Denpasar (Atnews) - Pengelana Global Putu Suasta Alumnus UGM dan Cornell University mengatakan, umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Suci Saraswati setiap enam bulan.
Ilmu pengetahuan yang agung disimbolkan dalam wujud Dewi Saraswati. Perayaannya dilakukan setiap enam bulan sekali (dengan memakai perhitungan bulan Bali yang berumur 35 per bulan) dan jatuh setiap hari Sabtu (Saniscara).
Masih dalam rangkaian hari Saraswati adalah Pagerwesi, jatuh pada hari Rabu. Semua umat di Bali, terutama pelajar, mahasiswa, guru/dosen dan kaum intelektual,merayakannya dengan khusuk dan kidmat. Semua buku dan bacaan lain pada hari itu didoakan (diupacarai dengan berbagai bunga yang disebut canang) dan dupa. Saraswati adalah perayaan untuk ilmu pengetahuan bagi orang Bali dengan memberi makna khusus pada pengupacaraan buku dan segala macam bacaan.
Saraswati (Sarasvatī) dalam bahasa Sanskerta adalah dewi pengetahuan, musik, seni, kebijaksanaan, dan pembelajaran Hindu .
Saraswati adalah bagian dari trinitas (Tridevi ) Saraswati, Lakshmi dan Parvati. Ketiga wujud tersebut membantu trinitas Brahma, Visnu, dan Siwa untuk menciptakan, memelihara, dan menghidupkan kembali Alam Semesta .
Kata paling awal yang diketahui untuk Saraswati sebagai dewi ada di Rigveda. Manifestasinya tetap menjadi simbul Dewi dari zaman Weda hingga zaman tradisi Hindu modern. Beberapa umat Hindu merayakan festival Vasant Panchami (hari kelima musim semi, kalender Magha (lunar), dan juga dikenal sebagai Saraswati Puja dan Saraswati Jayanti di banyak wilayah India) untuk menghormatinya, dan menandai hari itu dengan membantu anak-anak belajar cara menulis huruf abjad pada hari itu.
Bahkan Dewi Saraswati juga dihormati oleh penganut Jain dari India barat dan tengah serta beberapa sekte Budha.
Dalam umat Hindu, pendidikan menjadi perhatian serius sejak kuno, karena memiliki peranan yang amat besar dalam memberikan pengetahuan kepada umat manusia baik untuk kehidupan di dunia material (bumi) dan alam rohani (spiritual).
Bahkan, pendidikan dianggap sakral sejak dahulu, sebuah kutipan Sanskerta kuno mengatakan "Swagruhe Pujyate Murkhaha; Swagraame Pujyate Prabhuhu Swadeshe Pujyate Raja; Vidvaansarvatra Pujyate" artinya (Orang bodoh disembah di rumahnya. Seorang pemimpin disembah di kotanya. Seorang raja disembah di kerajaannya. Orang yang berilmu disembah di mana-mana).
Sebagaimana diuraikan dalam Bhagavadgita 4.38. Di dunia ini, tiada sesuatupun yang semulia dan sesuci pengetahuan yang melampaui hal-hal duniawi. Pengetahuan seperti itu adalah buah matang dari segala kebatinan. Orang yang sudah ahli dalam latihan yoga menikmati pengetahuan ini dalam Diri-Nya setelah beberapa waktu.
Kebodohan menyebabkan ikatan dan pengetahuan menyebabkan pembebasan.
Ditekankan dalam Bhagavadgita 4.38. Orang yang bodoh dan tidak percaya yang ragu-ragu tentang Kitab-kitab Suci yang diwahyukan, tidak akan mencapai kesadaran terhadap Tuhan Yang Maha Esa; melainkan mereka jatuh. Tidak ada kebahagiaan bagi orang yang ragu-ragu, baik di dunia ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang.
Karena itu, keragu-raguan yang telah timbul dalam hatimu karena kebodohan harus dipotong dengan senjata pengetahuan. Wahai Bhārata, dengan bersenjatakan yoga, bangunlah dan bertempur. Hal itu ditekankan dalam Bhagavadgita 4.42.
Sedangkan dalam Ginada adalah jenis pupuh, tembang Bali yang tak lekang oleh waktu. Ia bukan saja indah di lagu, juga luhur dalam hal makna. Sebagai tembang pupuh, Ginada tak sendiri. Ada jenis yang lain seperti pupuh Sinom, pupuh Pucung, pupuh Ginanti dan bebrerapa yang lain. Semua punya cengkok irama yang tak sama, namun keluhuran maknanya setara. Pupuh menawarkan kekhasan irama, menawarkan kesyahduan dan kearifan makna yang terasa sangat lokal namun sesungguhnya—jika didalami secara literatif—ia bisa berlaku universal.
