De Gadjah Minta Nasehat ke Puri Kauhan Ubud, Ari Dwipayana; Hibah Hak Masyarakat, Pilkada Momen Adu Gagasan
Admin - atnews
2024-09-16
Bagikan :
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud AAGN Ari Dwipayana (ist/Atnews)
Gianyar (Atnews) - Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud AAGN Ari Dwipayana yang juga Koordinator Staf Khusus Presiden menerima simakrama Bakal Calon (Cagub) Gubernur Bali Made Muliawan Arya yang akrab dipanggil De Gadjah yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Bali di Puri Kauhan Ubud, Gianyar.
De Gadjah datang diterima di Bale Gajah Puri Kauhan Ubud, Redite Pon Julungwangi, Minggu (8/9).
Menurutnya, Drama Gong menjadi pertunjukan populer di Bali sejak tahun 1960-an. Pada tahun 1980, Clifford Geertz menulis buku yang berjudul Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali (Negara Drama).
Begitu juga pada tahun 2000-an, Mas Cornelis Lay dan Cak Sukardi Rinakit juga menyebut-nyebut tentang Melodramatic Society.
Sedangkan pada tahun 2024, De Gajah muncul dengan tagline: No Drama. "Apa artinya bagi Bali?," tanyanya.
Pada pertemuan simakrama itu, De Gajah menyampaikan, sebagai anak muda, De Gajah ingin mendatangi para penglingsir di Bali, termasuk ke Puri Kauhan Ubud, untuk mesimakrama sekaligus meminta nasehat, kritik dan masukan karena akan maju menjadi Calon Gubernur Bali.
"Saya sebagai warga Bali dan juga warga Puri menyambut dengan baik sikap rendah hati De Gajah yang mau mendatangi berbagai kalangan mulai krama rakyat kecil sampai para penglingsir, untuk meminta masukan, kritik dan nasehat," ujarnya.
Ari Dwipayana menekankan "sesana/etika" seorang pemimpin atau calon pemimpin menurut sastra agama Hindu di Bali adalah "andhap asor", tidak boleh bersifat "Nyapa Kadi Aku": arogan, sombong, angkuh, merasa paling benar, merasa paling kuat, atau merasa diatas segalanya.
Ia mengajak De Gajah untuk mendiskusikan beragam masalah krusial di Bali yang kesan banyak orang menjadi Autopilot, dibiarkan begitu saja tanpa solusi: mulai soal sampah, kemacetan, keamanan, ketimpangan antardaerah, angka bunuh diri tertinggi di Indonesia, lemahnya perhatian pada masalah-masalah pendidikan, politisasi desa adat, defisit anggaran APBD, keterpinggiran sektor pertanian, sampai dengan masalah-masalah di sektor pariwisata. Model kepemimpinan autopilot seperti ini harus diubah, diakhiri.
Ia juga berharap De Gajah dan para kandidat lainnya menggunakan momen Pilkada ini untuk bertanding dengan ksatrya. Jangan lagi menggunakan cara-cara berpolitik lama, yang "melog-melog" masyarakat yang saat ini sudah semakin kritis.
Justru krama/ masyarakat Bali harus diajak makin cerdas berpolitik dengan meningkatkan literasi dan edukasi politik.
Contohnya literasi politik tentang APBD. Banyak kandidat yang mengklaim bantuan hibah/alokasi dana dari APBD ke masyarakat sebagai sifat kebudimanan seorang pemimpin, padahal sesungguhnya itu hak masyarakat. "Jadi momen Pilkada harusnya ajang adu gagasan, ajang bertanding program untuk kemajuan Bali kedepan," pungkasnya. (GAB/ART/001)