Mirip Kisah Tantri; Sulinggih Bali, Akademisi - Politisi Apresiasi Peluncuran Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari Karya Cendekiawan Asal India
Admin - atnews
2025-08-12
Bagikan :
Peluncuran Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari (Artaya/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Acara Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari, Kisah-Kisah Agung Sang Raja Vikramaditya diluncurkan Prof. Gautam Kumar Jha di Auditorium Nasdem Bali, Jalan Cok. Agung Tresna No. 25, Renon, Denpasar, Selasa (12/8).
Peluncuran Buku Singgasana Battisi – Takhta 32 Bidadari karya seorang sarjana asal Jawaharlal Nehru University (JNU), New Delhi, India Prof. Gautam Kumar Jha, disambut baik oleh berbagai kalangan, mulai dari sulinggih, politisi, para guru besar, pimpinan organisasi, mahasiswa dan masyarakat umum.
Acara itu dihadiri Ida Pandita Mpu Acarya Jaya Daksa Wedananda sebagai tokoh spiritual Hindu dari Griya Taman Ganapati, Banjar Gede, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem mewakili Sabha Kertha Sulinggih Hindu Bali, Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Agni Yogananda Griya Santabana Payuk Bangli serta sejumlah Sulinggih lainnya.
Turut hadir, Konjen India di Bali DR Shashank Vikram, Anak Agung Ngurah Gede Widiada sebagai Ketua Bapilu DPW Partai Nasdem Bali, Made Suastika Ekasana selaku Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan PHDI Provinsi Bali, Anggota DPRD Provinsi Bali Dr. Somvir yang juga Ketua Fraksi Demokrat - NasDem DPRD Bali, Anggota DPRD Bali Agung Suyadnya, Ketua Pokli DPRD Bali A.A. Sudiana, Pimpinan Canakya Academy, yang juga penulis buku dan akademisi Dr. Ni Kadek Surpi Arya Dharma, Praktisi Hukum Ketut Ngastawa.
Hadir pula, Akademisi Universitas Udayana, Prof.Dr.Ir. I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, MT., Akademisi UHN IGusti Bagus Sugriwa Prof. I Gede Sutarya, Kepala International Office ISI Bali, Prof. Dr. Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum., M.Sn., beserta sejumlah akademisi lainnya.
Selain itu, juga hadir Plt. Ketua DPW Partai Perindo Provinsi Bali I Ketut Putra Ismaya Jaya yang akrab disapa Jero Bima serta sejumlah tokoh politik lainnya.
Prof. Gautam Kumar saat ini mengajar Bahasa Indonesia di JNU , New Dehli. Ia meraih gelar Ph.D dan M.Phil dengan fokus pada Islam di Indonesia dari School of Internasional Studies, JNU.
Buku yang diluncurkan bergenre fiksi dengan gambar ilustrasi tersebut dianggap mewakili kehausan masyarakat akan buku bacaan berkualitas namun enak untuk dibaca.
Pimpinan Canakya Academy, yang juga penulis buku dan akademisi Dr. Ni Kadek Surpi Arya Dharma dalam laporannya menyatakan bahwa tingkat literasi merupakan ‘pr’ bagi semua pihak.
Oleh karenanya perlu dibangun jembatan kolaborasi antara banyak pihak. Akademisi dan politisi selama ini berjalan masing-masing. Akibatnya, banyak hal yang harusnya menjadi pekerjaan bersama justru terabaikan.
“Kita tahu, akademisi seolah tabu berbicara politik dan mengkritisi pemerintahan. Padahal akademisi harusnya menjadi penjaga gerbang kewarasan. Tetapi selama ini, jika ada akademisi yang sedikit kritis, langsung akan diserbu buzzer," ujarnya sambil disambut gelak tawa hadirin.
Sementara itu, Anggota DPRD Provinsi Bali Dr. Somvir menyambut baik peluncuran buku Singgasana Battisi yang merupakan cerita dari Raja Vikramaditya.
Dinyatakannya, cerita-cerita kebaikan harus terus disebar-luaskan. Seorang politisi menurutnya harus juga belajar dari kepemimpinan Raja Vikramaditya yang bertindak arif, adil dan senantiasa bekerja untuk kemakmuran rakyat. Dinyatakan, seorang pemimpin harus menghabiskan waktunya untuk kebaikan masyarakat dan memberikan yang terbaik sepanjang hidup.
Sedangkan, Ida Pandita Mpu Acarya Jaya Daksa Wedananda mewakili Sabha Kertha Sulinggih Hindu Bali dalam sambutannya menekankan pentingnya upaya penyediaan buku-buku Hindu.
Dinyatakan Walmiki Ramayana dan Mahabharata dalam sejarahnya di Nusantara telah disadur kembali dalam Bahasa Nusantara.
