Banner Bawah

Ubud Writers & Readers Festival 2024 di Tengah Bali Diterpa Krisis Kebudayaan

Admin - atnews

2024-10-12
Bagikan :
Dokumentasi dari - Ubud Writers & Readers Festival 2024 di Tengah Bali Diterpa Krisis Kebudayaan
Logo UWRF 2024 (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2024 menghadirkan 70 Pegiat Sastra dan Kebudayaan Bali, Serta persembahan untuk Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus dan Cok Sawitri

UWRF sebagai salah satu festival sastra tahunan terbesar di Asia Tenggara, akan kembali hadir dengan edisi ke-21 pada 23-27 Oktober 2024.

Sebanyak 70 penulis, seniman, aktivis, akademisi, dan pegiat kebudayaan Bali akan meramaikan festival ini, berbagi panggung dan menjadi bagian dari lebih dari 250 pembicara yang dihadirkan dari berbagai penjuru Indonesia dan dunia, mulai dari India, Australia, Korea Selatan, Palestina, Amerika Serikat, hingga Malta.

Menariknya lagi, tema UWRF yakni "Satyam Vada Dharmam Chara: Speak the Truth, Practice Kindness", mengambil inspirasi dari itihasa Mahabharata dan dikaitkan dengan konsep filosofi Hindu Bali "Tri Pramana", menekankan pentingnya mengamalkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan melalui Bayu (kemampuan untuk hidup), Sabda (kemampuan untuk bersuara), dan Idep (kemampuan untuk berpikir).

Sebagai festival sastra, UWRF ingin mendorong peran penulis dalam mempromosikan kedua nilai ini melalui karya-karyanya.

Untuk itu, Pengamat Kebudayaan
I Gde Sudibya menilai pertemuan kebudayaan yang sedikit membersitkan harapan, sebut saja melawan arus (against the stream) dari kehidupan politik yang begitu kumuh, ekonomi yang sarat ketimpangan, alam yang semakin rusak akibat ekonomisme pembangunan, pertumbuhan ekonomi sebagai panglima, abai pada: lingkungan, pemerataan dan kearifan budaya lokal.

Budaya adalah esensi penting dari masyarakat Bali, menyimak jawaban Gubernur Bali IB Mantra atas pertanyaan Presiden Soeharto, kenapa Pemda Bali begitu ngotot ingin membangun Pusat Kesenian Bali, sedangkan daerah lainnya ngotot membangun proyek fisik seperti jalan dan jembatan?.

"Gubernur Mantra dalam penuturannya, menjawab: ke depan ekonomi masyarakat Bali akan semakin baik, tetapi kami ingin kemajuan ekonomi berjalan seimbang dengan dengan perkembangan kebudayaan," ujarnya.

Menurutnya, Pertemuan UWRF 2024 yang semarak ini, di tengah multi krisis yang menimpa Bali, bisa merujuk pemikiran sastrawan Romo Mangun dalam orasi kebudayaan di TIM Jakarta tahun 1987: seniman kelompok masyarakat yang pertama melihat ufuk baru perubahan, diikuti oleh pebisnis, kalangan intelektual, agamawan, masyarakat umum, terakhir para politisi.

Dalam Pandangan Romo Mangun, politisi berada di barisan paling bontot perubahan, karena mereka berhitung agar perubahan memberikan keuntungan dan atau dengan risiko paling minimal.

Dalam Pandangan Romo Mangun, jangan harap para politisi menjadi agent perubahan (agent of change).

Sedangkan, Tribute to Prof. Ngurah Bagus dan Cok Sawitri, intelektual yang sangat peduli kepada kebudayaan Bali dan masa depannya, patut diapresiasi.

Ke depan, pertemuan kebudayaan model Ubud Writers, semestinya memberi apresiasi pada rohaniwan cum sastrawan seperti Ida Pedanda Made Kemenuh, penulis geguritan:  Dharma Prewerthi, Parama Tatwa Suksma, yang memberikan perspektif pengetahuan rokhani yang kaya, dan tuntunan prilaku (Dharma kriya) yang rinci.

Demikian juga ke pengarang geguritan Sucita-Subudi Ida Nyoman Djelantik, yang sampai hari ini  diulaas bahas oleh masyarakat yang mencintai sastra Bali, menjadi rujukan prilaku terutama di masyarakat perdesaan.

Sebelumnya, Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati Dr Ketut Suardana yang juga mendirikan Perpustakaan Hindu di Ubud Bali mengatakan, wisdom sangat penting dalam setiap aspect kehidupan sosial.