Salah satu tembang Ginada yang sangat terkenal ialah bersangkutan dengan kerendahan hati dalam mencari tahu tentang ilmu pengetahuan, tentang mendalami arti diri dan kehidupan, tentang menjauhi kesombongan. Tembang itu dibuka dengan: Ede ngaden awak bisa, dan diakhiri dengan: enu liu papelajahang.(jangan menganggap diri pintar, banyak yang perlu dipelajari di kehidupan ini)
Generasi 60-an hingga 70-an di Bali sangat hapal dengan tembang Ginada tersebut. intinya, tembang tersebut menyuratkan kerendahan hati di depan keagungan ilmu pengetahuan dan karena itu jangan merasa sudah menguasai semuanya.
Sementara rasa hormat orang Bali pada ilmu dengan memberi perhatian khusus pada buku tidaklah sendirian. Dunia juga memberi perhatian pada buku dengan menetapkah Hari Buku setiap 23 April.
Di zaman Yunani, kesadaran pada teks sebagai medium pencatatan pemikiran-pemikiran para filsuf dan cendekia menjadi perhatian utama ketika itu. mereka meyakini pepatah Latin yang berbunyi verba volan scripta manent (yang diomongkan sirna, yang dicatat/ditulis abadi). Demikian pula India yang meletakkan segala filsafat dan agamanya di jalan sastra. Maka, secara historis, kedudukan ilmu menjadi sangat penting dalam perjalanan sejarah umat manusia.
Hal menakjubkan ialah bahwa orang Bali, yang sehari-hari dikenal sebagai petani, mempunyai kearifan juga memberi rasa hormat kepada ilmu pengetahuan dalam bentuk perayaan hari Saraswati. Hari yang agung untuk ilmu pengetahuan ini, bagi orang Bali, bukan sekadar menyangkut cakepan (buku dan bentuk bacaan lain), tetapi juga melibatkan ke dalamnya ialah relevansi moralitas dalam ilmu. Bagi cendikian Bali, ilmu pengetahuan bukan dipahami sekadar bangku sekolah dan keterampilan, melainkan lebih dalam dari sekadar itu.
Bagi manusia Bali, dasar ilmu pengetahuan ialah moralitas. Belajar dan bekerja dengan kemampuan keterampilan yang dipunyai (bertani, melukis, menggambar, keahlian arsitektur dan lain-lain) adalah pertama-tama untuk rasa bakti, bahagia, bersahaja.
Secara sosiologis, hal itu terciri dari kehidupan orang Bali masa lalu. Tidak ada kesombongan sekalipun mereka menguasai beberapa keterampilan (melukis, undagi, menari, bermusik); tidak ada sikap yang berlebihan dalam pergaulanan antar mereka maupun kepada orang lain. Keahlian dan keterampilan yang mereka miliki bukanlah segalanya, mereka merasa masih jauh dari yang dipujikan kepada mereka. lirik awal dari pupuh Ginada: ede ngaden awak bisa, terlahir dari sikap manusia Bali ini.
Inilah sesungguhnya bentuk kearifan yang paling indah dalam kedudukan manusia di depan ilmu pengetahuan. Dan leluhur orang Bali yang telah lama memahami hal ini. Mereka "mencatat" kearifan-kearifan itu dalam bentuk lagu, lontar dan literasi lisan, diwariskan dalam lagu tembang setiap malam atau upacara-upacara, menyimpan dalam lontar-lontar yang kelak dikaji para cendekia Bali, dituturkan dalam tradisi masatua (bercerita) oleh kakek/nenek sebelum anak-anak tidur. Dan pupuh Ginada menutup kearifan itu dengan lirik: enu liu papelajahanang (masih banyak yang harus dipejalari). Keutamaan ilmu bagi orang Bali adalah bhakti, sebagai bentuk sujud tertinggi kepada Dewi Saraswati yang merupakan manifestasi Tuhan dalam "Dewi Ilmu Segala Ilmu”.
Tetapi segala hal berubah. Tak ada yang menetap kecuali yang tercatat. Hari Saraswati juga selalu tercatat dalam ingatan dan sekarang dalam kalender Bangbang Gde Rawi.
Tetapi kita kini hanya sekadar merayakan hari Saraswati dan setelahnya kembali melangsungkan hidup dalam era gadget, smartphone, laptop dan segala modernitas fisik. Tak ada yang salah karena hal itu sudah ada dan terjadi hari ini. Hanya sayang bahwa ada hal-hal yang disebut di atas "menjebak" kita untuk menjauhi daya kontemplasi, yang vital dalam mengejar ilmu pengetahuan dan mengabaikan ketahanan intelektual.
Ironis bahwa kecepatan kemajuan teknologi informasi justru menjauhkan kita dari sikap gairah belajar, mematikan kuriositas akan pengetahuan, merenggangkan tata adab pergaulanan dan sikap mawas diri.
Teknologi informasi yang menawarkan produk-produk seperti WhatsApp, facebook, twitter dan banyak lagi, merampas hampir seluruh waktu senggang dan kerja kita, melupakan dunia nyata dan mengutamakan dunia maya. Ini sesungguhnya kelengahan yang sangat fatal dan jika hal itu terus terjadi, maka generasi hari ini akan sulit diharapkan untuk dapat menjadi generasi harapan di masa mendatang.
Sejumlah studi dari berbagai belahan negeri telah banyak menunjukkan hasil penelitiannya betapa dunia maya itu menyihir dan cenderung membodohkan.
Mereka tak bisa lagi membagi waktu yang seimbang untuk kesenangan di dunia maya dari dunia nyata. Ilusi dunia maya demikian memabokkan dan merampas begitu banyak waktu belajar generasi muda khususnya.
Dan jangan pula ditanya pengaruh-pengaruh "keberuntungan" ekonomi seperti Bali yang dimanjakan oleh kemakmuran turisme Bali. Maka sesungguhnya generasi muda Bali hari ini khususnya benar-benar sedang dihadapkan pada tantangan yang mengancam kualitas intelektual mereka nantinya, mengancam pula kutamaan adab yang telah tertanam dalam kearifan leluhur.
Maka, gerakan spiritual Hari Saraswati bukan saja perlambang turunnya ilmu penghetahuan ke dunia, melainkan juga semacam "teguran dari seorang Dewi Pengetahuan" tentang seberapa agung kita memperlakukan ilmu pengetahuan dalam hidup kita. Sudahkah ilmu kita pelajari dengan benar? Sudahkah pengetahuan memperbaiki cara kita berpikir? Sudahkah ilmu pengetahuan menuntun akal budi dan pekerti kita menjadi lebih baik ?
Berbahagialah mereka yang merayakan Hari Saraswati dengan kesadaran baru untuk Maju, menjawab tantangan perubahan global. Secara tradisional dilakukan persembahyangan kidmat, namun juga tiada henti belajar dan menggali ilmu pengetahuan di luar dan di dalam dirinya. Ketika mereka berhasil melakukan hal itu, maka mereka pantas merayakan Pagerwesi, rangkaian dari Hari Saraswati yang secara filosofis dan spiritual berarti: ketahanan yang kuat dalam intelektual dan ketahanan yang indah dalam aspek kerohanian/spiritual.
Disamping itu, pendidikan sungguh-sungguh diperhatian sejak era Rāmāyaṇa dan Mahābhārata yang merupakan epos utama peradaban India kuno yang masuk dalam Itihasa.
Nilai dan pengaruh dari kedua epos itu memang cukup besar karena kedua epos ini memberi gambaran yang sangat jelas tentang peradaban India kuno yang sangat berkembang hingga saat ini.
"Dalam Rāmāyaṇa dan Mahābhārata kita menemukan informasi yang sangat berguna mengenai cita-cita dan institusi pendidikan, hal ini penting bisa didiketahui dalam menambah wawasan dalam memajukan pendidikan," kata Putu Suasta di Jakarta, Jumat (5/9).
Dalam Rāmāyaṇa dan Mahābhārata, sudah ada memiliki sistem penerimaan dan masa kemahasiswaan.
Pada masa usia tersebut pengenalan pertama siswa terhadap pendidikan dimulai melalui upacara Vidyārambha . Upacara ini dikenal sebagai upacara Upākrama pada zaman Rāmāyaṇa dan Mahābhārata.
Setelah pertunjukan upacara itu, murid tersebut memulai studi Veda mereka. Dalam Mahābhārata Pāṇḍava memulai studi Veda mereka setelah melakukan upacara Upākarma atau Vidyārambha.
Namun sebenarnya pendidikan para murid baru dimulai setelah dilaksanakannya upacara Upanayana. Dalam Rāmāyaṇa, Rāma dan saudara tirinya memulai pendidikan mereka setelah upacara Upanayana.
Dijelaskan Śhānti Parva dari Mahābhārata disebutkan bahwa setelah pelaksanaan upacara Upanayana para putra Brāhmaṇa memulai pendidikan Veda mereka. Dṛtarāstra, Pāṇḍu, Vidura juga memulai pendidikannya setelah pelaksanaan upacara Upanayana.
Pada usia tersebut, masa kemahasiswaan juga tersebar selama dua belas tahun. Mahābhārata menyebutkan bahwa sampai usia dua puluh lima tahun Brahmacāri dapat melanjutkan studinya.
Sedangkan para Naiṣṭhika Brahmacāri mengabdikan seluruh hidup mereka untuk mengejar pengetahuan. Untuk mengejar ilmu, siswa ideal bernama Utaṅka yang menyebarkan sebagian besar hidupnya di rumah pembimbingnya.
Pada masa sebelumnya disebutkan bahwa setelah upacara Upanayana, murid tersebut biasanya tinggal di bawah naungan pembimbingnya. Itu adalah syarat pertama mereka menjadi pelajar.
Beberapa siswa tinggal bersama pembimbingnya dan beberapa siswa di bawah bimbingan guru yang ditunjuk setelah upacara Upanayana.
Dalam Ādi Parva Mahābhārata, pihaknya mendapatkan kisah tentang pendidikan Korawa dan Pāṇḍava.
Mahātmā Bhīṣma membawa sarjana Veda Droṇācārya ke tempatnya dan memintanya untuk mendidik cucu-cucunya dalam perilaku dan peperangan yang benar.
Jadi pada zaman itu tidak diwajibkan bahwa setiap orang harus tinggal di rumah pembimbingnya. Namun sebagian besar siswa bersekolah di bawah bimbingan Guru yang tinggal bersama mereka di tempat tinggal mereka. Ini adalah praktik umum.
Tetapi Shri Rāma setelah Upanayana tinggal bersama pembimbingnya dan menyelesaikan pendidikannya.
Bhīṣma, Guru Droṇācarya Raja Draupad juga tinggal di rumah pembimbingnya untuk pelatihan yang tepat.
Mengenai tugas siswa, pada masa Rāmāyaṇa dan Mahābhārata juga disebutkan bahwa, seorang siswa yang ideal selalu mengabdi pada gurunya.
Dia mematuhi semua peraturan dan perilaku gurunya. Dia selalu bangun pagi-pagi dan tidur setelah pembimbingnya. Setiap pagi dan sore dia harus melakukan pemujaan Sandhyā.
Dengan tubuh yang bersih ia memulai kursus hariannya. Beliau biasa meminta sedekah kepada pembimbingnya dan menjaga rumah serta ternaknya.
Dia juga mengendalikan indranya dan menghindari mado, moha, dan capalatā. Ia biasa menghindari madu, parfum, karangan bunga. Selain itu, mereka juga menghindari kebersamaan dengan wanita.
Melalui prāyaścita yang tepat dia memurnikan jiwanya. Inilah beberapa tugas penting dan batasan kesiswaan di zaman Rāmāyaṇa dan Mahābhārata. Tanpa tugas dan batasan ini, tidak seorang pun dapat menerima pelatihan atau pendidikan yang layak.
Rāmāyaṇa dan Mahābhārata memberikan silabus rinci dari berbagai mata pelajaran. Pada zaman Veda, Ānvīṣikī, Vārttā, Dandaṇīti, merupakan subjek studi utama.
Selain itu banyak mata pelajaran lain seperti Yuktiśāstra, Śabdaśāstra, Gandarvaśāstra, Purāṇa, Itihāsa, Ākhyāna , dan Kalāvidyā dimasukkan dalam kurikulum.
Pada masa spesialisasi usia, mata pelajaran apa pun adalah wajib karena semua kelompok kasta memiliki kurikulum khusus yang sesuai dengan pekerjaan mereka.
Para Brāhmaṇa adalah pendetanya. Mereka mempelajari semua mata pelajaran. Namun mereka dilatih secara khusus dalam Veda. Para Kṣatriya adalah penguasanya. Mereka wajib mempelajari pendidikan militer, seni memanah, Dhanurveda ”.
Rāmāyaṇa berisi referensi tentang pelatihan militer putra Raja Daśarata selama masa kanak-kanak mereka. Seperti halnya dalam Mahābhārata kita juga menemukan pelatihan militer Korawa dan Pāṇḍava.
Guru Droṇācārya memberikan pendidikan kepada Korawa dan Pāṇḍava dalam waktu yang sangat singkat. Para Vaiśya mempelajari semua Vārttāśāstras.
