Banner Bawah

Benarkah Vaknisasi dapat Membebaskan Rabies?

Admin - atnews

2025-07-22
Bagikan :
Dokumentasi dari - Benarkah Vaknisasi dapat Membebaskan Rabies?
Anjing (ist/Atnews)

Oleh Drh. Soeharsono, DTVS, PhD.
Berbagai tulisan ilmiah tentang rabies menyebutkan, rabies bisa dibebaskan lewat vaksinasi. Sayang sekali tidak disebutkan contoh negara atau wilayah mana yang berhasil dibebaskan dari rabies dengan vaksinasi.

Di Indonesia, penanganan rabies lewat vaksinasi telah dilakukan sejak lama diberbagai daerh tertular rabies dan bahkan digencarkan di Flores selama 27 tahun, Bali 16 tahun, serta beberapa wilayah lain tertular, ternyata belum bebas juga dan bahkan cenderung meluas. 

Menaggapi situasi tersebut, para ahli di Indonesia kemudian menyusun Road Map Pembebasan Rabies (2014-2020). Namun ternyata sampai 2019 belum ada tanda-tanda bebas, sehingga disusun Road Map II (2019-2030). Kompas digital 14 April 2024 menulis “2030 bebas rabies, mungkinkah?”.  Di sisi lain, wilayah Jatim, Jateng dan DIY bisa dibebaskan dari rabies 1997 yang dikukuhkan dengan SK Mentan 892 dan terus bebas hingga kini. Mengapa?

Bali sebagai daerah utama tujuan wisata perlu memberikan perhatian khusus terhadap rabies. Sepanjang 2008-Juli 2025, tercatat 230 kematian orang karena rabies. Yang lebih mengkhawatirkan, Bali menduduki kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) tertinggi di Indonesia. Terjadi 58.234 orang GHPR (rata-rata 163 gigitan / hari (2024), lebih tinggi lagi 2025, sampai 30 Juni 32.910 orang GHPR (183 / hari). Urutan kedua GHPR dipegang NTT.

Sebenarnya telah cukup banyak WNA di Bali menderita gigitan anjing dewasa maupun anak anjing, namun berhasil diselamatkan lewat pemberian vaksin anti rabies (VAR), segera setelah digigit. Tindakan ini disebut post-exposure prophylaxis (PEP). Pemerintah perlu menyediakan VAR dalam jumlah banyak setiap tahun, karena untuk seorang digigit anjing suspect rabies memerlukan 4 dosis VAR, dengan interval pemberian tertentu. Pada gigitan parah, selain VAR ditambahkn serum anti rabies (SAR) yang harganya cukup mahal.

Pengamatan penulis, keberhasilan pembebasan rabies lewat vaksinasi tergantung pada tipologi pemeliharaan anjing, sebagai penular utama rabies.

Tipologi pemeliharaan anjing
Tipologi adalah ilmu mempelajari pengelompokan obyek berdasarkan tipe tertentu. Di Bali ada 3 kelompok anjing: tidak bertuan (A); bertuan, namun sebagian besar dilepas liarkan, sebagian kecil dipelihara dengan baik (B); dipelihara dengan baik, cukup makan dan kesehatan dijaga lewat vaksinasi teratur oleh dokter hewan praktisi (C). Umumnya anjing ras termasuk (C).

Pengamatan penulis, sebagai mantan praktisi hewan kecil, anjing kelompok (A) dan (B) merupakan penular utama ke manusia, atau hewan lain.. Kelompok (A) sangat sulit divaksin, karena sangat sulit ditangkap untuk divaksin. Kelompok (B) sebagian bisa divaksin, namun yang dilepas liarkan sebagian besar sulit divaksin. Data kasus anjing positif rabies sebagain besar terjadi pada anjing (A) dan (B). Kelompok (C) sebagian besar divaksin rabies teratur oleh praktisi hewan kecil, sangat jarang terserang rabies.
Populasi anjing di Bali sekitar 500.000-600.000 ekor. Dengan mudah bisa ditemukan anjing, termasuk anak anjing kelompok (A) berkeliaran di pantai, pasar atau tempat lain.

Pelajaran keberhasilan (lessons learnt)
Untuk mencapai bebas rabies, sebaiknya kita belajar dari keberhasilan beberapa negara atau wilayah. Inggris bebas rabies (1903) melalui eliminasi anjing jalanan. Dr. Chalmers dan Dr. Scott dari CTVM Edinburgh University (guru penulis) menyebut “Constant removal of stray dogs is essential). Artinya eliminasi anjing tak bertuan harus dilakukan secara terus menerus (konstan). Penekanan tindakan ada di “constant”.

Jepang berhasil bebas rabies (1953) melalui eliminasi anjing jalanan, membatasi gerak di luar rumah dan vaksinasi anjing berpemilik (Takayana 2000).

Korea Selatan berupaya membebaskan rabies sejak 1960, melalui penangkapan anjing jalanan, kemudian ditampung di shelter. Sebagian kecil diadopsi orang, sebagian besar di euthanasia. Sejak 2005 tidak ditemukan rabies pada anjing, namun di bagian Utara Korea Selatan, masih ditemukan rabies pada satwa liar.

Pulau Nusa Penida, Bali tertular rabies 2010. Tahun 2011 dilakukan eliminasi anjing tak bertuan dan anjing berkeliaran di jalan. Pemilik anjing telah diberi tahu agar mengikat anjingnya agar tidak tereliminasi. Eliminasi berhasil dilakukan dalam 5 hari. Nusa Penida tetap bebas rabies sampai 2025. Ini contoh bagus buat Bali. Caranya bisa dimodifikasi agar lebih humanis (euthanasia).

Dr. Soehardjo Hardjosworo, seorang dokter hewan virology, FKH IPB  (1984), juga guru penulis (1972), menyebut “Tindakan vaksinasi dapat dilakukan pada anjing yang ada pemiliknya, sedangkan untuk anjing geladak tidak mungkin dilaksanakan. Oleh karena itu perlu digalakkan pemberantasan anjing geladak”.

Belajar dari keberhasilan di atas, membebaskan rabies lewat vaksinasi sangat tergantung pada tipologi pemeliharaan anjing. Wilayah tanpa atau sangat minim (A), disertai (B) tidak dilepas liarkan, rutin divaksin bisa dibebaskan dari rabies
Wilayah dengan (A) banyak dan (B) banyak diliarkan sangat sulit dibebaskan. Itulah kendala Bali, NTT, Sumut, Sulut dan wilayah tertular lain.

Untuk menyelamatkan jiwa manusia, sebaiknya dilakukan eliminasi (euthanasia) anjing tidak bertuan, sebagai bagian hulu rabies. Kematian orang akibat rabies sangat mengharukan, karena sekitar 2 minggu sebelum meninggal, pasien menunjukkan gejala syaraf, takut air, takut cahaya, dll. Inilah yang sangat ditakuti banyak pihak.

Sebagai pembanding, Australia menyatakan perang terhadap kucing liar (War Against Feral Cats) untuk menyelamatan satwa asli seperti kakatua, bilby, numbat, dll.
Salahkah kita mengeliminasi humanis (A) untuk selamatkan jiwa manusia?

*) Penulis: Drh. Soeharsono, DTVS, PhD. Mantan Penyidik Penyakit Hewan

Baca Artikel Menarik Lainnya : Kasum TNI : Kegiatan Teritorial TNI Pengabdian Tanpa Batas

Terpopuler

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif