Banner Bawah

Makna Moral dan Pesan Spiritualitas Perayaan Galungan

Admin - atnews

2025-04-23
Bagikan :
Dokumentasi dari - Makna Moral dan Pesan Spiritualitas Perayaan Galungan
Pura Gunung Kawi (Artaya/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Putu Suasta, Seorang Pengelana Global yang Alumni UGM dan Cornell University mengucapkan Hari Raya Suci Galungan dan Kuningan.

Dalam momentum perayaan itu, dimaksudkan agar umat Hindu di Bali dan Nusantara dapat melaksanakan hari raya keagamaan sesuai dengan swadarmanya. 

Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan tersebut pertama kali dirayakan di Bali pada hari purnama Kapat tepat Budha Kliwon Dungulan, tanggal 15, tahun saka 804 atau 882 Masehi.

Galungan sempat mengalami masa vakum selama kurang lebih 23 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka. Raja Sri Jayakasunu memulihkan tradisi ini setelah mendapatkan bisikan religius dari Dewi Durga. 

Dengan demikian, Galungan kembali menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Bali.

Galungan jatuh pada Hari Rabu, 23 April 2025 dan Kuningan Hari Sabtu, 3 Mei 2025 yang berdekatan dengan Hari Raya Nyepi, Perayaan di Pura Besakih dan Ulun Danu Batur.

Selain itu, bulan ini juga bertuah karena ada perayaan Navaratri selama sembikan hari, tanggal 30 Maret hingga 7 April 2025, Ram Navami tanggal 6 April 2025 dan Hanoman Jayanti 12 April 2025.

Begitu juga pada Bulan April ada perayaan dari umat Kristen yakni Hari Paskah (20 April), Jumat Agung/Wafat Yesus Kristus (18 April), Idul Fitri (31 Maret) bagi umat Muslim.

Menurut Suasta, Sang hari terus berputar dalam lingkaran waktu. Tidak terasa Galungan tiba kembali. Masyarakat Hindu di Bali akan “disibukkan ” lagi, setidaknya dua minggu menjelang Galungan, bahan banten (sarana upacara) seperti buah-buahan, jajan khas persembahan, janur bahan banten, daging (babi dan ayam pada umumnya), bumbu-bumbuan, kain poleng-kuning-putih, adalah bagian yang sering diperlukan dan menghiasi menjelang Galungan.  

Dan para ibu dan kaum perempuan Bali pun kembali mendapat peran sentral tak kalah dengan lelaki Bali yang mulai sibuk saat menjelang penampahan (satu dari serangkaian hari Galungan) dengan mempersiapkan penjor dan penyembelihan atau pembelian hewan babi. 

Ada sejumlah rangkaian urutan dalam pelaksanaan hari Galungan. Tiap rangkaian urutan itu mempunyai arti. Umumnya dimulai dari Sugihan Jawa, dimaknai sebagai pembersihan atau penyucian segala hal di luar diri manusia; Sugihan Bali, dimaknai sebagai pembersihan dalam diri manusia; Penyekeban, dimaknai sebagai pengekangan diri; Penyajaan, dimaknai sebagai persiapan/pembekalan diri dalam menyongsong hari Galungan; Penampahan, dimaknai sebagai persiapan yang mantap untuk menerima hari Galungan; sampai kemudian hari H tiba yang disebut sebagai Hari Galungan 

Galungan, dirayakan tiap enam bulan sekali (dengan menerapkan bulan Bali yang berumur 35 hari) dalam perjalanannya diwarnai oleh cerita kultural tentang sosok Maya Denawa sebagai simbol keangkaramurkaan keangkuhan bertempur melawan Sangkul Putih sebagai simbol kebaikan,di mana yang keluar sebagai pemenang adalah Sangkul Putih simbol Kebaikan dan kebenaran. 

Dari cerita ini kemudian dimunculkan arti dari Galungan sebagai kemenangan dharma melawan adharma; kebaikan/kesucian melawan kebatilan/keburukan. Dalam pengertian yang lain, Galungan dimaknai sebagai kemenangan umat Hindhu Bali dalam melawan dirinya sendiri selama masa enam bulan (bulan Bali). 

Dalam sloka Bhagavadgita 4.8 dijelaskan 
paritrāṇāya sādhūnāṁ
vināśāya ca duṣkṛtām
dharma-saṁsthāpanārthāya
sambhavāmi yuge yuge 

Artinya
Untuk menyelamatkan orang-orang saleh, bijak dan mengalahkan  sifat dari orang-orang yang berbuat jahat, serta menegakkan kembali prinsip-prinsip kebenaran agama. 

Menurut Bhagavad-gītā, sādhu (orang suci) adalah orang yang memahami akan Tuhan. Seseorang mungkin kelihatannya tidak beragama, tetapi  mempunyai kualifikasi kesadaran Tuhan secara utuh dan penuh, maka ia dapat dianggap sebagai seorang sādhu.  

Dan duṣkṛtām berlaku bagi mereka yang tidak memedulikan kesadaran Tuhan. Orang-orang jahat atau duṣkṛtām tersebut digambarkan sebagai orang yang bodoh dan paling rendah di antara umat manusia, meskipun mereka mungkin telah diberi pendidikan duniawi, sedangkan orang yang seratus persen tekun dalam kesadaran Tuhan diterima sebagai sādhu , meskipun orang tersebut mungkin tidak terpelajar dan tidak berbudaya baik.  

Bagi kaum atheis, Tuhan Yang Maha Esa tidak perlu tampil sebagaimana adanya untuk membinasakan mereka, seperti yang dilakukan-Nya terhadap Rāvaṇa dan Kaṁsa. Tuhan mempunyai banyak agen yang cukup kompeten untuk qmengalahkan raksasa atau orang jahat.  

Namun Tuhan secara khusus turun untuk menenangkan para pemuja-Nya yang murni, yang selalu diganggu oleh orang yang kerasukan setan. Setan mengganggu pemujanya, meskipun pemuja tersebut mungkin adalah kerabatnya.  

Sebagaimana Prahlāda Mahārāja adalah putra Hiraṇyakaśipu, ia tetap dianiaya oleh ayahnya; walaupun Devakī, ibu Kṛṣṇa, adalah saudara perempuan Kaṁsa, ia dan suaminya Vasudeva dianiaya hanya karena Kṛṣṇa akan dilahirkan dari mereka.  

Jadi Tuhan muncul terutama untuk menyelamatkan Devakī daripada membunuh Raja Kaṁsa, namun keduanya dilakukan secara bersamaan. Oleh karena itu dikatakan di sini bahwa untuk membebaskan penyembah dan menaklukkan setan penjahat, Tuhan muncul dalam inkarnasi yang berbeda. 

Tuhan Yang Maha Esa yang turun disebut inkarnasi, atau avatara. Inkarnasi seperti itu ditempatkan di dunia spiritual, kerajaan Tuhan. Ketika mereka turun ke dunia ciptaan material, mereka mengambil nama avatara. ” 

Ada berbagai jenis avatar semuanya muncul sesuai jadwal di seluruh alam semesta. Namun yang dikenal Dashavatara yakni Matsya, Kurma, Varaha, Narasimha, Vamana, Parashuram, Rama, Krishna, Buddha dan Kalki. 

Selain itu, dalam Sloka Śrīmad-Bhāgavatam 2.7.20; 

cakraṁ ca dikṣv avihataṁ daśasu sva-tejo 
manvantareṣu manu-vaṁśa-dharo bibharti 
duṣṭeṣu rājasu damaṁ vyadadhāt sva-kīrtiṁ 
satye tri-pṛṣṭha uśatīṁ prathayaṁś caritraiḥ

Artinya: 
Sebagai inkarnasi Manu, Sang Dewa menjadi keturunan dinasti Manu dan memerintah atas kerajaan-kerajaan jahat, menaklukkan mereka dengan senjata roda-Nya yang kuat. Tak gentar dalam segala situasi, pemerintahan-Nya ditandai oleh kemasyhuran-Nya yang agung, yang menyebar ke tiga loka, dan di atasnya lagi ke sistem planet Satyaloka, yang tertinggi di alam semesta.

Dijelaskan, membahas inkarnasi Manu. Dalam satu hari Brahmā ada empat belas Manu, yang berganti satu demi satu. Dengan demikian, ada 420 Manu dalam satu bulan Brahmā dan 5.040 Manu dalam satu tahun Brahmā. Brahmā hidup selama seratus tahun menurut perhitungannya, dan dengan demikian, ada 504.000 Manu dalam yurisdiksi satu Brahmā. 

Ada Brahmā yang tak terhitung banyaknya, dan semuanya hidup hanya selama satu periode napas Mahā-Viṣṇu. Jadi, dapat membayangkan bagaimana inkarnasi Tuhan Yang Maha Esa bekerja di seluruh dunia material, yang hanya mencakup seperempat dari total energi Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.