Dalam Rāmāyaṇa, pihaknya menemukan bahwa Rāma dan saudara-saudaranya sangat ahli dalam semua Śāstra. Khususnya Rāma fasih dalam Veda, Vedāṅgas, Dhanurveda, Nītiśāstra, Vartta, Itihāsa, Purāṇa, Seni militer, Puisi, Filsafat, Arthavivāga, menunggang kuda dan gajah. Ia juga seorang kusir yang ahli. Ia ahli dalam penggunaan segala jenis rudal dan senjata yang dikenal sebagai Valā dan Ativalā. Dia juga sangat mahir dalam Musik.
Dalam Mahābhārata menemukan bahwa Pāṇḍava mempelajari semua Veda , berbagai Śāstra, Nīiti, Itihāsa, Purāṇa , Panahan, dan berbagai jenis seni militer. Ācārya Droṇa mengajari mereka Dhanurveda di semua cabangnya.
Arjuna mengajarkan Abimanyu dan pangeran lainnya pada jalur yang sama. Jadi jelas bahwa Epic memperkenalkan kurikulum studi yang beraneka ragam. Namun penekanan utama diberikan pada studi ilmu militer.
Selama ini metode belajar bervariasi dari satu kelas ke kelas lainnya. Namun pembacaan dan rekapitulasi sangat populer pada periode ini.
Setiap hari siswa diharuskan menghabiskan sebagian waktunya di sekolah untuk bersama-sama melafalkan sebagian pekerjaan yang telah mereka ingat.
Sebagai hasil dari pelatihan ini, daya ingat rata-rata siswa sangat berkembang. Pada zaman Tapasyā, Svādhyāya , Debat dan diskusi masih populer.
Selain mendongeng dan mendengarkan, orang terpelajar juga sangat populer pada zamannya. Dalam Mahābhārata, Ugraśravā yang terpelajar pergi ke Naimisāranya, pertapaan Śaunaka, di mana ia menyampaikan ceramah di depan murid-murid Śaunaka tentang Brahmatattva.
Ujian praktik adalah metode lain yang sangat populer pada masa itu. Pihaknya menemukan dalam Mahābhārata bahwa Droṇācarya sering mengikuti ujian praktik, untuk menguji kualitas pendidikan siswa.
Begitu juga Sri Krishna, Balaram dan Sudama mendapat pendidikan rutin di Ashram Guru Sandipani. Ujjain dimasa lalu dan kuno, terlepas dari kepentingan politik dan agamanya, merupakan pusat pembelajaran bergengsi pada awal periode Mahabharata.
Pada masa itu, Guru juga memiliki kualifikasi moral dan spiritual tertinggi pada zamannya. Para guru umumnya disebut Ācārya dan Guru. Menemukan tiga jenis Ācārya pada masa ini, yaitu Chandovit Ācārya, Vedavit Ācārya, dan Vedyavit Ācārya. Vedavit Ācārya adalah yang utama di antara dua jenis Ācārya.
Berbagai deskripsi ditemukan dalam Rāmāyaṇa dan Mahābhārata dari Guru terkenal seperti Vasiṣṭha, Viśvāmitra, Sandīpani, Droṇa, Parasurama dan Kaṇva.
Dalam Mahābhārata menemukan beberapa kisah seperti – kisah Ekalavya , kisah Upamanyu, kisah Āruṇi dan Veda. Dari cerita-cerita ini kami menyimpulkan bahwa guru mendapat penghormatan yang tinggi pada zamannya.
Mengenai tugas guru dalam Epos juga disebutkan bahwa guru adalah penjaga kehidupan siswa. Dia mempunyai tanggung jawab moral yang sangat besar. Dia membangun kehidupan muridnya.
Mahābhārata menyebutkan bahwa orang tua hanya menciptakan tubuh anaknya saja . Namun pembimbingnya melahirkan muridnya yang baru.
Institusi pendidikan pada masa Rāmāyaṇa dan Mahābhārata sebagian besar bersifat korespondensi dengan masa sebelumnya.
Namun pada zaman pertapaan pendidikan sangat populer. Di padepokan para santri biasanya mempunyai suasana belajar yang sangat menyenangkan.
Rāmāyaṇa dan Mahābhārata menceritakan kepada banyak pertapaan tempat murid-murid dari pelosok negeri berkumpul untuk mendapatkan instruksi.
Sebuah pertapaan yang lengkap mempunyai beberapa departemen, yang disebutkan sebagai berikut: 1) Agnisthāna (Tempat pemujaan), Brhama sthāna (Tempat mempelajari Veda), Viṣṇu sthāna (Tempat untuk mengajar Rājnītividya), Mehandra sthāna (Bagian militer), Vivasvata sthāna (Bagian Astronomi), Soma sthāna (Bagian Botani), Garuḍa sthāna (Bagian yang berhubungan dengan Transportasi dan alat angkut), Kārtikeya sthāna (Organisasi militer).