Berawal pada tahun pertama pasca Bomb Bali I, the  word of wisdom selalu menjadi thema  UWRF 2004 “Habis Gelap Terbitlah Terang” keyakinan orang Bali akan tetap menjadi Destinasi Pariwisata Dunia bahkan lebih baik dari tahun sebelum Bomb .

Tahun 2024 Festival ke 21 dengan Thema Sthyam Vada Dharmam Chara. "Thema ini kami angkat untuk memberi solusi masalah sosial yang berkembang saat ini, seperti hoax," ujarnya.

Sehingga perlu membangun akan  manfaat kerekatan sosial dan Ketahanan Masyarakat “Wisdom is the essence of social cohesion and has a significant impact on community resilience".
                    
Wisdom selalu rekat dengan masalah social. Wisdom memiliki Value sangat penting, untuk menciptakan keharmonisan, keseimbangan semangat dalam kehidupan social untuk mencapai tujuan bersama yaitu; kehidupan yang lebih baik.

Tema "Satyam Vada Dharmam Chara"  dalam Taitteriya Upanishad (Slioka III.1) mengandung; Morality, Ethics and Well-being. Berbicara benar dan berprilaku serta memiliki kepribadian yang baik ada keyakinan  kebenaran akan membangaun karakter masyarakat menjadi baik.

The Power of Wisdom, sesauai dengan pengertian Sanatana Dharma adalah tradisi, pengetahuan dan sebagai pencerahan yang Sustainable.

Wisdom dengan kekuatan spiritualnya akan selalu bisa menjawab segala tantangan dan memberi solusi, melalui seminar, dialog terbuka dll, seperti dalam masalah yang dihadapi oleh masyarakat saat ini, dari medsos yang tidak terkendali, vulgar, penuh kedengkian, pembunuhan karakter dan lainnya.

Wisdom akan mampu memberi manfaat sosial dan membangun ketahanan masyarakat. Inilah akan menjadi bahan dialog, dikusi, agenda tahunan UWRF2024.                                                     
"Untuk itu, Wisdom adalah fondasi kuat karena mengandung eternal social value," ujarnya.
           
Sementara itu, Manajer Ubud Writers Festival Dewi Ermayanti memaparkan lebih detail mengenai penyelenggaraan festival tahun ini.

Acara itu ada sebanyak 266 program yang melibatkan 336 pembicara dari 20 negara, termasuk 70 penulis, budayawan, jurnalis, dan aktivis dari Bali serta 181 penulis dari seluruh Indonesia. Festival ini juga akan digelar di 72 lokasi berbeda di Ubud.

Pada acara itu pula, terdapat 85 program utama dan 30 peluncuran buku dalam festival ini, dengan subprogram lainnya meliputi diskusi panel, musik, dan seni

Oka Rusmini, penulis Bali pemenang S.E.A Writer Award, menyampaikan  bagaimana karya-karya penulis perempuan Bali seperti dirinya menjadi bentuk interpretasi modern dari tema ini.

“Ia tidak hanya sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi juga mengajak pembaca untuk berempati, berrefleksi, dan bertindak. Karya-karyanya menjadi cerminan dari semangat zaman yang terus berubah, di mana nilai-nilai kebenaran dan kebaikan terus relevan, namun cara kita memahami dan mengimplementasikannya terus berkembang”, ujarnya.

Saat festival nanti, penulis bernama lengkap Ida Ayu Oka Rusmini ini akan mengisi sesi Bali Through Her Eyes yang akan mengeksplorasi perspektif dan pengalaman perempuan Bali dalam melihat dan memaknai pulau ini.

Selain perempuan, topik penting lain yang juga disorot oleh UWRF adalah terkait pembangunan berlebihan di Bali. Sesi bertajuk Overdevelopment in Bali akan menghadirkan aktivis dan Anggota DPD RI Niluh Djelantik, arsitek dan dosen Universitas Warmadewa I Nyoman Gede Mahaputra, dan akademisi lingkungan dari Universitas Gadjah Mada, Agung Wardhana. Akan ada juga diskusi Bali Net Zero Emissions Coalition: A Collaborative Effort to Transform Climate Ambition into Action, Building Ubud Low Emission Zone through A Walkable Village, dan To Sustainable Future and Beyond: Ensuring a Just EV Transition for Bali’s people yang diselenggarakan atas kolaborasi dengan WRI Indonesia dan Koalisi Bali Emisi Nol Bersih.

Turut berbicara dalam konferensi pers yang diselenggarakan pada 10 Oktober 2024 di ARTOTEL Sanur adalah penulis dan dosen sastra Jawa Kuno kelahiran Getakan, Klungkung, Carma Mira. Kehadirannya sebagai penulis muda yang giat menulis dalam bahasa Bali sangat ditunggu-tunggu.

