Miliki Akses Kepemimpinan Nasional, Desak Gubernur Bali Tuntaskan Masalah Akut; Ketenagakerjaan, Macet, Ekonomi hingga Sampah
Admin - atnews
2024-10-15
Bagikan :
Drs. Viraguna Bagoes Oka, MBA (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Drs. Viraguna Bagoes Oka, MBA yang juga Ketua ILUNI FISIP Universitas Indonesia (UI) mendesak kepemimpinan Bali baik Gubernur, Bupati/Walikota mampu menuntaskan permasalahan akut Pulau Dewata.
Kepemimpinan Bali yang kompeten, kredibel dan terpercaya serta memiliki jiwa petarung sehingga pemimpin Bali kedepan bisa menjadi “role model/teladan” sehingga layak untuk diberikan kewenangan khusus oleh pemerintah pusat dalam industri pariwisata.
Oleh karena Bali yang tidak memiliki sumber daya alam (SDA) sehingga Bali bisa mandiri dalam menghasilkan sumber dana sendiri atas kewenangan khusus melalui kewenangan pengelolaan keimigrasian, pengelolaan investasi masuk Bali dan pengelolaan pintu masuk Bali berbasis local wisdom guna mewujudkan pariwisata Bali yang berkualitas.
"Saat ini sudah ditetapkan calon-calon Bupati/Walikota, untuk Pilgub ada dua Paslon. Terus terang, bagaimana agar calon - calon yang maju Pilkada memahami dan bertekad untuk mengatasi masalah Bali yang sangat komplek," kata Viraguna Bagoes Oka di Denpasar, Senin (14/10).
Menurutnya, persoalan yang sangat mendesak yakni ketenagakerjaan, lapangan pekerjaan, sampah, macet, bunuh diri hingga pendidikan.
Gubernur/Wagub yang memiliki akses harmoni dan dukungan kuat dari kepemimpinan nasional untuk memudahkan/kelancaran kinerja dalam mengelola Bali yang terlanjur menjadi salah satu tujuan utama bagi wisatawan dan pelaku usaha manca negara (wisman) atau wisatawan domestik (wisdom).
Selain itu, Gubernur dan Wagub yang bisa kerja sama bersinergi dalam satu komando dengan para Bupati/Walikota se-Bali dengan konsep one island management.
"Dalam rangka tata kelola mengatasi dan menangani kompleksitas permasalahan Bali yang sudah terlanjur akut seperti macet, sampah, transportasi, pengangguran/lapangan kerja lokal dan kepadatan penduduk/kemiskinan," ujarnya.
Untuk itu, penduduk lokal mengalami tekanan yang besar dalam menghadapi kondisi tersebut. Apalagi dalam bidang perekonomian, Bali dalam 5 bulan terakhir telah mengalami deflasi (antara 0,25 - 0,35) yang persisten yang mencermikan bahwa daya beli masyarakat Bali telah tergerus berkelanjutan hingga September 2024.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri terhadap dunia usaha dan perekonomian Bali ditengah anomali bahwa pertumbuhan Bali saat ini tercatat di 4 persen.
"Apa kenapa hal ini bisa terjadi? Disinyalir kuat bahwa pertumbuhan yang terjadi saat ini sebagian besar dipicu oleh deras masuknya dana-dana dan investasi yang masuk dari luar Bali dan luar negeri yang dibawa para investor/kontraktor yang juga dari luar Bali," bebernya.
Dicontohkan dalam pembangunan mall, KEK Sanur maupun KEK Kura - Kura, termasuk pembanagunan sarana dan prasarana bandara I Gusti Ngurah Rai.
Disamping itu, ekonomi Bali didominasi oleh sektor pariwisata pernah mengalami keterpukuran yang dalam ketika pandemi Covid-19, pertumbuhannya minus 12 persen.
Bali sebagai tujuan wisata dunia, segala kegiatan digerakan oleh pariwisata. Dipaparkan, pariwisata banyak turunannya baik dari berbasis villa, hotel hingga berbasis alam. Dalam menggerakan ekonomi pariwisata membutuhkan dukungan lokal dan non lokal. Namun krisis 10 tahunan tidak diantisipasi, begitu juga pasca krisis 1998, 2008, pasca krisis sebelum Covid-19 belum mendapatkan penanganan serius sehingga terjadi koreksi besar - besaran terhadap sarana dan pendukung pariwisata itu sendiri.
Ditambah adanya perang dagang antara Amerika dan China. Dengan hal itu harga - harga properti menjadi anjlok puncaknya pada tahun 2017, ditambah pandemi Covid-19.
Hal tersebut memicu pelaku usaha lokal dan dunia usahanya stagnan sehingga daya belinya melemah (deflasi).
Pengusaha lokal dan bisnis lokal alami tekanan berat tekoreksi cukup dalam. Mengingat siklus 10 tahun itu tidak direspon dengan cepat.
"Dibidang perekonomian hal ini menjadi tantangan terberat namun tetap ada peluang bagi calon gubernur Bali terpilih yabg cerdas, kompeten, kredibel dan memiliki kepemimpinan/leadership dengan jiwa petarung dan memiliki entrepreneur leadership," harapnya.(GAB/ART/001)