Inkarnasi manvantara menghukum semua penguasa jahat di berbagai planet dengan kekuatan yang sama besarnya dengan kekuatan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang menghukum para penjahat dengan senjata roda-Nya. Inkarnasi manvantara menyebarkan kemuliaan transendental Tuhan.

Sedangkan, Ahimsa parodharma sebagai dharma tertinggi adalah filosofi hidup non-kekerasan di dalam Veda. Filosofi ini sering disalahpahami oleh para pengikut ajaran Veda sendiri, yang disebut penganut agama Hindu. 

Ajaran ahimsa sering dipahami setengahnya saja, setengah saja, pantang melakukan kekerasan. Akibatnya, penganut Hindu banyak yang jadi generasi lembek, penakut, termasuk takut dalam 
menegakkan kebenaran. Ahimsa bukanlah tidak adanya kekerasan; filosofi ini juga mengajarkan kekerasan untuk mencegah ataupun melawan kekerasan demi melindungi Dharma (Kebenaran/kebajikan). 

Pesan lengkap Mahabharata, yang intisarinya dijadikan pustaka suci terindah di dunia Bhagavadgītā: “Ahimsa paramo dharma, Dharma himsa tathaiva cha”,  artinya: Non-kekerasan adalah dharma tertinggi, demikian juga kekerasan untuk menegakkan Dharma.

Begitu juga motto Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) yakni satyam-eva jayate; artinya "Hanya Kebenaran yang Berjaya." 

Satyam-eva jayate adalah sebuah mantra dari naskah Hindu kuno Mundaka Upanishad. Setelah kemerdekaan India, perkataan tersebut diadposi sebagai semboyan nasional India.

Perkataan tersebut ditulis dalam bentuk aksara di pangkal lambang nasional. Lambang dan kata "Satyameva Jayate" dicantumkan pada salah satu sisi dari seluruh mata uang India. 

Lambang tersebut merupakan sebuah adaptasi dari Hulu Tiang Singa Asoka yang didirikan sekitar tahun 250 SM di Sarnath, dekat Varanasi di negara bagian utara India Uttar Pradesh. Perkataan tersebut dicantumkan pada seluruh uang kertas dan dokumen nasional.

Bahkan seorang pejuang hebat seperti Bhīṣma tidak dapat memenangkan Pertempuran Kurukṣetra karena Tuhan ingin menunjukkan bahwa kejahatan tidak dapat mengalahkan kebajikan, terlepas dari siapa pun yang mencoba melakukannya. 

Bhīṣmadeva adalah seorang penyembah Tuhan yang agung, tetapi ia memilih untuk berperang melawan Pāṇḍava atas kehendak Tuhan karena Tuhan ingin menunjukkan bahwa seorang pejuang seperti Bhīṣma tidak dapat menang di pihak yang salah.

Dalam penelitian yang berjudul "Ritual Galungan - Kuningan dan Navrati (Studi Komparasi Hindu Bali dan India)" oleh Muria Khusnun Nisa, Wasil Wasil dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 

Penelitian itu membahas perbandingan ritual Galungan-Kuningan pada Hindu Bali dan Navratri pada Hindu India dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif-analitis. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan kedua ritual tersebut. Persamaan terdapat pada makna ritual yaitu untuk memperingati kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan), kedua ritual tersebut dilaksanakan setiap dua kali dalam satu tahun, serta memiliki tujuan untuk memohon bhakti kepada Tuhan dan meminta perlindungan-Nya. 

Hari raya Galungan-Kuningan dan Navratri juga merupakan bentuk dari salah satu Panca Yadnya yaitu Dewa Yadnya, dengan fokus utama dari perayaan Galungan-Kuningan dan Navratri yaitu untuk beribadah kepada Tuhan. 

Perbedaan hari raya Galungan-Kuningan dan hari raya Navratri yaitu terletak pada tata-cara pelaksanaannya dan mitologinya. Penelitian ini merekomendasikan kepada pembaca untuk mengetahui keanekaragaman tradisi dan saling menghargai satu sama lain. 

Suasta juga menjelaskan, Galungan dan Navaratri adalah dua perayaan yang berbeda, tetapi keduanya memiliki beberapa kesamaan. 

Galungan dirayakan di Bali, Indonesia, sedangkan Navaratri dirayakan di seluruh India dan beberapa negara lain.

Makna Galungan merayakan kemenangan dharma atas adharma, sedangkan Navaratri merayakan kemenangan Dewi Durga atas kejahatan.

