Denpasar (Atnews) - Pengamat Budaya Kontemporer I Gde Sudibya sependapat dengan Setuju dengan pendapat Mahardika Zifana dalam tulisan dalam situs https://balaibahasa.upi.edu.
Merujuk tradisi intelektual Yunani, hanya ada dua gelar akademik Dr dan Drs (calon doktor).
Mereka yang melalui risetnya sesuai kaidah keilmuan, dan norma yang lazim berlaku di dunia akademik, bisa mendapatkan gelar Dr.sesuai bidang keilmuannya.
Dr. adalah prestasi akademik tertinggi, dengan menggunakan logika tradisi Yunani, mereka yang mencapai gelar Dr. tidak perlu lagi mencantumkan gelar sebelumnya, yang bisa mereduksi kepakaran dalam referensi gelar Dr.-nya.
Dalam tradisi Yunani, gelar ini harus disebutkan dalam kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan bidang keilmuannya.
Contoh, ekonom ternama yang lahir di Santiniketan India, Amartya Sen, pemenang hadiah Nobel ekonomi tahun 1998, dari hasil risetnya menggambarkan keakhliannya di bidang ekonomitri (kajian statistik dan matematika ekonomi) pada isu: kemiskinan, kelaparan, ketimpangan pendapatan).
Amartya Sen, wajib mencantumkan gelar Dr.pada sebut saja konferensi internasional tentang tema Kemiskinan Global.
Demikian juga Dr.Mohammad Yunus, ekonom pemenang hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006, yang sekarang menjadi Presiden Sementara Bangladesh. Dalam tradisi Yunani, gelar Drs (calon doktor) dicantumkan bagi periset dalam melakukan riset dalam persiapan mencapai jenjang akademik tertinggi dengan kualifikasi Dr.
"Tidak seperti di sini, gelar dipasang berderet, bisa di depan rumah, kartu undangan pernikahan dan kampanye politik," ujar Sudibya di Denpasar, Sabtu (7/9).
Publikpun tahu, kualitas mereka, menyimak pendapatnya dan unggahannya di medsos. Dan atau hanya diam, yang diduga publik (dugaan yang bisa benar dan bisa salah) upaya untuk menyembunyikan (to hide) kemampuannya yang pas-pasan (marginal intelectual capasity).
Sementara itu, Mahardika Zifana mengungkapkan sebagian orang mungkin bertanya-tanya, kalau tidak ditulis di depan atau belakang nama, untuk apa susah-susah sekolah sampai lulus dari perguruan tinggi? Apalagi jenjang S3.
Selain bahwa penulisan nama pada tulisan ilmiah adalah soal konvensi akademik yang harus dijunjung tinggi, pertanyaan semacam itu tentu saja salah karena pada hakikatnya orang sekolah dan belajar, bukan untuk mendapatkan gelar maupun ijazah. Tujuan orang sekolah dan belajar secara formal adalah membentuk dan menyempurnakan ilmu, pengetahuan, keterampilan, sikap, mental, maupun kepribadian secara keseluruhan.
Bahwa gelar dan ijazah itu penting tentunya memang tidak dapat dibantah. Akan tetapi, perlu diingat pula bahwa gelar dan ijazah adalah sebatas pembuktian administrasi tentang proses formal belajar yang telah dilalui di lembaga perguruan tinggi, tidak lebih dari itu.
Ijazah dan gelar tentu diperlukan untuk menyatakan bahwa seseorang yang telah belajar dianggap layak atau memiliki kompetensi keilmuan tertentu, maka penulisan gelar yang menyertai nama dalam hubungannya dengan pekerjaan atau jabatan dapat relevan. Dalam konteks lain, ini tentu saja tidak.
Contohnya, jika seorang Doktor Filsafat dalam bidang linguistik menulis gelar Dr. di depan namanya ketika menulis dirinya sebagai penyumbang sembako di Balai Desa, tentu ini tidak relevan. Lain halnya jika ia hendak mengajar di dalam sebuah mata kuliah Linguistik, Gelar Dr. harus dicantumkannya sebagai bukti administrasi bahwa ia memiliki kompetensi untuk mengajar dalam mata kuliah linguistik dan ia dianggap memiliki kompetensi atau otoritas keilmuan untuk melakukan transfer ilmu.
Dalam persoalan menulis akademik, apakah itu juga bukan pekerjaan yang perlu dilihat secara kompetensi gelar? Sekali lagi, konvensi ini tentunya muncul dari tradisi panjang pengelolaan tulisan ilmiah. Perlu kembali ditekankan, bahwa gelar dan ijazah bukan jaminan nyata yang terukur tentang kontribusi yang dapat disumbangkan oleh seseorang dalam tulisan.
Sekalipun seseorang memiliki nilai akhir 4.0 atau A untuk semua mata kuliah dengan predikat summa cum laude, dengan tulisan tinta emas di ijazah, itu bukan jaminan yang bisa menyatakan bahwa tulisannya mereka akan lebih sempurna daripada mereka yang hanya lulus sekolah pada jenjang yang lebih rendah.
Dalam bidang literatur keilmuan, kontribusi bukan soal gelar apa pun, tapi soal kualitas dari apa yang Anda tuliskan sesuai bidangnya masing-masing.
Hal tersebut masih dalam aspek teoretis dan literatur ilmu. Apalagi dalam konteks penerapan ilmu dan manfaatnya di tengah masyarakat.
Banyak sekali bukti soal itu. Bill Gates yang tidak selesai kuliah di Harvard menunjukkan fakta bahwa kontribusi yang dia berikan terhadap masyarakat jauh lebih hebat daripada doktor-doktor terbaik yang pernah lulus dari Harvard.
Sebelumnya, Drs. I Ketut Donder, Mag., Ph.D selalu Ko-Promotor dan Membacakan Pesan Prof. Dr. Wayan Suka Yasa kepada Doktor Ke- 156 Universitas Hindu Indonesia (UNHI) yang bernama Dr. Ida Bagus Wiradnyana, S.Pd., M.Ag. di Denpasar, Kamis (5/9).
Acara itu dihadiri Ketua Sidang Ujian Terbuka sekaligus Rektor UNHI, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, MS., Sekretaris Sidang Ujian Terbuka, Prof. Dr. I Putu Gelgel, SH., M.Hum, Penguji Eksternal, Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn.,.
Para Anggota Dewan Penguji; yaitu (1) Prof. I Ketut Suda, (2) Prof. Ida Bagus Gede Yudha Triguna, MS., (3) Prof. Dr. Ir. Euis Dewi Yuliana, MS., (4) Prof. Dr. Dra. Ida Ayu Komang Arniti, M.Ag., (5) Dr. Drs. I Gusti Bagus Wirawan, M.Si., (6) Dr. I Gusti Agung Paramita, S.Ag., M.Si.
"Saya berterima kasih kepada UNHI Denpasar, Pasca UNHIyang telah melibatkan saya sebagai Ko-Promotor untuk melahirkan seorang Doktor," kata Donder.
Selain itu, pihaknya mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada Jro Mangku Prof. Dr. Drs. Wayan Suka Yasa, M.Si., sebagai Promotor yang menugasi pihaknya membacakan Kesan dan pesan-pesan kepad Doktor Baru Dr. Ida Bagus Wiradnyana, SPd., M.Ag., (IB Nyana).
Donder memuji hasil kerja keras dari Ida Bagus Wiradnyana dan para promotor yang membimbing secara sungguh-sungguh hasilnya tidak mengecewakan Tim Promotor, karena Ida Bagus Wiradnya lulus dengan IPK 3,95 (Cum Laude).
Pesan yang mesti disampaikan lumayan panjang, tapi intinya menjadi Doktor harus memiliki kemampuan menganalisis secara teoretis hal-hal praktis yang ada dalam masyarakat hingga menjadi bangunan ilmu. "Doktor adalah Pemikir bukan Tukang," imbuhnya.
Dalam membacakan kesan tersebut, pertama-tama pihaknya menyampaikan ucapan selamat kepada saudara Dr. Ida Bagus Wiradnyana, S.Pd., M.Ag., sebagai doktor yang ke-156; beserta seluruh keluarga.
"Kami dapat membayangkan dan merasakan betapa bahagianya suatu keluarga jika memiliki putra atau putri yang dapat menyelesaikan jenjang Pendidikan tertingginya hingga Doktor atau S3. Kepada para hadirin yang putra-putrinya sedang menempuh Pendidikan S3, mari kita doakan agar mereka dapat menyelesaikan Pendidikan Doktornya secara baik dan benar serta tepat waktu sehingga memperolehnya pun secara benar," ujarnya.
Tidak ada gunanya gelar kesarjanaan yang berderet-deret jika tidak memiliki karakter yang baik, karakter adalah paling utama dalam Pendidikan.
Swami Vivekananda menyatakan: “education without character is not education et all” artinya bahwa Pendidikan tanpa karakter bukanlah Pendidikan sama sekali. Seorang sarjana yang berkarakter baik tidak akan melacurkan dirinya demi uang dan jabatan. Sarjana yang berkarakter tidak akan mencelakakkan dirinya dan orang lain.
Berdasarkan konsep penanaman karakter yang baik tersebut, maka Tim Promotor, yaitu yth. Prof. Dr. Drs. I Wayan Suka Yasa, M.Si., sebagai promotor dan Drs. I Ketut Donder, M.Ag., Ph.D., sebagai Ko-Promotor betul-betul menggodog Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana, S.Pd., M.Ag., dalam proses pembuatan Disertasinya.
Sebab kualitas seorang doktor, oleh masyarakat akan senantiasa dikait-kaitkan dengan promotornya. Karena itu sebagai konsekuensi langsung dari tanggungjawab Tim Promotor, maka kami melakukan proses bimbingan “cukup keras”.
Apalagi saat proses bimbingan penulisan disertasi masih banyak ditemukan kesalahan-kesalahan baik secara teknis maupun secara teoretis, oleh karena itu hampir setiap bimbingan kami senantiasa memberikan pesan-pesan berkarakter “jangan hanya ingin cepat lulus, untuk apa cepat-cepat lulus kalau hanya alasan kuala pang dadi Doktor (asal jadi Doktor).
Selain itu pihaknya juga sering menyampaikan pesan-pesan berkarakter, seperti berikut: “jangan menjadi Doktor jika hanya ngentuk-ngetukin jalan saja”.
Namun pihaknya tahu bahwa pada saat Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana, SPd., M.Ag., sangat jengkel mendengar kata-kata itu, karena sesungguhnya dia juga ingin cepat lulus sesuai dengan pertimbangannya yang logis juga.
Tetapi, itulah cara Tim Promotor dalam menggodog Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana, SPd., M.Ag., agar ia menjadi Doktor yang sesuai dengan namanya, yaitu Wira (berani dan pantang mundur) karena adnyana atau pengetahuan.
Jadi spirit Dr. Ida Bagus Gede Wiradnya sangat sesuai dengan makna namanya, yakni “berani karena benar”. Apa yang pihaknya sampaikan tidak berlebihan, sebab hasil riset Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana amat sangat baik dan banggakan utamanya bagi Tim Promotor apalagi IPK 3,95 Cum Laude.
Hasil riset Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana bukan saja menambah Taksu ajaran Hindu, tetapi juga ajaran Hindu menjadi berwibawa, karena jika dibaca secara keseluruhan dan dibaca secara mendalam, disertasi Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana banyak eksplanasinya bersifat spiritual saintifik yang argu-menttasinya bersesusuaian dengan ilmu yang dianggap paling mutahir saat ini, yaitu fisika kuantum, salah satu bagian terhalus dari alam, yaitu mahat, pikiran Tuhan yang menyangga alam semesta diunkap dalam Disertasi ini.
Ketika Sang Dwija atau Sang Purnadiksa berkontemplasi, maka Manah Sang Dwija akan saling beresonansi dengan Mahat Jagat Raya. Itulah esensi dan eksistensi yang diuraikan dalam disertasi Dr. Ida Bagus Wiradnyana, S.Pd., M.Ag., sehingga disertasi ini saya pandang sangat luar biasa aksiologinya.
Pada saat Donder membacakan Kesan dan Pesan kepada Doktor baru itu, Donder menambahkan: “Jika Dr. Ida Bagus Gede Wiradnya, SPd., M.Ag., diumpamakan sebagai “seekor ayam aduan”, maka pihaknya promotor berani melepas di kalangan tajen yang paling bergensi sekalipun dan kami akan ikut berteriak COK GASAL-COK GASAl walaupun saya tidak tahu artinya cok-gasal-cok-gasal, karena kami bukan bebotoh. Artinya, bahwa dalam Bahasa Bali, bahwa Dr. Ida Bagus Gede Wiradnya “siap terjun ke masyarakat apalagi aktivitas religiusnya (upakara-upacara) di masyarakat sangat tinggi frekuensinya dan telah dilakukan sejak masih sangat muda”.
Oleh sebab itu, pihaknya sebagai Promotor sekali lagi mengucapkan selamat kepada seluruh keluarga Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyata atas selesainya ujian terbuka ini. Saudara secara langsung atau tidak langsung menjadi kebanggaan keluarga, sebab: Canakya Niti Sastra III.14 “Seluruh hutan menjadi wangi hanya karena ada sebuah pohon dengan bunga indah dan harum semerbak. Begitu juga halnya kalau di dalam keluarga terhadap seorang anak yang suputra”; Canakya Niti Sastra III.16 “Sebagaimana bulan menerangi malam hari dengan cahayanya yang terang menyejukkan, begitulah seorang anak suputra yang berpengetahuan rohani, sadar akan dirinya dan bijaksana. Anak suputra ini menyebabkan seluruh keluarganya selalu dalam kebahagiaan”. Pada kesempatan itu, Tim Promotor untuk menyampaikan kewajiban memaparkan secara singkat Disertasi Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana, S.Pd., M.Ag.,
Esensi terpenting yang harus disampaikan adalah bahwa disertasi ini menggali hakikat terjauh dan terdalam dari praktik Mapulang Lingga pada Institusi Diksa Pandita Siwa di Kabupaten Gianyar sebagai Implementasi Yoga Tantra. Berdasarkan realitas pembelajaran unik dan fenomenal yang melibatkan kesararan Supra Natural atau Supra Kosmis, maka prosesi Mapulang Lingga ini sangat sesuai dengan Teori Yoga Tantra, yang mana teori ini senantiasa dirujuk oleh Prof. Dr. I Wayan Suka Yasa dalam berbagai karya dan berbagai perkuliahan serta berbagai acara seminar.
Sehingga temuan ini sebagai hasil analisis kritis dengan menggunakan lima teori secara eklektik ter-hadap prosesi mapulang lingga sebagaimana telah uraian secara panjang lebar sejak awal uraian latar belakng penelitian hingga sampai pada uraian temuan ini, maka sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 154 tahun 2014 tentang Monodisiplin, Multi-disiplin, Interdisiplin dan Transdisiplin, maka dapat dikatakan bahwa sebagai temuan dari penelitian ini melahirkan teori baru yang disebut dengan Teori Paripurna Diksa Yoga Tantra sebagai derivate (1) dari teori Yoga Tantra derivate (2) dari teori Tantra yang praktiknya telah dikenal secara luas oleh umat Hindu di Bali. Kebenaran teori baru ini dapat dijamin kebenarannya dengan syarat bahwa proses aguron-guron sang calon Diksita dilalui secara benar sesuai sastra sebagaimana dinyatakan oleh pustaka suci Brahma Sutra I.1.3 Śastrayonitvāt "Pustaka Suci adalah pedoman yang paling tepat untuk memahami Tuhan". Temuan ini menjadi tantangan baru bagi para calon Diksita. Seorang calon Diksita akan melakukan Mapulang Lingga sebagai Paripurna Diksa setelah nabe-nya atau gurunya memandang Sisya-Diksita-nya atau muridnya telah mengalami Transformasi atau Realisasi Diri. Prosesi upacara inisasi Mapulang Lingga ini sebagai prosesi Paripurna Diksa.
Temuan ini teoretis ini akan menjadi faktor semakin terjaminnya kualitas kepanditaan di Bali. 1. Prosesi mapulang lingga adalah sebuah teks verbal yang terus-menerus ditafsirkan oleh para paṇḍita nabé “ahlinya” agar dalam dimensi fungsi selalu relevan dengan tantangan dan tuntutan zaman. 2. Sikap hormat yang ditunjukan oleh masyarakat, baik secara langsung atau pun tidak langsung terhadap kehadiran sang paṇḍita yang berstatus pari-purna dīkṣā di tengah-tengah mereka, kemudian menjadikan para dīkṣita ini sebagai figur panutan “rujukan hidup” baginya, analog dengan tang-gapan atau respon para pembaca terhadap sebuah karya sastra dalam teori resepsi. 3. Eksistensi sang pandita di tengah-tengah masyarakat sangat ditentukan oleh kepemilikan empat modal dirinya. 4. Teori Yoga Tantra, secara ontologis ada tiga jalan suci (sadhana telu) untuk mencapai kelepasan, yaitu jñana byodreka (literasi), indria yoga marga (praktek yoga), dan tresna dosa kṣaya (sasana atau etika). Kelepasan ini bisa dicapai melalui mandala, kala, yantra, mudra, mantra, kutha mantra, pranawa. Aksiologisnya adalah: (i) mokṣataṁ jagaddhita, karena terpenuhinya dharma (prilaku baik), artha (kesejahteraan), kama (rasa senang); dan (ii) mokṣataṁ ātmānam yang artinya mencapai kebahagiaan sejati setelah meninggalkan raga, atau mencapai Kelepasan. Sejak hasil riset seorang ilmuwan Jepang, yaitu Dr. Masaru Emoto (2001) berjudul: The Hidden Messages in Water yang menemukan bahwa partikel air akan berubah posisi (strukturnya) ketika menerima kata-kata yang berbeda. Hasil riset Dr. Masaru Emoto menemukan bentuk kristal exacgonal yang bebeda-beda setelah diberikan formulasi kata-kata yang berbeda. Dr. Masaru Emoto yang memiliki latar belakang ilmu Barat, atau ilmu dalam bingkai paradigma Positivistik, maka Emoto merasa masih malu-malu mengatakan bahwa air memiliki kesadaran.
Kabar tentang hasil penelitian Dr. Masararu menjadi rujukan utama bagi orang-orang yang berbicara tentang metafisika. Termasuk para mahasiswa S3 Hindu di Indonesia dan di India merujuk hasil penelitian Dr. Masaru Emoto, sebagaimana dapat dibaca di berbagai media yakni Twitter, Instagram, Facebook, sbb. Padahal apa yang ditemukan oleh Dr. Masaru Emoto tentang itu telah dinyatakan dalam berbagai Upanisad (800-600 SM) bahwa Panca Maha Bhuta memiliki kesadaran karena Panca Maha Bhuta lahir bersamaan dengan Asta Prakriti yang ada dalam Gudang Semesta Hiranyagarbha.
Karena itu Veda menyatakan bahwa ada Kesadaran yang menyangga alam semesta ini sebagaimana banyak dikutip dalam Disertasi ini, antara lain: 1. Brhad Aranyaka Upanisad I.4.1, menyatakan "Atmaivedam agra asit purusavidhah" artinya "Pada permulaannya dunia ini adalah Atma atau Roh". 2. Brhad Aranyaka Upanisad I.5.19, menyatakan: "divas cainam adityaac ca daivam mana avisati, tad vai daivam mano yenanandy eva bhavati, atho na socati", artinya: "Dari Sorga dan matahari, pikiran Tuhan memasukinya. Sesungguhnya pikiran Tuhan itulah yang menyebabkan orang selalu bersukacita dan tidak pernah sedih". 3. Chandogya Upanisad III.14.1 menyatakan: "Sarva khalv idam Brahman", artinya: "Sesungguhnya Alam Semesta ini adalah Brahman". 4. Chandogya Upanisad VI.2.1 juga menyatakan: "Sa eva saumya, idam agra asid ekam evādvityam" artinya: "Pada permulaannya hanya ada satu Wujud Yang Esa ini". 5. Aitarea Upanisad I.1.1 menyatakan: "Atmā vā idam eka evāgra asit", artinya: "Jiwa sajalah sesungguhnya yang ada pada permulaan" 6. Paingala Upanisad IV.22 menyatakan: "Tatra tatra param brahma, sarvatra samavasthitam", artinya: "Brahman yang transendental berada di mana-mana" 7. Taittirya Upanisad II.1.1 menyatakan: "Brahmavid āpniti param" artinya: "Yang mengerti Brahman akan menjadi Brahman". 8. Katha Upanisad II.2.10 menyatakan: "Vāyur yathaiko bhuvanam pravisto rūpam rūpam prati rūpo babhūva, ekas tathā sarva bhūtāntar ātma rūpam prati rupo bahis ca", artinya: "Seperti juga udara yang satu, masuk ke dalam dunia ini dan menjadi berbagai bentuk sesuai dengan objek yang dimasukinya, demikian juga Àtman yang satu dalam semua mahluk menjadi berbagai macam, sesuai dengan apa yang dimasukinya, dan juga tetap berada di luar semuanya".
9. Masih banyak lagi sumber tentang Upanisad yang secara eksplisit menjelaskan bahwa alam semesta disangga oleh kesadaran. Sekali lagi pihaknya ulangi, bahwa apa yang ditemukan oleh Dr. Masaru Emoto telah diungkapkan dalam beberapa Upanisad 800-600 SM., mengapa baru pada abad ke-20 kebenaran Upanisad itu dapat dibuktikan dan yang membuktikan bukan intelektual Hindu? Tentang pertanyaan ini Dr. Thakkar memberikan jawaban bahwa: “bangsa Timur termasuk para intelektual Hindu selalu membutuhkan bantuan orang asing untuk membangunkan dari kelembamannya”.
Sesungguhnya banyak sekali pakar Barat yang memuji keilmiahan ajaran Veda, saat ini ada buku yang mengungkapkan bagaimana para sarjana Barat menyatakan kekagumannya pada ketinggian dan keilmiahan dari ajaran Hindu yang bersumber dari Veda.
