Banner Bawah

Isu: Charter Pesawat dan Fufu Fafa, Ekspresi Kemunafikan Manusia Indonesia

Admin - atnews

2024-09-26
Bagikan :
Dokumentasi dari - Isu: Charter Pesawat dan Fufu Fafa, Ekspresi Kemunafikan Manusia Indonesia
I Gde Sudibya (ist/Atnews)

Oleh I Gde Sudibya
Isu viral berminggu-minggu di media sosial dengan tema: Charter Pesawat yang diduga dilakukan Kaesang, akun FUFU FAFA yang diduga dimiliki Gibran, dengan silang sengkarut meluas di medsos, memberikan indikasi dari karakter kemunafikan pada sebagian manusia Indonesia.

Dalam silang sengkarut dari isu ini, menarik disimak kembali Pidato Kebudayaan wartawan senior Mochtar Lubus, di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta, 6 April 1977.

Wartawan senior ini, dalam orasi kebudayaanya bertajuk: Menguak Enam Sifat  Manusia Indonesia, yakni: 

Pertama, Hipokritis dan Munafik.
Dinyatakan, manusia Indonesia munafik, bicara penegakan hukum, tetapi hukum terang-terangan dilanggar. Korupsi secara wacana ditolak, tetapi realitasnys koruptor semakin banyak dan bebas berkeliaran.

Kedua, Enggan Bertanggungjawab atas Perbuatannya. Dicontohkan oleh cendikiawan ini, banyak birokrat  yang enggan bertanggungjawab untuk perbuatannya, melimpahkan tanggung jawab ke bawahannya dan seterusnya, sampai ke level birokrasi yang terendah.

Ketiga, jiwa feodal. Sikap dan menjadi kultur yang sarat dengan nepotisme, melahirkan kolusi dan nepotisme. Penghargaan palsu berbasis kekuasaan dan menafikan meritokrasi.

Keempat, Percaya Takhayul. Sikap hidup yang sering bertumpu pada irrasionalitas dalam berbagai sisi kehidupan: pengobatan, kegiatan ekonomi dan juga persaingan kekuasaan 

Kelima, Artistik. Sikap dan preferensi kehidupan yang punya kecenderungan rasa seni dan kreativitas. Sikap yang menurut Mochtar Lubis pantas untuk terus ditumbuh-kembangkan, untuk mendorong inovasi dan kreativitas.

Keenam, Watak yang Lemah. Tidak berani bertanggung-jawab, mencari pembenaran (rasionalisasi)  terhadap keadaan dan hasil dari perbuatan.

Menyimak pemikiran Mochtar Lubis di atas, dan relasinya dengan realitas dewasa ini, dari enam sifat di atas, yang sampai hari sangat menonjol, yakni sifat: MUNAFIK, ENGGAN BERTANGGUNGJAWAB, JIWA FEODAL, dan WATAK YANG LEMAH.

By the way, Mengenang kembali kebijakan luar negeri visioner dari Presiden Soekarno tentang  Poros Kekuatan: Jakarta - Hanoi, Pyongyang - New Delhi - Beijing, untuk membendung kekuatan Barat yang liberal kapitalistik ekspansionist, ketertinggalan kita dibandingkan dengan China, India dan juga Vietnam, akibat karakter buruk di atas. 

Diperlukan revolusi besar berupa Revolusi Kebudayaan untuk menghadapi hambatan budaya akut di atas, sehingga kita sebagai bangsa tidak menjadi "bulan-bulanan" kepentingan China, dan semakin ditinggalkan oleh kemajuan India.

*) I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Sungai Tulamben Meluap,  Lalin Karangasem - Singaraja Lumpuh 

Terpopuler

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Soroti Kasus Kekerasan Anak, Seniasih Giri Prasta Tekankan Pentingnya Ikatan Emosional Orang Tua dan Anak

Soroti Kasus Kekerasan Anak, Seniasih Giri Prasta Tekankan Pentingnya Ikatan Emosional Orang Tua dan Anak

Dugaan Kekerasan Terhadap Anak, Pengelola Panti Asuhan di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali Ditahan Polisi

Dugaan Kekerasan Terhadap Anak, Pengelola Panti Asuhan di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali Ditahan Polisi

Ribuan Siswa Kodiklatal Gelar Lattek Wira Jala Yudha, dan Aksi Bersih Pantai di Pantai Mertasari Sanur Denpasar Bali

Ribuan Siswa Kodiklatal Gelar Lattek Wira Jala Yudha, dan Aksi Bersih Pantai di Pantai Mertasari Sanur Denpasar Bali