Oleh I Gde Sudibya
Isu viral berminggu-minggu di media sosial dengan tema: Charter Pesawat yang diduga dilakukan Kaesang, akun FUFU FAFA yang diduga dimiliki Gibran, dengan silang sengkarut meluas di medsos, memberikan indikasi dari karakter kemunafikan pada sebagian manusia Indonesia.
Dalam silang sengkarut dari isu ini, menarik disimak kembali Pidato Kebudayaan wartawan senior Mochtar Lubus, di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta, 6 April 1977.
Wartawan senior ini, dalam orasi kebudayaanya bertajuk: Menguak Enam Sifat Manusia Indonesia, yakni:
Pertama, Hipokritis dan Munafik.
Dinyatakan, manusia Indonesia munafik, bicara penegakan hukum, tetapi hukum terang-terangan dilanggar. Korupsi secara wacana ditolak, tetapi realitasnys koruptor semakin banyak dan bebas berkeliaran.
Kedua, Enggan Bertanggungjawab atas Perbuatannya. Dicontohkan oleh cendikiawan ini, banyak birokrat yang enggan bertanggungjawab untuk perbuatannya, melimpahkan tanggung jawab ke bawahannya dan seterusnya, sampai ke level birokrasi yang terendah.
Ketiga, jiwa feodal. Sikap dan menjadi kultur yang sarat dengan nepotisme, melahirkan kolusi dan nepotisme. Penghargaan palsu berbasis kekuasaan dan menafikan meritokrasi.
Keempat, Percaya Takhayul. Sikap hidup yang sering bertumpu pada irrasionalitas dalam berbagai sisi kehidupan: pengobatan, kegiatan ekonomi dan juga persaingan kekuasaan
Kelima, Artistik. Sikap dan preferensi kehidupan yang punya kecenderungan rasa seni dan kreativitas. Sikap yang menurut Mochtar Lubis pantas untuk terus ditumbuh-kembangkan, untuk mendorong inovasi dan kreativitas.
Keenam, Watak yang Lemah. Tidak berani bertanggung-jawab, mencari pembenaran (rasionalisasi) terhadap keadaan dan hasil dari perbuatan.
Menyimak pemikiran Mochtar Lubis di atas, dan relasinya dengan realitas dewasa ini, dari enam sifat di atas, yang sampai hari sangat menonjol, yakni sifat: MUNAFIK, ENGGAN BERTANGGUNGJAWAB, JIWA FEODAL, dan WATAK YANG LEMAH.
By the way, Mengenang kembali kebijakan luar negeri visioner dari Presiden Soekarno tentang Poros Kekuatan: Jakarta - Hanoi, Pyongyang - New Delhi - Beijing, untuk membendung kekuatan Barat yang liberal kapitalistik ekspansionist, ketertinggalan kita dibandingkan dengan China, India dan juga Vietnam, akibat karakter buruk di atas.
Diperlukan revolusi besar berupa Revolusi Kebudayaan untuk menghadapi hambatan budaya akut di atas, sehingga kita sebagai bangsa tidak menjadi "bulan-bulanan" kepentingan China, dan semakin ditinggalkan oleh kemajuan India.
*) I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan.