Denpasar (Atnews) - Pengamat Kebijakan Publik Putu Suasta yang juga Pendiri LSM JARRAK dan Forum Merah Putih mendukung penuh wacana Perda tentang Yoga yang di inisiasi oleh Dr Somvir Anggota DPRD Provinsi Bali.
Wacana itu juga telah mendapatkan respon oleh tokoh-tokoh termasuk Akademisi Prof I Gede Sutarya yang sekaligus mengingatkan usulan Perda Yoga agar memberikan batasan yoga untuk wellness, sekuler spiritual dan religious yoga.
Yoga merupakan tradisi berusia lima ribu tahun lebih yang menggabungkan kegiatan fisik, mental, dan spiritual untuk mencapai kesehatan holistik dengan menciptakan harmoni antara tubuh, napas, dan pikiran.
Di dunia modern dengan tekanan dan tantangan ekstrem, Yoga merupakan solusi untuk menggalakkan harmoni global melalui transformasi individu.
Yoga tengah digemari masyarakat global kini telah menjadi gaya hidup (lifestyle) atau jalan hidup (way of life) bagi masyarakat Urban, milenial dan kelompok masyarakat semi perkotaan.
Gerakan Yoga telah menyebar ke seluruh dunia, melalui penetrasi media visual dan media sosial dan teknologi digital.Gwrakan hidup sehat ini menyebar baik Benua Amerika, Eropa, benua Asia, zasirah Arab, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, khususnya dataran India.
Gerakan Yoga juga melanda Malaysia, Kanada, Singapura, Australia, Irlandia, Selandia Baru, Hongkong, Austria, Britania Raya, Norway, Belanda, termasuk Indonesia khususnya Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia.
Bali secara kultural, dan peradaban cocok untuk melakukan aktivitas Yoga. Banyak klub-klub Yoga yang tersebar di Bali, khususnya daerah Ubud yang diminati wisatawan.
Putu Suasta mendorong Pemerintah Bali serius mengharap peluang yoga serta mengaturnya dalam bentuk Perda.
Yoga yang bersifat universal sebagai cara hidup (way of life). Bahkan jutaan orang diperkirakan berpartisipasi dalam berbagai acara yoga, baik secara langsung maupun daring di seluruh dunia memperingati Hari Yoga Internasional atau Internasional Yoga Day (IYD) 2025 yang mengusung tema "Satu Bumi, Satu Kesehatan".
Tema "Yoga untuk Satu Bumi, Satu Kesehatan," menyoroti hubungan antara kesehatan pribadi dan kesehatan planet.
Peringatan IYD tidak terlepas dari perjuangan Perdana Menteri India, Shri Narendra Modi.
PM Modi menyampaikan pidato di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan usulan untuk menetapkan tanggal 21 Juni, titik balik matahari musim panas dan hari terpanjang di Belahan Bumi Utara, sebagai Hari Yoga Internasional.
Resolusi ini mendapat dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena 177 negara ikut mensponsorinya – jumlah tertinggi yang pernah ada untuk resolusi UNGA mana pun. Pada tanggal 11 Desember 2014, PBB secara resmi menetapkan tanggal 21 Juni sebagai Hari Yoga Internasional.
Pada peringatan IYD 2025, Suasta juga mendukung acara Yoga (Sanatan Kriya) di Kabupaten Badung, Jumat, 20 Juni 2025.
Kegiatan itu diselenggarakan Dhyan Foundation (DF) berkolaborasi dengan Atnews, Monumen Perjuangan Bangsal (MPB), Konsulat Jenderal India di Bali dan Pusat Kebudayaan Swami Vivekananda atau Swami Vivekananda Cultural Centre (SVCC) Bali menggelar
Acara itu berlangsung secara hybrid dipandu Relawan Dhyan Foundation, Mahima Jaini alumni Marine Biology dari University of Maine USA, bekerja sebagai Ilmuwan Kelautan, Rima Anand yang juga AI specialist for education dan Shanty Pirgayanti, Relawan Dhyan Foundation, freelance interpreter bahasa Indoensia.
Sementara itu, Pengelana Global Putu Suasta menyebutkan Yoga sebagai kebutuhan dasar untuk orang-orang yang lebih modern, beragama dan spiritual.
"Kan setahun lalu, saya berasa di Rishikesh Uttar Pradesh India selama 2 minggu, kira-kira ada sekitar 200 ribu orang ikut Yoga disana di tepi Sungai Gangga," kata Putu Suasta.
Sebetulnya di Rishikesh, lanjutnya ada Padmasana Hindu Bali dibangun yang telah dibuatkan di tepi Sungai Gangga.
Sebenarnya, Yoga itu adalah kebutuhan dasar demi masa depan. Selain itu, Yoga juga mengajarkan karma baik, baik untuk hewan, umat manusia, khususnya orang miskin dan lingkungan. Diharapkan dengan beryoga dan berolahraga, supaya sehat lahir batin.
"Tapi, hal ini merupakan suatu performa kehidupan lebih sehat, simpel dan lebih mulia. Pokoknya sekarang fokusnya kesehatan, baik sehat fisik maupun sehat spiritual," tegasnya.
Selain itu, Putu Suasta telah mengikuti perayaan IYD 2023. Dalam peringatan Hari Yoga Internasional tanggal 21 Juni 2023, Konsul Jenderal (Konjen) India untuk Bali Neeharika Singh bersama Director of Swami Vivekananda Cultural Centre (SVCC) Bali/The Indian Council for Cultural Relations (ICCR) Bali Naveen Meghwal dipusatkan di Bajra Sandi Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala, Denpasar (depan Kantor Gubernur Bali).
Acara itu kembali digelar di tempat yang sama, setelah Peringatan Hari Yoga Internasional ke-8 dengan tema “Yoga for Humanity” dan tahun 2022 India merayakan 75 tahun kemerdekaannya dengan semangat “Azadi ka Amrit Mahotsav”.
Sedangkan, acara Hari Yoga Internasional ke-11 yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal India di Bali dan Pusat Kebudayaan Swami Vivekananda atau Swami Vivekananda Cultural Centre (SVCC) Bali pada 21 Juni 2025 di Pulau Peninsula, Nusa Dua.
Perayaan Yoga di daratan Paninsula, hamparan karang yang menjulang, semburan ombak Water Blow, menjadi daya tarik dari pulau yang dahulunya hanya semak belukar.
Menariknya lagi Yoga dengan latar bekang Patung antara Sri Khrisna dan Arjuna setinggi 17 meter. Dimana Arjuna dan Sri Khrisna memiliki peran penting dalam itihasa Mahabharata.
Patung ini juga yang menjadi mascot dari keindahan pulau Paninsula, Nusa Dua, selain mascot alam Water Blow.
Dengan tema Yoga untuk ‘Yoga for One Earth, One Health’, acara ini dihadiri oleh lebih dari 1.500 orang dari pejabat pemerintah daerah termasuk Anggota DPD-RI, DPRD Bali, masyarakat India, penggemar yoga, tokoh media, akademisi, dan tokoh bisnis.
Secara terpisah, Perdana Menteri, Shri Narendra Modi menyampaikan pidato pada acara Hari Yoga Internasional (IYD) ke-11 di Visakhapatnam, Andhra Pradesh.
Perdana Menteri memimpin perayaan Hari Yoga Internasional dan mengambil bagian dalam sesi Yoga.
Dalam sambutannya, Perdana Menteri menyampaikan ucapan selamat yang hangat kepada masyarakat di seluruh India dan dunia pada Hari Yoga Internasional, seraya menekankan bahwa tahun ini menandai kesempatan ke-11 ketika dunia berkumpul pada tanggal 21 Juni untuk berlatih yoga bersama. Ia menyatakan bahwa hakikat yoga adalah "untuk menyatukan", dan sungguh menggembirakan melihat bagaimana yoga telah menyatukan dunia. Merenungkan perjalanan Yoga selama dekade terakhir, Shri Modi mengenang momen ketika India mengusulkan gagasan Hari Yoga Internasional di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ia mencatat bahwa 175 negara mendukung usulan tersebut, sebuah contoh langka dari persatuan global yang begitu luas. Ia menekankan bahwa dukungan tersebut bukan sekadar untuk usulan tetapi merupakan upaya kolektif oleh dunia untuk kebaikan umat manusia yang lebih besar.
"Sebelas tahun kemudian, yoga telah menjadi bagian integral dari gaya hidup jutaan orang di seluruh dunia", imbuhnya.
Perdana Menteri mengungkapkan kebanggaannya melihat bagaimana orang-orang Divyang membaca teks yoga dalam huruf Braille dan bagaimana para ilmuwan berlatih yoga di luar angkasa. Ia juga mencatat partisipasi antusias dari kaum muda dari daerah pedesaan dalam Olimpiade Yoga.
Shri Modi menggarisbawahi bahwa baik di tangga Gedung Opera Sydney, di puncak Gunung Everest, atau di hamparan lautan yang luas, pesannya tetap sama, “Yoga diperuntukkan bagi semua orang, Melampaui Batas, Melampaui Latar Belakang, Melampaui usia atau kemampuan.” (GAB/001)