Durasi, Galungan dirayakan selama 10 hari, sedangkan Navaratri dirayakan selama 9 hari.

Kesamaan, kedua perayaan ini terkait dengan pemujaan dewi-dewi. Makna spiritual, kedua perayaan ini memiliki makna spiritual yang sama, yaitu untuk memohon perlindungan dan kebaikan dari dewa-dewi.

Upacara keagamaan*: Kedua perayaan ini memiliki upacara keagamaan yang serupa, seperti melakukan puja dan aradhana kepada dewa-dewi.

Dalam budaya Bali dan India, Galungan dan Navaratri dianggap sebagai perayaan yang penting dan dirayakan dengan penuh kegembiraan dan kesyukuran.

Pengertian Galungan yang lain, sebagaimana diberikan oleh Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), adalah piodalan jagat atau oton gumi. Secara lebih luas pengertian yang diberikan PHDI itu dimaksudkan sebagai rasa syukur umat terhadap keberkahan yang berlimpah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menciptakan dunia dengan segenap isinya. Pada saat Galungan inilah umat menghaturkan persembahan, persembahyangan dan permenungan tentang arti menjadi umat-Nya.  

Sehari setelah Galungan yang disebut Umanis Galungan, atau populer disebut dengan Manis Galungan, adalah saat-saat saling mengunjungi antarsanak famili, tetangga, sahabat. Juga dapat dimanfaatkan untuk pelesiran. 

Sementara itu lontar Sunarigama mengungkapkan bahwa Galungan, yang jatuh pada Budha Kliwon Dunggulan, menyarankan untuk lebih memperhatikan hal-hal rohani karena hakikatnya inilah yang paling inti dari kemanusiaan umat. Dengan memberi perhatian pada rohani, menurut lontar ini, akan memberi pencerahan pada umat dan mengikis hal-hal negatif dari akal pikiran dan hati manusia. Dengan intepretasi lain, Galungan ialah pergolakan dalam diri manusia dalam memenangkan dan menegakkan rohani dalam dirinya saat mengarungi hidup ini. 

Dengan pemahaman itu, Galungan ialah perayaan rohani. Dalam konteks yang lebih luas, Galungan ialah momen untuk mengedepankan dharma. Berbagai pemahaman Galungan yang dijelajah dari berbagai sumber, institusi dan para penekun spiritual Hindu, meski diungkapkan dengan cara yang tak sama, namun hakikatnya adalah satu: mengedepankan keutamaan dharma/rohani/kebenaran suci dalam diri manusia. Karena itu, Galungan ialah perayaan dharma yang diwujudkan dengan berbagai implementasi kesucian, perenungan, wacana dharma dan sebagainya. 

Manusia ialah ketidaksempurnaan. Dan selalu begitu. Inilah kenyataan yang memunculkan pergolakan terus-menerus. Kegelapan dalam diri manusia ialah pergulatan manusia untuk keluar dari kegelapan itu sendiri menuju cahaya. Inilah pertarungan manusia yang sesungguhnya. Ada banyak yang tak kuasa keluar dari kegelapan itu sendiri justru karena tak ada upaya bertarung, atau karena menjadi pecundang atas dirinya sendiri. Kekalahan inilah, sebagaimana diyakini umat Hindu, melahirkan punarbhawa sebagai kelahiran yang berulang-ulang, atau samsara, derita sepanjang kelahiran kembali. 

Secara filosofis, kearifan Bali memiliki banyak sudut pandang memahami keyakinan transenden mereka. Segala segi-segi kehidupan mereka tidaklah hadir begitu saja. Setiap peristiwa yang mengenai diri manusia bukanlah kebetulan. Selalu ada sebab akibat, selalu ada keseimbangan, selalu ada untuk meng-counter apa yang terjadi. Kesadaran inilah yang kemudian mereka munculkan sebagai pengingat, sebagai suatu kosmologi pengetahuan yang bukan saja sekadar teks-teks, simbol-simbol, tetapi alam raya keyakinan yang tertanam kuat turun-tumurun.

Itulah, bagi penganut Hindu di Bali, kehidupan mereka bukan sekadar apa yang ada, melainkan apa yang tidak terlihat yang dirasakan  secara terus menerus dalam perjalanan siklus waktu. Doa kita semoga Galungan ini membawa sinar kebaikan dan kedamaian untuk semua orang dan Semua Mahluk penghuni Alam Semesta ini. (GAB/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Enam Arahan Presiden Pada Rakornas Penanggulangan Bencana

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng