Bali Banjir Lagi; Risiko Banjir Bandang Sasih Kaulu Februari 2026, Apa Program Mitigasi Bencana Pemda Bali?
Admin 2 - atnews
2025-12-27
Bagikan :
Ekonom Jro Gde Sudibya (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Ekonom Jro Gde Sudibya yang juga Pengamat Ekonomi dan Lingkungan kembali menyoroti genangan dan banjir di Bali menjelang Tahun Baru 2026, Sabtu (27/12).
Pasca banjir bandang 10 September 2025. Banjir kembali menimpa Kawasan Pariwisata Sanur hingga Nusa Dua di tengah narasi "Bali Sepi" karena isu banjir, sampah, alih fungsi hingga macet, khususnya di media sosial.
Namun Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana memastikan kunjungan wisatawan ke Bali tidak sepi sepanjang 2025 hingga periode Natal dan Tahun Baru 2026.
Sedangkan Menpar mengakui ada sedikit penurunan kunjungan sekitar 2 persen yang didominasi oleh wisatawan nusantara. Hal itu disampaikan dalam konferensi pers di Pondok Indah Mall 1, Jakarta Selatan, Jumat (26/12).
Jro Gde Sudibya mengatakan, sekarang tinggal slogan respek pada alam, respek pada kehidupan.
Tetua Bali dulu bangga menjadi petani, merawat alam dengan suka cita, mengambil sari dari alam untuk merawat kehidupan berkelanjutan dengan peningkatan kesejahteraan terukur.
"Sekarang, hampir sebagian besar anak muda enggan menjadi petani dan bahkan menghindarinya," bebernya.
Bahkan tanah begitu mudah dijual, digadaikan, dikontrakkan tanpa rasa bersalah dan bahkan bangga untuk kemajuan ekonomi materialistik hedonis.
Upaya menyelamatkan Subak sekadar slogan yang kemudian terserap di Karang Suwung. Sebagaimana terjadi pelanggaran pembangunan liar di Kawasan Subak Jatiluwih dan sekitarnya yang diakui WBD oleh UNESCO.
Bahkan hilangnya segel resmi Pol PP Line yang sebelumnya dipasang oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Bali di sejumlah lokasi strategis menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas pengawasan di lapangan.
Terbaru segel tersebut diketahui terpasang di Billy's Restaurant & Villas, Desa Senganan, Kabupaten Tabanan.
Parahnya lagi, di lokasi itu dilakukan Upacara Mlaspas artinya upacara pembersihan dan penyucian terhadap bangunan baru, yang selesai dibangun, untuk ditempati beraktivitas, dalam tradisi Hindu Bali.
Menariknya lagi, kawasan pembangunan Billy's Restaurant & Villas, sebelumnya berdiri wisata Jati Harum Luwak Kopi, Banjar Soka Kawan, Desa Senganan.
Tempat usaha tersebut tidak berizin, telah ditutup oleh Pemerintah Tabanan. Setelah dilakukan sidak gabungan DPRD Tabanan pada Juni 2017.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi mengaku akan menggali awal Januari 2026. "Januari awal kita panggil," singkat kepada awak media bertepatan pada Hari Raya Natal 2025 di Denpasar, Kamis (25/12).
Sementara itu, kondisi di tingkat nasional "sekali tiga uang". Menurut jurnalisme data Kompas, selama 34 tahun 1990 - 2024 penebangan hutan di Sumatera seluas 1,2 juta hektar setara 2 kali luas pulau Bali.
Konversi lahan untuk industri sawit 690.777 ha, HTI 69,773 ha, perkotaan 9.666 ha, tambang 2.160 ha. Sisanya untuk pertanian, hutan bakau dan karamba.
Hutan lindung, taman nasional dibabat untuk industri, terjadi bencana ekologi yang dashyat.
Bali "setali tiga uang" tutupan hutan tinggal 18 persen. Pasca banjir bandang 10 September 2025, terbuka kotak pandora Bali memasuki darurat dan krisis lingkungan, Bali "benyah latig".
Lihat saja kondisi sekitar danau dan Gunung Batur, kawasan dari Labuan Sait - Bukit Uluwatu, kondisi semua DAS, kawasan Dalem Nusa - Goa Giriputri - Puncak Mundi. Tidak terbayangkan skala bencana sasih kaulu Februari 2026. Ada yang peduli? (Z/002)