Beberapa pertapaan terkenal pada masa Rāmāyaṇa dan Mahābhārata adalah 1) Pertapaan Vālmikī : Pertapaan Vālmīki yang terkenal terletak di bukit Citrakūta di tepi sungai Tamasā. Banyak siswa yang tinggal di pertapaan ini untuk menjadi mahir dalam ilmu Śāstrik. Putra kembar Rāma, Kuśa dan Lava diajari Veda, Vedāṅga dan seni musik di pertapaan ini. Keindahan pertapaan ini begitu mengagumkan sehingga banyak tamu terhormat yang ingin datang lagi dan lagi ke pertapaan ini. Itu adalah pertapaan paling terkenal selama periode Rāmāyaṇa dan Mahābhārata.
2) Pertapaan Bharadvāja : Pertapaan Bharadvāja terletak di dekat pertemuan sungai Gangga dan Yamuna. Ṛsi Bharadvāja adalah ahli dalam aśtravidyās. Itu sebabnya, pertapaannya pada dasarnya populer untuk pendidikan militer. Raja Drupada dan Droṇācārya, putra Ṛsi Bharadvāja mendapat pendidikan di pertapaan ini.
3) Pertapaan Agastya : Pertapaan Agastya terletak di Daṇḍakāraṇya. Beberapa siswa pernah tinggal di sini untuk mempelajari berbagai Śāstra . Mahābhārata menyebutkan bahwa raja Yudhiṣṭhira mengunjungi pertapaan ini. Di pertapaan ini para siswa melakukan berbagai jenis Yajña dan terus mempelajari Veda, Vedāṅga dan berbagai mata pelajaran lainnya.
4) Pertapaan Mahaṛṣi Kanva : Pertapaan Mahaṛṣi Kaṇva terletak di tepi sungai Mālinī. Ada banyak pertapaan kecil yang terletak di tepi sungai Mālinī tetapi pertapaan Maharṣi Kaṇva adalah salah satu yang terbaik di antara pertapaan tersebut. Seluruh lingkungan hutan di sekitar Mālinī dulunya berbau harum dengan nyala api altar pengorbanan dan bergema dengan nyanyian mantra Veda. Di pertapaan ini hiduplah ulama-ulama terkemuka Veda, Fikih, Filsafat, Smṛti dan sebagainya.
5) Pertapaan Śaunak : Pertapaan Śaunak terletak di hutan Naimiṣa. Ribuan murid tinggal bersama Saunak. Kepribadian Ketua Śaunak disebut Kulapati. Itu adalah sebutannya karena ribuan muridnya biasa belajar di bawah naungan Resi Śaunak . Berbagai macam mata pelajaran dipelajari di pertapaan ini. Pertapaan ini juga merupakan tempat suci ziarah .
Selain pertapaan ini, banyak pertapaan lain seperti pertapaan Vyāsa, Vaiśiṣṭha, Viśvāmitra, Paraśurāma , Dhaumya dan Kāśyapa juga dijunjung tinggi selama ini.
Untuk menyimpulkan sistem pendidikan pada zaman Rāmāyaṇa dan Mahābhārata, menemukan bahwa pada zaman Brāhmaṇa, Kṣatriya dan Vaiśya menerima pendidikan yang sebenarnya.
Pendidikan militer mendapat penekanan khusus. Metode pembelajarannya juga bervariasi dari satu murid ke murid lainnya. Para siswa menyelesaikan pendidikannya pada usia dua puluh lima tahun. Status guru juga tinggi.
Dijelaskan pula, tiga jenis guru selama zaman ini. Pendidikan Hermitage sangat populer pada masa itu. Beberapa pertapaan sangat populer di mana ribuan siswa berkumpul di sana untuk mempelajari Veda dan Śāstra lainnya.
Hal itu pula dibuktikan peradaban Bharatavarsa (India) telah memiliki universitas tertua dan terbaik di dunia bernama Universitas Taxila (Takṣaśilā Viśvavidyālaya).
Takṣaśilā sebagai, universitas internasional pertama di dunia kuno (sekitar 400-500 SM hingga 550 M), dinamai berdasarkan “Kota Batu Potong Taksha” di India Utara kuno.
Takshashila, atau lebih dikenal dengan Taxila, adalah lembaga pendidikan terbaik pada masanya. Itu berlanjut selama ratusan tahun di tanah umat Hindu.