“Menulis dengan bahasa Bali adalah salah satu bentuk komitmen saya untuk melestarikan dan merawat kekayaan budaya Bali... Saya sebagai salah satu penutur bahasa Bali ingin ikut berkontribusi dalam memperkaya khazanah sastra Bali.” ujarnya.

Beberapa program yang akan ia isi adalah Balinese Palm-Leaf Manuscript Crafting Experience, sebuah lokakarya penulisan lontar Bali, dan Mesatua Bali, Fun with Balinese Stories di mana ia akan membawa dan mempromosikan cerita-cerita Bali kepada anak-anak usia 6-8 tahun.

Sedangkan Pranita Dewi, penyair Bali yang puisi-puisinya telah diterbitkan dan  diterjemahkan ke Bahasa Prancis, bahasa Inggris, dan bahasa Thailand, akan meramaikan panggung-panggung pembacaan puisi di UWRF tahun ini, mulai dari Women"s Poetry Slam, Poetry Night at Casa Luna, hingga 2024 Festival Poetry Slam. Dalam konferensi pers, ia menekankan UWRF sebagai platform yang turut mendorong perkembangan sastra dan penulis Bali, “Sebagai festival yang sudah berusia 21 tahun, tentu festival ini mempunyai dampak yang sangat besar sebagai wadah untuk masing-masing penulis yang telah lahir, atau justru yang baru lahir untuk berjejaring satu sama lain. UWRF berhasil membuktikan hal itu. Festival ini berhasil memperkaya jaring-jaring’ tersebut.”

Tahun ini, UWRF juga akan memberikan persembahan bagi dua tokoh besar Bali, yakni Cok Sawitri dan Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus. Cok Sawitri adalah seorang penulis, novelis, penyair, penulis naskah, dan seniman pertunjukan asal Sidemen, Karangasem. Ia berpulang pada 4 April 2024, meninggalkan warisan yang berharga bagi lanskap seni dan budaya Bali. Dalam Tribute to Cok Sawitri, penari dan koregrafer Ayu Anantha Putri, penyair, esais, editor, dan kurator seni Warih Wisatsana, seniman tari dan dosen Ida Ayu Wayan Arya Satyani (Dayu Ani), koreografer kelahiran Turki Jasmine Okubo dan jurnalis Wayan Juniartha akan memberikan penghormatan bagi Tokoh Seni Pilihan Tempo 2018 untuk kategori Seni Pertunjukan ini.

Sedangkan Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus adalah akademisi kelahiran Peguyangan, Denpasar.

Ia dikenal sebagai The Father of Balinese Studies karena kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan dan pelestarian budaya Bali, salah satunya melalui karya-karya dan pendirian institusi-institusi akademik yang kemudian menjadi pusat pemikiran terkemuka di bidang ini.

Putranya, Prof I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, akan membuka malam penghormatan untuknya, diikuti oleh penulis dan profesor sastra Indonesia Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., dan Oka Rusmini.

Janet DeNeefe, Pendiri & Direktur UWRF, menyampaikan bahwa dua tokoh ini telah meninggalkan warisan yang begitu mendalam bagi Bali dan masyarakatnya.

“Melalui persembahan ini, kami ingin memberikan penghormatan sekaligus perayaan bagi sosok Cok Sawitri dan Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus. Sebagai festival yang lahir dan besar di Bali, kami juga ingin turut memastikan bahwa warisan-warisan keduanya tetap hidup dan, harapannya, dapat terus menginspirasi generasi-generasi muda Bali ke depan”.

Persembahan ini akan menjadi bagian dari lebih dari 200 program yang dihadirkan UWRF sepanjang 23-27 Oktober di Ubud, Bali. Nama-nama Bali lain yang akan turut mengisi program-program ini mencakup Wayan Jengki Sunarta, Made Adnyana Ole, Bagus Ari Saputra, Ni Nyoman Ayu Suciartini, Tan Lioe Ie, Kadek Sonia Piscayanti, Putu Juli Sastrawan, Nirartha Bas Diwangkara, Sugi Lanus, Wayan Wardika, dan banyak lagi.

Program gratis seperti peluncuran buku dan pemutaran film, dapat difilter dalam pencarian. Daftar lengkap pembicara tersedia di ubudwritersfestival.com/speaker.

Penjualan tiket reguler untuk 4-Day Festival Pass dan 1-Day Festival Pass sekarang tersedia di ubudwritersfestival.com/ticket. (GAB/ART/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Musisi Gus Teja Ikuti Tradisi "Siat Api" Penetral Kekuatan Negarif

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius