Oleh Ashwini Guruji dari Dhyan Ashram
Navratri muncul dua kali dalam setahun dan menandai pergantian musim, dari dingin ke panas dan dari panas ke dingin. Menurut ayurveda, pada periode ini kita dianjurkan mengkonsumsi makanan bergizi dan dalam jumlah sedikit untuk membersihkan tubuh dari racun yang menumpuk selama musim hujan.
Navratri yang berlangsung selama sembilan malam dan sepuluh hari ini dipenuhi dengan energi dari sepuluh wujud shakti– shailaputri, brahmcharini, chandrakanta, kushmanda, skandmata, katyayani, kaalratri, mahagauri, siddhidatri dan aparajitha. Setiap navratra memiliki tujuan tersendiri. Selama navratra, terjadi perubahan cuaca di mana berbagai energi dalam alam semesta bergerak dari keadaan tidak seimbang menuju keseimbangan baru, termasuk energi di dalam tubuh kita.
Selama sembilan hari ini, prana shakti dalam tubuh kita menjalani proses penyelarasan kembali, yaitu dari kondisi tidak seimbang menuju keseimbangan baru untuk menyambut musim yang baru.
Selama proses penyelarasan ini berlangsung, tubuh perlu dijaga agar tetap ringan. Oleh karena itu, para leluhur kita menganjurkan berpuasa atau upvaas selama sembilan hari ini. Upvaas memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar menahan diri mengkonsumsi jenis makanan tertentu.
Di Dhyan Ashram, para sadhak menjalankan upvaas dalam makna yang sesungguhnya, yaitu meninggalkan kesenangan duniawi untuk menjalani laku spiritual selama sadhana. Hal ini dilakukan dengan menjaga kesucian, mengkonsumsi makan hanya untuk energi bukan demi kenikmatan indera, menaati niyam (aturan sadhana) yang diberikan Guru—baik berupa mantra, dhyan (meditasi), atau praktik tantrik—di mana seluruh indera dikendalikan dengan ketat dan fokus sepenuhnya diarahkan kepada ishta-deva (dewa yang dipuja), dengan seluruh pikiran dan tindakan selama Upavaas didedikasikan hanya untuk ishta deva. Amal dan pelayanan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari sadhana ini. Selama navratra, puasa dijalankan bukan hanya untuk pemurnian fisik, melainkan juga pemurnian etherik (energi halus).
Selain berpuasa, ada pula mantra-mantra tertentu yang dilantunkan pada hari-hari tersebut untuk proses detoksifikasi tubuh secara menyeluruh. Bagi pemula, sembilan hari ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing tiga hari, yang berhubungan dengan tiga bagian tubuh: area di bawah pusar, antara pusar dan bahu, serta kepala bagian atas. Ketiga bagian ini terkait dengan energi Dewi Saraswati, Dewi Lakshmi, dan Dewi Durga. Kesembilan dewi yang ada berasal dari tiga dewi tersebut, yang pada dasarnya berakar pada Adi Shakti. Tiga bagian tersebut kemudian masing-masing terbagi lagi menjadi tiga, sehingga secara keseluruhan tubuh terbagi menjadi sembilan bagian.
Pada tiga hari pertama, seorang sadhak berhenti mengkonsumsi makanan pedas dan melaksanakan havan (homa) pada waktu sandhaya pagi dan sore, sambil melantunkan mantra pemanggilan Ma Durga. Biji wijen hitam (kala til) dan mentega sapi murni (ghrit) diberikan sebagai persembahan, sementara kotoran sapi lokal (upla) dan kayu palash (samedha) digunakan dalam ritual. Tiga hari berikutnya, sadhak berhenti mengkonsumsi anna (makanan berbahan dasar biji-bijian) dan hanya makan makanan ringan untuk menjaga tubuh tetap ringan. Havan untuk Ma Lakshmi dilakukan pada dua waktu sandhya dengan mempersembahkan manisan bersama mentega sapi murni (ghrit). Pada tiga hari terakhir, sadhak hanya mengkonsumsi air dan jus (susu bahkan tidak dikonsumsi karena dianggap sebagai produk hewani). Havan untuk Ma Saraswati dilakukan pada dua waktu sandhya dengan mempersembahkan ghrit dan guggal (resin aromatic seperti kemeyan). Pada hari ke-10, sadhak menjalani puasa penuh, dan kembali memanggil Ma Durga atau Ma Kali. Hal ini berkaitan dengan keyakinan bahwa pada hari itu, Ravan pernah memanggil Ma Kali, sementara Ram memanggil Ma Durga. Proses inilah yang membawa penyelarasan kembali yang diperlukan. Setelah itu, sadhak melanjutkan sadhna dan melantunkan mantra-mantra khusus sesuai petunjuk Gurunya. Melalu yog sadhna, seluruh energi yang dipanggil akan mengalir kepada sadhak. Navratra merupakan waktu untuk mempersiapkan tubuh agar mampu menerima energi baru dari musim yang akan datang. Selama sembilan hari, tubuh diselaraskan kembali, dan pada hari ke-10 barulah energi baru diterima.
Sebagian besar orang meringankan tubuhnya dengan berpuasa selama sembilan hari, namun justru membuatnya berat kembali pada hari ke-10 dengan berbondong-bondong ke restoran dan toko minuman keras. Ini seperti membersihkan kamar, lalu membawa kembali semua sampah ke dalamnya. Puasa atau teknik serupa hanya akan membuahkan hasil jika dilakukan dengan sikap melepaskan keterikatan, demi pertumbuhan diri. Seorang Guru mengetahui kapasitas muridnya dan akan menentukan bentuk puasa yang sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, sangat penting menjalani puasa bersamaan dengan praktik yoga seperti Sanatan Kriya, di bawah bimbingan seorang Guru, agar manfaatnya dapat diraih secara maksimal.
*) Ashwini Guru Ji adalah energi dan inspirasi di balik berbagai inisiatif Dhyan Foundation. Beliau merupakan Cahaya Penuntun bagi Dhyan Foundation dan seorang pakar dalam ilmu-ilmu Weda. Bukunya, Sanatan Kriya, The Ageless Dimension, Adalah tesis tentang anti-penuaan yang telah diakui. Dhyan Foundation menyelenggarakan sesi Sanatan Kriya secara rutin di berbagai belahan dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.dhyanfoundation.com atau kirim email ke dhyan@dhyanfoundation.com.