Pada Dinasti Sanjaya, abad ke-8 telah disusun buku Ramayana, sementara Mahabharata diterjemahkan dalam proyek mangjawaken byasamata oleh Raja Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur pada tahun 996 masehi.
Namun demikian, setelah lebih dari seribu tahun, aura literasi tampak meredup, tidak banyak buku-buku yang kembali diterjemahkan maupun disadur. Oleh karenanya Ida Pandita Mpu yang ketika walaka Bernama Prof. Dr. I Made Titib ini menginginkan semua pihak berkolaborasi untuk pengadaan buku-buku kuno berkualitas yang relevan dengan kehidupan saat ini.
“Saya sangat berharap kepada cendekiawan muda untuk terus berkarya. Sementara para wakil rakyat, para pemangku kepentingan dan semua pihak bahu membahu demi literasi, sebagaimana dilakukan oleh Raja Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur.” himbaunya.
Sementara penulis buku Prof. Gautam Kumar Jha menyampaikan sejarah panjang hubungan budaya antara daratan India dan Nusantara di masa lampau. Hubungan India dan Nusantara terjalin sangat jauh sebelum terbentuknya negara modern.
Dinyatakan berbagai prasasti dari abad pertama sampai belasan menjadi bukti kuatnya hubungan India dan Nusantara.
Hubungan tersebut berupaya semangat kebaikan dan bekerjasama demi kemakmuran, kesejahteraan dan berkembangnya kebajikan di masyarakat.
Sementara, buku yang ditulisnya sebagai bentuk sumbangsih dan melanjutkan kerjasama yang baik yang telah terjalin dari puluhan abad sebelumnya. Prof. Jha berharap buku Singgasana Battisi menjadi teman belajar dan berdiskusi bagi masyarakat Indonesia.
Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari mengisahkan perjalanan spiritual dan kepemimpinan legendaris Raja Vikramaditya; sosok bijak, berani, dan penuh welas asih yang dikenang sepanjang zaman.
Diceritakan melalui tiga puluh dua bidadari yang menghuni singgasana emasnya, kisah- kisah ini mengungkap nilai luhur Dharma, keberanian menghadapi ujian moral, dan ketulusan pengabdian bagi rakyat.
Setiap kisah adalah cermin kepemimpinan sejati: dari keberanian menghadapi dukun jahat, kemurahan hati memberi istana, hingga pengorbanan demi kesejahteraan rakyat. Kisah-kisah ini bukan sekadar dongeng, melainkan ajaran hidup yang menginspirasi generasi masa kini, baik anak-anak, orang tua, maupun pemimpin bangsa.
Disusun oleh Gautam Kumar Jha, buku ini adalah jembatan budaya India dan Nusantara, mempersembahkan kisah-kisah agung sebagai warisan spiritual lintas generasi.
Untuk dibaca bersama, direnungkan bersama, dan diwariskan sebagai pelita Dharma dalam keluarga.
Menurutnya, Singgasana Battisi adalah jendela untuk memahami bahwa cerita bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana pembentukan cara pandang, penanaman nilai, dan inspirasi bagi generasi mendatang," terangnya.
Melalui Diskusi dan Bedah Buku Singgasana Battisi, Prof Gautam Kumar Jha berharap buku ini disambut baik oleh publik di Indonesia.
"Saya menulis buku ini berbahasa Indonesia dan dibantu editing oleh Dr. Surpi dibawah penerbut Dharma Pustaka Utama," terangnya.
Apalagi, Buku Singgasana Battisi Takhta 32 Bidadari membahas Kisah Agung Raja Vikramaditya adalah figur yang sering disebut dalam tradisi India, berada di persimpangan antara sejarah dan mitos.
Dalam kerangka historis, sejumlah sejarawan meyakini bahwa Vikramaditya bukanlah satu individu tunggal, melainkan gelar kehormatan yang digunakan oleh beberapa raja besar, khususnya di India Utara.
Salah satu kandidat terkuat adalah Chandragupta II dari Dinasti Gupta (abad ke-4–5 M), yang pemerintahannya memang dikenal sebagai Golden Age India, masa kemajuan pesat dalam sastra, seni, astronomi dan perdagangan.
Bahkan, ada pula teori yang menyatakan nama ini terkait dengan penguasa Malwa yang memulai era penanggalan Vikram Samvat pada 57 SM, meski bukti arkeologis untuk periode tersebut masih diperdebatkan.
Disisi lain, sumber utama yang membentuk citra Vikramaditya banyak berasal dari karya sastra seperti Vikram-Betaal dan Simhasana Dvatrimsika, yang lebih berfungsi sebagai literatur moral-filosofis ketimbang catatan kronik faktual.
