Denpasar (Atnews) - Heboh kalender Bali 35 hari serta menggeser Hari Raya Nyepi muncul dari wacana Gubernur Bali, Wayan Koster dalam Pasamuhan Agung Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat tahun 2025, Selasa (30/12).
Gubernur juga mendorong Pasamuhan Agung SKHDN untuk membahas berbagai isu strategis, termasuk kalender Bali (Tika) dan pelaksanaan rangkaian Hari Raya Nyepi agar kembali berpijak pada lontar dan warisan leluhur.
Hal itu disoroti Akademisi Prof. Gede Sutarya dan Jro Gde Sudibya, salah Seorang Pendiri dan Sekretaris Kuturan Dharma Budaya, LSM yang mensosialisakan Pemikiran Mpu Kuturan Raja Kertha di Denpasar, Rabu (31/12).
Menurut Prof. Sutarya, isu sampah dan Hari Raya Nyepi. Isu sampah menggunung, tiba-tiba kelompok sulinggih diundang untuk memindah waktu Nyepi.
"Pengalihan isu dari ketidakcakapan untuk mengurus masalah Bali. Masyarakat sebaiknya konsentrasi mengurus isu sampah, macet, pencaplokan sempadan sungai dan jurang, villa-villa liar, over tourism dan masalah-masalah real Bali lainnya yang membutuhkan penyelesaiaan," bebernya.
Tidak perlu terpancing mengurus Nyepi, Sunya dan Kosong, biarkan itu nanti menjadi urusan Parisada (PHDI) dan intern umat Hindu.
"Uruslah sampahmu, selokanmu yang mampet, jurang-jurangmu yang dicaplok, sempadan yang diurug dan masalah-masalah lainnya. Kalau semua diurus benar-benar bisa jadi Gak bener semua," imbuhnya.
Mengingat Pansus TRAP DPRD Bali melakukan sidak ke sejumlah tempat di Badung, kembali menemukan pelanggaran. Mulai dari usaha di atas LSD dan LP2B hingga Pansus TRAP DPRD Bali menghentikan dugaan Reklamasi di Pesisir Sawangan Badung hingga sawah dijadikan villa dan tempat olahraga.
Sementara itu, Jro Gde Sudibya yang juga Pengamat Kebijakan Publik sependapat dengan Prof. Gede Sutarya agar melakukan pengalihan isu (maaf) yang "kampungan".
"Setuju, jangan melakukan pengalihan isu (maaf) yang 'kampungan'. Bali 'benyah latig' secara alam, etika moral, teladan kepemimpinan. Itu musuh besar kita bersama, bukan mengembangkan sikap 'memuduh' dan sejenisnya," ungkapnta.
Upaya itu agar krama Bali "jagra", sadar dari aneka rupa jebakan "batman" politik yang membuat bersama semakin menderita. "Suksma Bro Sutarya untuk sikap cerdas- kritisnya," bebernya.
Ditambahkan, secara falsaf memimpin memberikan "batu penjuru" untuk menatap dan menciptakan masa depan.
Bukan kembali ke masa lalu, karena masa lalu tidak akan pernah kembali. Kearifan waktu Tri Semaya, Atitha (masa lalu), kearifan masa lalu, untuk menciptakan masa depan (Nagatha), melalui langkah-langkah nyata berbasis viveka (kecerdasan pembeda) di hari-hari ini (Warthamana).
Kearifan manajemen waktu kehidupan telah memberikan rujukan kehidupan yang jelas. Jangan membalikkan arah jarum jam sebagai sebuah kesia-siaan.
Banyak tradisi Bali berasal dari tradisi agraris pertanian, yang mesti secara bijak dilakukan penyesuaian di di era 'Internet is every things'dengan kecerdasan buatan, AI (Akal Imitasi) yang merupakan keniscayaan.
"Kita mesti cerdas merespos perubahan, bukan dengan menolaknya (denial) untuk kembali ke masa lalu yang harus kita tinggalkan," ujarnya.
Sudah menjadi kesepakatan umum di era disrupsi perubahan, mereka yang mampu bertahan (survival of the fittest) adalah mereka yang cerdas merespons perubahan. (GAB/001)