Oleh Jro Gde Sudibya
Politisi muda Partai Demokrat dari sayap sosialis Zohran Mamdani (34) terpilih sebagai Walikota New York, Imigran India yang datang dari Uganda dengan Ayah Gujarati- Muslim dan Ibu Punjabi-Hindu.
Politisi muda yang melawan arus: melawan kekuatan dominasi oligarki yang nyaris menguasai perpolitikan kota New York dan dominasi lobi Yahudi yang perkasa tidak saja di New York tetapi di hampir seluruh lanskap politik AS.
Prilaku politik yang tidak pragmatis, tidak membebek kekuatan pemodal dan tidak menjadi "kacung" dari para cukong, yang membuat politik stagnan memihak mereka yang mapan, sehingga masyarakat pekerja yang merupakan mayoritas warga kota New York, tetap menjadi "pelengkap penderita" dalam kemegah-meriahan kota New York yang menjadi simbol dari kejayaan kapitalisme.
Dengan kemampuan "personal-political banding" yang cerdas nan piawai, popularitas menanjak tinggi dalam satu tahun terakhir, memenangkan pertarungan, termasuk dipilih oleh 30 persen warga Yahudi yang sebelumnya dinilai berseberangan dengan ide "keras" dari kampanye Mamdani. Prestasi politik yang luar biasa dari politisi muda yang melawan arus.
Keunggulan dari kampanye Mamdani tentang Amanat Penderitaan Rakyat bagi warga kota New York yang mayoritas kelas pekerja. Agenda politiknya terbungkus dalam kata "Affordability",Keterjangkauan, menciptakan kehidupan kota New York yang bisa dijangkau oleh mayoritas warga kota yang sebagian besar kelas pekerja.
Kelas pekerja yang dihadapkan ke persoalan ke seharian kehidupan, hidup pas-pasan dalam kehidupan kota yang semakin mahal. Mamdani dalam kampanyenya menjawab persoalan riil kehidupan para pekerja, melalui sejumlah program: pengendalian harga kebutuhan pokok, sewa perumahan yang terjangkau, "universal child care" layanan penitipan anak untuk mendukung pendidikan anak akan digratiskan.
Transportasi publik dibenahi, membuat pelayan bus di kota New York menjadi lebih cepat dan tanpa bayar. Mengenakan pajak tinggi bagi para multi miliader yang sekarang hidup keenakan di kota New York karena beban pajak yang rendah. (Firman Noor, Kompas, 6 November 2025).
Tantangan bagi para politisi muda Bali meniru pola keberhasilan Zohran Mandani, dengan dari Spirit Puputan Margarana:
a) Punya nyali, keberanian untuk tidak sekadar "membebek", menjadi "parekan"dari pemimpin partai yang punya kecenderungan feodal dan juga otoriter. Sampaikan pemikiran brilian, berani dan segar sebagai bentuk empati terhadap Amanat Penderitaan Rakyat. Kalau Gusti Ngurah Rai dkk.dalam pasukan Ciung Wanara berani bertempur habis-habisan dengan semangat Puputan, politisi muda Bali semestinya meniru keberanian dan sikap trengginas dari pasukan Ciung Wanara.
b) Bangunlah karier dari akar rumput, sebagai politisi pedagog, pendidik rakyat terhadap hak dan kewajibannya dan berjuang bersama mereka.
c) Kerja politik merupakan panggilan kehidupan, sebagaimana diteladankan oleh para pendiri bangsa, dan kerja politik adalah keutamaan (political virtue).
d) Racun dalam kehidupan politik KKN tidak saja harus dijatuhi, tetapi juga harus dilawan. Zohran Mamdani (34) telah membuktikan itu dan mengukir sejarah tidak saja bagi kota New York tetapi bagi banyak tempat di belahan bumi lain yang teguh, berani dan trengginas dalam membela nilai-nilai demokrasi.
*) Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi politik dan kecenderungan masa depan.