Menariknya, konstruksi legenda ini tampaknya bersifat retroaktif mencampurkan ingatan kolektif akan raja-raja bijak dari masa Gupta dan Shaka, lalu meramunya menjadi satu figur ideal yang dijadikan model kepemimpinan.
Jika dilihat dari perspektif historis-budaya, ajaran yang dilekatkan pada sosok ini bukanlah sekadar nasihat moral, melainkan representasi nilai-nilai politik dan sosial yang memang dipraktikkan pada masa kejayaan India kuno.
Prinsip keadilan tanpa pandang bulu, keberanian dalam menghadapi tantangan eksternal, dukungan terhadap seni dan ilmu, serta kemampuan mengintegrasikan logika dengan etika, semuanya adalah refleksi dari tata pemerintahan yang menjadi fondasi stabilitas imperium.
Di era modern, relevansinya tetap kuat, yakni integritas hukum seperti yang diceritakan dalam Simhasana Dvatrimsika menjadi tolok ukur kepemimpinan politik, keteguhan menghadapi risiko ala kisah Vikram-Betaal menjadi inspirasi inovasi, sementara perlindungan terhadap cendekiawan dan seniman mengingatkan bahwa modal intelektual adalah kunci daya saing bangsa.
Dengan demikian, meskipun identitas Vikramaditya sebagai tokoh tunggal sulit diverifikasi secara historis, ajaran yang dikaitkan dengannya merupakan kristalisasi pengalaman politik, sosial, dan kultural India kuno yang tetap relevan hingga sekarang.
Raja Vikramaditya, figur legendaris dari tradisi India, kerap digambarkan sebagai pemimpin ideal yang menggabungkan keberanian, kebijaksanaan dan komitmen pada keadilan.
Meski catatan sejarahnya bercampur antara fakta dan mitos, kisah-kisahnya seperti dalam Vikram-Betaal dan Simhasana Dvatrimsika memuat pesan moral yang relevan lintas zaman.
Dalam legenda, ia digambarkan memerintah dari Ujjain pada masa yang disebut Zaman Keemasan, melindungi para cendekiawan dan seniman yang dikenal sebagai "Navaratnas", sembari menegakkan hukum tanpa pandang bulu, bahkan jika harus menghukum kerabat sendiri.
Keberaniannya tampak dalam tekad mengejar roh Betal, meski tahu setiap pertemuan akan memaksanya menjawab teka-teki sulit yang berisiko tinggi, sementara kebijaksanaannya terlihat dari kemampuannya menimbang logika dan etika sebelum mengambil keputusan.
Nilai-nilai ini, jika dibawa ke konteks modern, menjadi pedoman penting: integritas hukum bagi pemimpin politik, keberanian intelektual bagi inovator, pengambilan keputusan berbasis data sekaligus etika bagi manajer, dan dukungan pada riset serta seni bagi pembuat kebijakan.
Walau bersifat semi-mitos, narasi tentang Vikramaditya berfungsi sebagai perangkat pendidikan moral, mengajarkan bahwa kemajuan sebuah peradaban bertumpu pada keadilan, pengetahuan, dan keberanian menghadapi ketidakpastian.
Dengan demikian, warisannya tetap hidup bukan hanya sebagai cerita masa lampau, tetapi sebagai prinsip yang terus membimbing kepemimpinan dan kehidupan publik hingga kini.
Vikramaditya adalah sosok legendaris dalam budaya India, dikenal sebagai pendiri era Vikram Samvat pada tahun 57 SM setelah menaklukkan Saka sebagai penanggalan yang kemudian menjadi kalender resmi di Nepal, bernama Bikram Sambat dan tetap digunakan dalam berbagai konteks legal dan budaya di sana hingga kini.
Nama "Vikramaditya" sendiri merupakan gelar kehormatan, yang berarti matahari keberanian (dari Vikrama: keberanian, dan Aditya: matahari), dan telah diadopsi oleh berbagai raja dari masa kuno hingga pertengahan India.
Salah satu figur sejarah yang paling kuat diasosiasikan dengan gelar ini adalah Chandragupta II dari Dinasti Gupta (sekitar 375–415 M), yang dikenal sebagai Chandragupta Vikramaditya.
Ia memerintah India pada puncak keemasannya, memperluas wilayah melalui penaklukan Sassanids dan Western Kshatrapas serta mengintegrasikan wilayah Vakataka melalui pernikahan menjadikan imperium Gupta merentang dari Oxus hingga Bengal, dan dari kaki Himalaya hingga Narmada.