Kampus itu didirikan sebagai pusat pendidikan dan pembelajaran Veda, agama dan sekuler. Sedangkan abad-abad awal Masehi, kota itu juga menjadi pusat keilmuan Buddhis yang terkemuka.
Takshashila 2700 tahun yang lalu telah menawarkan kursus di lebih dari 64 bidang studi yang berbeda mulai dari bedah dan perdagangan hingga musik dan tari, dan dari filsafat dan Ayurveda hingga tata bahasa, politik, panahan, dan peperangan.
Terlebih lagi, kursus diajarkan untuk menemukan harta karun dan mendekripsi pesan juga.
Apalagi proses penerimaannya juga cukup ketat dan murni berdasarkan prestasi. Dan, kompetisi ini akan diikuti oleh siswa yang memenuhi syarat di seluruh benua. Termasuk mereka juga harus menyelesaikan sekolah dasar dan berusia 16 tahun, sebelum mendaftar kursus di sini. Hal itu mirip seperti model pendidikan moderen sebelum masuk universitas.
Saat ini menurut Statista, peringkat pertama memiliki kampus terbanyak oleh India dengan total 5.349 universitas. Berikutnya Indonesia yang duduk di peringkat kedua dengan jumlah 3.277 universitas.
Lebih lanjut, Amerika Serikat menduduki posisi di bawah Indonesia dengan 3.180 buah universitas. Posisi keempat dipegang oleh China dengan total 2.495 universitas, disusul Brasil dengan 1.264 universitas, Meksiko dengan 1.139 universitas, dan Rusia dengan 1.010 universitas.
"Semoga simbol Saraswati terus menerus memberi inspirasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pencaharian pengetahuan baru untuk kemajuan dan kesejahteraan umat manusia," ungkapnya.
Sementara itu, Sugi Lanus, Pembaca
Manuskrip Lontar Bali dan Jawa Kuno yang juga Jurusan Sastra Bali Universitas Udayana dalam Catatan Harian Sugi Lanus pada tanggal 5 September 2025.
Ia mengatakan, Sungai Saraswati (Sárasvatī-nadī́ ) adalah sungai mitologis alam dewata, pertama kali disebutkan dalam Rigveda dan kemudian dalam teks-teks Weda lainnya dan teks pasca-Weda. Sungai ini memainkan peran penting dalam para penganut berbagai aliran pemikiran dan kepercayaan yang berbasis Weda.
RV 7.95.1-2, menggambarkan Saraswati mengalir ke ‘samudra’. Dewi Sarawasti disebutkan dalam banyak pujian (himne) dalam Rigveda, dan ada tiga himne yang didedikasikan untuknya (6:61 secara eksklusif, dan 7:95–96 yang ia disebutkan bersama Sarasvant). Dalam Rigveda 2.41.16 ia disebut: "Ibu terbaik, sungai terbaik, dewi terbaik".
Dalam Mandala (bagian buku) 10 (10.17) dari Rigveda, Saraswati dirayakan sebagai dewi penyembuhan dan pemurnian air. Dalam Atharva Veda perannya sebagai penyembuh dan pemberi kehidupan lebih dipertegas. Dalam berbagai sumber, termasuk Yajur Veda, Saraswasti digambarkan telah menyembuhkan Indra setelah dia minum terlalu banyak Soma.
Dewi Saraswati dalam Rig Weda disebutkan sebagai Dewi yang memberikan kekuatan pikiran dan wicara. *Pikiran tajam jernih dan mulia adalah ‘dhi’. Wicara halus teratur dan luhur adalah bermuara pada ‘vac’. Saraswati sebagai Dewi mengatur dan pemberkah ‘dhī’ (Rigveda 1:3:12c.). ‘Dhī’ adalah pikiran yang diilhami (terutama yang dimiliki para rishi ), itu adalah intuisi atau kecerdasan – terutama yang terkait dengan kalimat suci dan agama. Saraswati dipandang sebagai dewi yang dapat memberikan dhī ( Rgveda 6:49:7c.) jika kita mohon dalam doa atau meditasi.
‘Dhi’ diperlukan untuk menuntun ‘Vac’. Ucapan (vac) membutuhkan pikiran yang diilhami, pikiran yang murni, dia juga terkait erat dengan ucapan dan dengan dewi ucapan, Vāc. Dalam kitab Shatapatha Brahmana, peran Saraswati-Vac meluas, menjadi jelas diidentifikasi dengan pengetahuan (yang dikomunikasikan melalui ucapan). Disebutkan bahwa Dewi Saraswasti adalah "ibu dari Weda " serta Weda itu sendiri.
