Oleh Jro Gde Sudibya
Tanggal 7 September 2025, raina Purnama Ketiga nemu Raina Banyu Pinaruh, Icaka 1947. Dalam realitas sosial yang sedang berkembang, bergema "Suara Kenabian" dari relung hati rakyat, pemilik sah dari kedaulatan rakyat, dalam ungkapan "17 ditmbah 8 Tuntutan Rakyat".
Tuntutan Rakyat yang merupakan ulangan dari Gerakan Reformasi 27 tahun lalu, yang telah gagal dilakukan oleh tuan dan penguasa selama ini. Telah terjadi kegagalan kepemimpinan dari perspektif Gerakan Reformasi, Cita-Cita Bangsa sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
Mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan keadilan sosial. Yang sejahtera dan memperoleh limpahan keadilan, adalah para elite, tuan dan penguasa , sedangkan massa rakyat tetap menjadi kaum pinggiran sebagai "pelengkap penderita".
Dalam konteks krisis berbangsa dewasa ini, Monumen Bajra Sandi di Niti Mandala Renon, yang oleh penggagasnya Gubernur Mantra, sebagai simbol kepemimpinan berbasis spiritualitas. Dalam bahasa yang lebih terang, kepemimpinan yang berbasis kekuatan Tuhan Swayambu, "ngider bhuwana" 380 derajat, "ring Palebahan Gumi Bali", yang disimbolikkan dengan bunga Padma berkelopak 8, yang berada di 8 penjuru Angin Bali, sebagai ekspresi kekuatan Tuhan Siwa.
Sejarah filosofi, spirit kepemimpinan yang "titik berangkat bergerak" dari Kaja Kangin menuju Timur (Tuhan Iswara ), Tenggara (Tuhan Maheswara), Selatan (Tuhan Brahma) dan seterusnya, "ngider bhuwana" 360 derajat, untuk tiba kembali ring Airsanya (Kaja Kangin) Tuhan Swayambu.
Gelising cerita, dalam tafsir ke kinian, kepemimpinan berbasis spiritualitas, mengekspresikan spirit kepemimpinan yang mempunyai kemampuan Viveka, kecerdasan pembeda dalam menyimak, memilih, membedakan "hukum besi"Rwa Bhineda Kehidupan.
Dalam perspektif kepemimpinan, kecerdasan Viveka ini, melahirkan tidak saja kecerdasan dan juga sikap bijak berupa, pertama, mengelola perbedaan pendapat, kepentingan dan bahkan konflik kepentingan dengan cara bijak dan bermartabat, jauh dari prilaku tercela menghalalkan semua cara.
Kedua, kepemimpinan adalah kesempatan emas untuk membayar hutang karma, karena kelahiran ke dunia yang maya ini, merupakan sebuah "hukuman", hukuman yang harus dilunasi melalui karma baik tanpa pamrih dan tanpa keterikatan.
Ikutannya pemimpin yang memegang teguh Dharma dan swadharmanya. Ketiga, karena "titik berangkatnya" Kaja Kangin "mulih ke jati mula" ring Airsanya, Dharma kepemimpinan sebagai instrument diri penting untuk mencapai "lontaran"rokhani kebebasan rohani, moksha, di sini, di dunia yang maya ini.
Pesan filsafat kepemimpinan yang sarat dan kaya makna. Pesan kepemimpinan yang kurang lebih sama, dari raja Gunapriya Dharmapatni - Udayana Warmadewa, yang simbolnya berbentuk Lingha tersimpan apik nan rapi ring Pura Gunung Kawi, "uluning"Tukad Pakerisan, Tampak Siring yang hari ini "keaturan bhakti piodal".
*) Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, pembelajar peradaban dan kebudayaan Bali.