Selain itu, banyak raja berasal dari Dinasti Chalukya juga menggunakan gelar ini. Vikramaditya I (memerintah 655–680 M) merupakan tokoh yang memulihkan stabilitas kerajaan Chalukya Selatan setelah kekacauan dahsyat serta berhasil mendorong mundur kekuatan Pallava dari ibu kota Vatapi.
Kemudian, Vikramaditya II (733–744 M) melanjutkan gaya kepemimpinan prestisius, dengan menaklukkan Kanchipuram sebanyak tiga kali sebagai mahkota dan juga sebagai anak mahkota serta mendirikan candi-candi penting seperti Virupaksha dan Mallikarjuna di Pattadakal, yang kini menjadi situs warisan dunia UNESCO.
Tak kalah penting, Vikramaditya VI (1076–1126 M) adalah penguasa Chalukya terlama dan paling berpengaruh dari periode selatan: melalui kampanye militer yang sukses.
Ia menguasai wilayah yang membentang dari Kaveri hingga Narmada, meredam pengaruh Chola, memperkuat seni dan sastra Kannada dan Sanskerta serta mendapat pujian luas sebagai pemimpin yang toleran dan visioner Vikramaditya, sebagaimana tercermin dari beragam versi sejarah dan legenda, bukanlah satu tokoh tunggal.
Ia merupakan gelar kehormatan yang melambangkan citra raja ideal, penguasa berani, adil, dan berbudaya. Penggunaan nama ini oleh Chandragupta II, raja klasik Dinasti Gupta, memperkuat asosiasinya dengan era keemasan dalam sejarah India.
Sementara itu, para raja Chalukya yang menggusung gelar tersebut, seperti Vikramaditya I, II, dan VI, secara nyata menunjukkan kualitas kepemimpinan melalui stabilitas politik, penaklukan teritorial dan kontribusi budaya.
Dengan demikian, meski sosok "Vikramaditya" sering dibalut dalam legenda, akar historisnya sangat nyata mewakili kekuasaan ideal, sinergi antara militer dan budaya serta transformasi sosial-politik yang berlangsung dalam rentang zaman Gupta hingga Chalukya.
"Jika Anda ingin, saya dapat memperdalam pembahasan ini dengan memfokuskan pada aspek politik, budaya, atau warisan arkeologis masing-masing tokoh Vikramaditya," pungkasnya.
Sedangkan, Konsulat Jendral India Wilayah Bali, Dr. Shasank Vikram menyambut baik kolaborasi akademisi India dan Bali ini.
“Saya sangat mengapresiasi peluncuran buku ini, dalam bahasa Indonesia yang ditulis oleh prof. Jha dan selaku editor Dr. Surpi, akademisi Bali,” ujarnya.
Diharapkan kedepan terjalin berbagai kolaborasi nyata antara India dan Bali, baik sesama akademisi, politisi maupun budaya dan keagamaan.
Dinyatakan India dan Bali telah bekerjasama dan memiliki hubungan baik sejak masa lampau dan harus terpelihara demi kemajuan bersama. “Kami akan mendorong terus Kerjasama dalam berbagai bidang,” ujarnya.
Disamping itu, Prof Sutarya juga memberikan apresiasi acara peluncuran buku tersebut. "Bagus karena menjalin kembali hubungan dengan India," ujarnya.
Cerita-cerita itu sesuai dengan budaya Nusantara dan Bali sehingga mudah dicerna.
"Iya cerita itu seperti kisah Tantri yang sudah dikenal masyarakat luas di Indonesia," bebernya.
Prof Dewi Yulianti juga menambahkan, pihaknya merasa senang mendapatkan undangan bedah buku tersebut.
Sekilas yang pihaknya baca mendapatkan pesan inti agar siap menghadapi segala sesuatu dan rintangan, baik dalam segala keadaan berlaku bagi semua profesi apapun yakni pejabat, dosen, mahasiswa, politisi, maupun wartawan.
"Hidup harus kuat. Kekuatan tidak dari diri sendiri. Kekuatan dari Tuhan. Maka setiap apapun harus melibatkan Tuhan," ujarnya.
Ia juga banyak menulis buku. Dalam buku pentingnya mencari pesan nilai moral. Membaca bukan sekedar membaca. "Kita harus kuat dalam mengahdapi cobaan," imbuhnya.
Selain itu, Ketua Pokli DPRD Bali A.A. Sudiana pihaknya juga memberikan apresiasi luar biasa. Karena buku tersebut disusun dengan narasi sangat apik dan mengandung nilai-nilai universal kemanusian yang mengungkapkan nilai luhur dharma, keberanian menghadapi ujian moral, dan ketulusan pengabdian kepada rakyat. "Sangat cocok menginspirasi generasi masa kini maupun pemimpin bangsa, The Best," pungkasnya. (GAB/001)