Shatapatha Brahmana menyatakan bahwa ”seperti semua air bertemu di lautan... maka semua ilmu pengetahuan (vidya) bersatu (ekayanam) dalam Vāc”* (14:5:4:11).
Kitab-kitab Purana dan kitab lainnya yang ditulis di India menjelaskan dan memuliakan Dewi Saraswati.
Bukan hanya dalam ajaran Hindu dimuliakan. Dalam agama Buddha, Dewi Saraswati dihormati dalam banyak bentuk, termasuk Dewi Cinta Kasih dan identik dengan Dewi Tara. Dalam Jainisme, Saraswati dihormati sebagai dewi yang bertanggung jawab atas penyebaran ajaran dan khotbah Tirthankara.
Begitu juga Kakawin Dharmasunya dalam Wirama Ragakusuma secara jelas menulis bahwa yang disebut sebagai Pujangga Agung adalah seseorang yang batinnya telah dikuasai oleh Dewi Saraswati.
Dalam karya sastra Kawi lainnya yang ditulis era Kerajaan Majapahit keberadaan Dewi Saraswati sangat sentral menempati posisi inti dalam kependetaan dan kesusastraan. Kakawin Dharmasunya, kakawin didaktis dalam bahasa Jawa Kuno, yang diperkirakan ditulis pada pertengahan abad ke 15 Masehi, sebagai salah satu contoh.
Dalam tradisi suci penulisan Kakawin baik era kerajaan Majapahit atau sebelumnya, yang dipuja dan dimuliakan adalah Dewi Saraswasti sebagai ‘Weda’, sebagai pemberi kejernihan ‘Dhi’ dan ‘Vac’ — hanya ketika sang penyair atau Sang Kawi Sastra sudah ‘kesusupan’ atau telah mendapat anugrah Dewi Sarasawati atau Sang Hyang Sarasawati, atau Hyang Haji Sasraswati, baru disebutkan siddhi dan layak disebut Pujangga Agung.
Karya Kakawin Dharmasunya bagian Wirama Ragakusuma di atas terang benderang menyebutkan hal tersebut. Kakawin-kakawin lain yang lebih tua, pun menyebutkan hal yang sama. Bahwa manusia yang pikiran dan batinnya mulia dan mampu berucap disebut sebagai diberkati ‘dhi’ dan ‘vac’ oleh Hyang Saraswati.
"Bahkan kalau kita urai karya Jawa Kuno secara lebih jauh maka Dewi Saraswati menempati posisi penting dari tahun 800 Masehi dan selanjutnya bersambung ke tradisi sastra Kawi era Teguh Dharmawangsa dan Kerajaan Kediri, serta era setelahnya, Singosari dan Majapahit," ungkapnya.
Demikian disebutkan dalam Kakawin Ramayana bahwa Saraswati adlaah dewati yang dimuliakan… Kakawin Ramayana, yang diperkirakan telah ditulis dalam era Mataram Hindu pada masa pemerinthan Dyah Balitung sekitar tahun 820-832 Saka atau sekitar tahun 870 M, dibawa salinanya ke Bali setidaknya di era Raja Udayana. Sekalipun belum ada bukti peninggalan atau pura pemujaan khusus atau bukti temuan arca Saraswati di Bali dari era Bali Kuno, tapi kemungkinan sudah dikenal setidaknya di kalangan bhujangga dan lingkar kerajaan.
Karya Sastra yang diwarisi di Bali sampai saat ini, seperti: Kakawin Sutasoma, Kakawin Bhomantaka, Tantri Kamandaka, Kakawin Arjunawijaya, Kakawin HARISRAYA, Kakawin- Adiparwa, Bhismaparwa, Tantu Panggelaran, Siwarätrikalpa, Sumanasantaka, Nawaruci, Kakawin Nirartha Prakreta, dll mengandung uraian pemuliaan Dewi Saraswati.
Sekian banyak kakawin atau teks sastra yang memuliakan Saraswasti yang mengalir dari tradisi Kawi atau Jawa Kuno, tentu tidak lain merupakan kelanjutan aliran pemikiran Weda dan pemuliaan Saraswati yang bersumber dari tradisi Rigveda yang telah ada sekitar 1500 – 1000 Sebelum Masehi yang berkembang di tanah Bharata Warsa.
Karya-karya Kakawin tersebutlah yang menyusup menjiwai tradisi Hindu Bali. Bersama karya-karya Kakawin dan teks sastra Hindu di Nusantara tersebut terdalam pula lontar-lontar berisi kompilasi mantra dan mengandung secara khusus Mantra Puja Saraswasti. (GAB/001)