Oleh Jro Gde Sudibya
Pidato Soekarno di Jakarta, 1 Juni 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila, dan tantangan besar yang menghadang Nilai-nilai dasar dalam kehidupan berbangsa: keimanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, keadilan sosial, telah terlalu banyak dilanggar dan bahkan dikhianati, oleh sebuah kekuasaan yang punya kecenderungan salah guna, korup (Power tend to corrupt).
Pancasila tetap diwacanakan, sekadar pemanis bibir (lips service) dalam upacara yang hambar dan miskin makna, dalam realitas politik sebagai panglima, lengkap dengan demagogi politik, politik surplus janji, minus aksi bermakna.
Kerja politik, nyaris sebatas instrumen dalam "industri" kekuasaan, untuk dilestarikan, "power feed to power", dengan melanggar hukum, etika moral dan kepantasan sosial.
Kerja politik, nyaris menjadi kesempatan "aji mumpung", memperkaya diri dan sejenisnya, jauh dari keutamaan politik - political virtue - sebagai kerja mulya panggilan pengabdian.
Ajaran Tri Sakti Bung Karno: Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, Berkepribadian di Bidang Krbudayaan, terus diwacanakan sebagai instrument kampanye "penjual" mimpi bagi wong cilik: buruh, tani, nelayan, pekerja srabutan, pekerja sektor informal, kemudian dengan mudah ditelikung dalam pemutusan proyek yang sarat transaksional dan kental moral hazard.
*) Jro Gde Sudibya, intelektual pembelajar pemikiran Soekarno, pengamat kecenderungan masa depan.