya (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Intelektual Bali Jro Gde Sudibya yang juga Pengamat Kebudayaan Bali dan Kecenderungan Masa Depan mengatakan, secara falsafi, realitas adalah warna-warni dari sejumlah persepsi, realitasnya sama, "Mentari terbit di ufuk Timur".

Maknanya dipersepsikan berbeda oleh orang yang berbeda. Di sini arti penting membangun persepsi, citra yang diupayakan sedekat mungkin dengan realitas. 

Pemimpin otentik berupaya maksimal untuk itu. Persepsi yang lahir dari pencitraan yang jujur menggambarkan kepemimpinan otentik. 

Jika terjadi sebaliknya, citra jauh dari realitas dan bahkan bertentangan, merupakan titik-titik hitam dari sejarah kepemimpinan (the dark numbers of leadership' history).

Menatap fajar mentari Bali tahun 2026, ditandai oleh sejumlah persepsi yang sekaligus merupakan tantangan yang menghadang, menyebut beberapa, pertama, Denpasar sebagai Ibu Kota Provinsi telah gagal mengelola sampah, karena begitu banyak sampah menumpuk di banyak titik perkotaan, yang membuat warga tidak lagi bangga tinggal di sebuah ibu kota provinsi yang semestinya terkelola apik, dan taman-taman kota menjadi tempat nyaman untuk bercengkerama. 

Kedua, Bali memasuki darurat lingkungan, krisis lingkungan, akibat sebut saja kombinasi antara: salah kelola manajemen lingkungan bertemu dengan dampak akut dari krisis iklim akibat pemanasan global.

Bencana ekologis, banjir bandang, rob dan kebakaran hutan semakin menjadi ke seharian masyarakatnya. Ketiga, terjadi sebut saja "perang" narasi antara penguasa dengan publik yang peduli dengan keselamatan lingkungan. 

Di satu pihak berpendapat Bali "normal-normal" saja, dan telah mengambil ancang-ancang kebijakan menyongsong 100 tahun ke depan Bali. 

Di sisi lain, publik yang peduli berpendapat, Bali "benyah latig" dengan kerusakan alam yang nyaris tak terpulihkan, wacana Bali 100 tahun ke depan hanya ilusi dan upaya lari dari tanggung jawab dalam mengelola krisis. 

Ketiga, brand Bali sebagai DTW Dunia mengalami tekanan, muncul fenomena dan wacana "Bali sepi turis" yang merupakan indikasi awal dari merosotnya brand Bali. 

Tanpa pembenahan kebijakan yang serius bisa brand ini mengalami penurunan berkelanjutan (sustaining to decrease) menuju ke titik nadir, yang kemudian tidak bisa dipulihkan. 

Keempat, alih fungsi sawah sudah sampai ke tingkat "titik" mematikan, menurut laporan media media nasional telah mencapai sekitar 2,100 ha per tahun. 

Jika merujuk prediksi pakar pertanian Prof.Wayan Windia (alm.), konversi lahan pertanian di atas 2,000 ha per tahun, Subak setelah 10 tahun hanya tinggal kenangan. 

Timbul pertanyaan menggelitik, tanpa sawah yang tertata apik apakah wisatawan akan tetap mengunjungi: Ubud, Jatiluwih dan Canggu ke Barat?. 

Kelima, kepemimpinan di akar rumput model kepemimpinan "suryak siu", substansi kearifan masa lalu sirna, yang semakin menonjol kekuatan otot dan sejenisnya yang "membelakangkan" kecerdasan, empati dan sikap bijak, kebijaksanaan kehidupan.

Tantangan yang menghadang Bali tahun 2026 sebagai fakta yang sudah tentu tidak bisa dialihkan ke isu-isu "murahan" yang tidak produktif dan membodohi masyarakat.

Ditambahkan, dalam dunia penuh ketidak-pastian, nasehat Shri Rama kepada Wibisana pasca Rahwana gugur menjadi semakin relevan.

"Tang swang ketangwang mamenang rikang rana, Muang tan asinguang kahanan rikang ayu, Sang Dira parapakuaning naya, Ngkan lana ngawirya lawan nikang sriya".

Pesan moralnya, hanya mereka yang berpengetahuan menggunakannya secara bijak, memperoleh kebahagiaan selalu, demikian juga halnya dengan stabilitas kepemimpinan.

Secara terpisah, Advokat Gede Pasek Suardika (GPS) yang juga Mantan DPR dan DPD RI Dapil Bali mengajak masyarakat mendukung kebijakan Gubernur Bali.

"Mari Kita dukung Gubernur Bali. Saya mendengar banyak ide-ide menarik yang akan dijalankan Gubernur Bali Wayan Koster untuk tahun 2026 ini. Jadi sebagai konsekuensi Beliau (Koster-red) terpilih maka wajib semuanya mendukung. Tidak ada alasan untuk tidak mendukung," ungkapnya.

Pertama, Nyepi akan diubah waktunya, Kedua - Bali akan menggunakan kalender Bali dg 35 hari dalam sebulan, Ketiga - Sampah buat sendiri maka urus sendiri, Keempat - dilarang AMDK dibawah satu liter, Kelima - sawah dilarang dialihfungsikan menyatu dengan rencana Jalan Tol Gilimanuk Denpasar yang akan bebaskan banyak lahan sawah.

Semua ide - ide itu merupakan gagasa brilian dan akan menuju kesuksesan Bali 100 tahun ke depan. "Tidak ada lebih hebat dari program ini. Hanya Gubernur Bali yang bisa melakukannya," ungkap GPS sembari mengucapkan Selamat Tahun Baru 2026. Dengan menulis hastag dalam akun media sosialnya #belajarjadibuzzer #semogamemenuhisyarat #DahGituAja . (GAB/002)
Banner Bawah

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bulan Bahasa Bali Diawali Festival Nyurat Lontar dengan Seribu Peserta

Terpopuler

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Menatap Fajar Mentari Bali 2026, Gagal Kelola Sampah di Tengah Wacana Bali 100 Tahun

Ingatkan OUV; Pertahankan Keaslian WBD UNESCO Subak Jatiluwih, Untuk Kepentingan Universal Umat Manusia di Dunia

Ingatkan OUV; Pertahankan Keaslian WBD UNESCO Subak Jatiluwih, Untuk Kepentingan Universal Umat Manusia di Dunia

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Awali Tahun 2026, Kapal Pesiar MV. Ovation of the Seas Sandar Perdana di Pelabuhan Benoa

Awali Tahun 2026, Kapal Pesiar MV. Ovation of the Seas Sandar Perdana di Pelabuhan Benoa

Pasca Segel Pol PP Line Hilang, Satpol PP Bali akan Koordinasi dengan BPN Untuk Pastikan Bukti Pelanggaran

Pasca Segel Pol PP Line Hilang, Satpol PP Bali akan Koordinasi dengan BPN Untuk Pastikan Bukti Pelanggaran

Nuanu Bawa Musik Elektronik Indonesia ke Panggung Utama di Malam Tahun Baru

Nuanu Bawa Musik Elektronik Indonesia ke Panggung Utama di Malam Tahun Baru