Refleksi Raina Buda Kliwon Pahang,
Kemunafikan Fenomena Umum Manusia Zaman Now
Admin - atnews
2025-12-24
Bagikan :
Jro Gde Sudibya (ist/Atnews)
Oleh: Jro Gde Sudibya
Hari ini, 24 Desember 2025, raina Buda Kliwon Pahang, sasih Kepitu, sasih "ngenjek" Dewa, "aed upakara terakhir yasa kerthi" raina Galungan - Kuningan.
"Yasa kerthi" yang bercirikan: pengendalian diri, merawat kejujuran diri, mengasah empati ke sesama, terlebih-lebih pada mereka yang serba kekurangan, "nyiksik bulu" untuk memperbaiki kekurangan diri di dunia maya ini yang sarat dengan hukum Rwa - Bhineda, sebagai "bekel mulih ke Desa Wayah" dan juga warisan"sesuduk kayun" bagi generasi berikut.
Tetapi realitas sosialnya banyak yang "nyaplir", "antara bumi dengan langit", wacananya tinggi "nyujuh sunya loka"tetapi prilakunya memalukan secara etika moral.
"Tilar ring sesana", nitya wacana" dan bahkan menyebarkan racun dan toksik dalam konten komunikasi. Kebohongan, fitnah, ekspresi iri hati dalam relasi sosial.
Licik, kelicikan menjadi fenomena umum pada sebagian manusia zaman Now. Ekspresi dari "dasa muka" sebut saja karakter: mementingkan diri sendiri, "pongah juari", munafik, manipulatif, menggunakan orang lain sebagai alat kepentingan diri, nir empati dan bahkan kejam dalam relasi antar manusia.
Memuja benda, kepentingan dan kekuasaan, dengan motif kepentingan jangka pendek, nyaris tidak lagi mengenal perspektif masa depan, untuk mengisi perut, keinginan dan keserahan yang tidak ada batasnya.
Fenomena yang tampak nyata dalam konten komunikasi para pendengung, memaki-maki, menyebar fitnah, merendahkan, yang menurut ungkapan orang Buleleng "jleme buduh sing nyandang timpalin".
Gambaran dari begitu merosotnya peradaban, meminggirkan akal sehat, menafikan etika publik, "membasmi" rasa saling percaya, TRUST. Padahal Rasa Saling Percaya merupakan modal sosial penting dalam hubungan sosial, masyarakat dalam membangun peradaban.
Terjadi fenomena umum yang rada aneh, mereka yang semestinya menjadi kalangan intelektual yang memberikan pencerahan, "menyinari" dari kegelapan kemunafikan tetapi tetap berdiam diri dan kesannya takut dalam menjalankan misi "Kenabian". Kepentingan begitu berkuasa terhadap semua orang termasuk mereka yang semestinya bijak "Sang Wikan".
*) Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.