Beberapa di antaranya, yaitu: 1. W. Heisenberg-Fisikawan Jerman, menyatakan “Setelah perbincangan tentang filsafat Hindu, beberapa gagasan fisika kuantum yang tadinya tampak begitu gila tiba-tiba menjadi lebih masuk akal; 2. J. Donald Walters, menyatakan “Satu daya tarik khusus mempelajari filsafat India dewasa ini adalah bahwa ia adalah lebih serius dan lebih dalam, dalam arti modern, ilmiah, dibanding sistim filsafat manapun yang telah dihasilkan Barat. Sedangkan rasionalisme Barat telah pecah di bawah dampak dari penemuan-penemuan ilmiah, pemikiran India (Hindu) dengan gembira menunggang puncak gelombang, dan diangkat lebih tinggi oleh setiap temuan ilmiah baru.” 3. Prof. Klostermaier menulis: “Agama Hindu telah terbukti jauh lebih terbuka dibandingkan agama lain manapun terhadap ide-ide baru, pemikiran ilmiah dan percobaan sosial. Banyak konsep seperti reinkarnasi, meditasi, yoga dan yang lain telah diterima dunia. “Agama Hindu akan menjadi agama dunia. Agama Hindu akan menyebar melalui karya-karya para intelektual dan para penulis yang telah menemukan esensi ajaran Hindu. Sejumlah pakar Fisika dan Biologi menemukan paralisme Hindu dan sains.” 4. Anie Besant (1847-1933) seorang wanita Pemimpin Teosofi Inggris: menyatakan bahwa: “Setelah mempelajari selama 40 tahun lebih tentang agama-agama besar dunia, saya menemukan tidak ada yang begitu sempurna, tidak ada yang begitu ilmiah, tidak ada yang begitu filosofis, dan tidak ada yang begitu spiritual sebagai agama besar, kecuali Agama Hindu. Semakin Andamengetahuinya, semakin Anda menyukainya; semakin Anda mencoba memahaminya, maka semakin dalam Anda akan menghargainya”. 5. Gerald Heard menyatakan: Vedanta merupakan keterangan yang sangat ilmiah tentang Hukum-hukum yang mengatur alam semesta’ Dr. Kenneth Walker menyatakan: “Vedanta merupakan suatu usaha untuk meringkas seluruh pengetahuan manusia dan membuat manfaat seluruh pengalaman manusia. Pada suatu saat Vedanta adalah agama, pada saat lainnya adalah filsafat, dan saat lainnya lagi Vedanta adalah ilmu Pengetahuan”. 6. Pandangan Prof. D.C. Morgan: seorang Guru Besar Matematika, Menyatakan: Bahkan pencapaian tertinggi dan terjauh dari Matematika Barat modern, masih belum membawa dunia Barat ke ambang Matematika Veda India Kuno. (Mavinkurve, 1995: 43).Pusataka-pustaka Upanisad dan Sutra, khususnya Brahma Sutra dan Yoga Sutra-nya Patanjali Memperkuat Penyataan Vedanta: Pradipah sarva dipanam upayah sarava Karanah (Lampu yang cemerlang menyinari semua Sistem pengetahuan dan memberikan tuntunan yang efesien pada semua kegiatan duniawi.” Itulah sebabnya, pihaknya Tim Promotor untuk memotivasi Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana, SPd., M.Ag., untuk nekat menembus batas teori-teori Tantra.
Sehingga penelitiannya dapat membangun teori baru yaitu Paripurna Diksa Yoga Tantra sebagai Derivat I dari Teori Yoga Tantra, dan Derivat II dari Teori Tantra sebagaimana dikenal secara luas oleh para sarjana Tantra.
Jika di atas diuraikan berupa temuan yang bersifat teoretis, maka berikut juga ada temuan yang bersifat praktis-implementatif, sbb: 1. Prosesi mapulang lingga sebagai paripurna dīkṣā yang dapat juga disebut yoga tantra kapanditān, merupakan implikasi kosmologis atau implikasi teo-kosmoligis, yang artinya ada hubungan antara kualitas kependetaan dengan keharmonisan alam semesta, prihal yang ada kesamaanya dengan teori Monade (Monad Theory). 2. Prosesi mapulang lingga sebagai paripurna dīkṣā yang dapat juga disebut yoga tantra kapanditān, merupakan implikasi kosmologis atau implikasi teo-kosmoligis, yang artinya ada hubungan antara kualitas kependetaan dengan keharmonisan alam semesta, prihal yang ada kesamaanya dengan teori Monade, (Hamersma: 1984). 3. Prosesi mapulang lingga merupakan jalan untuk mencapai Realisasi Diri (Self-Realization) atau upaya mewujudkan kesadaran Atman atau kesadaran Brahman. 4. Prosesi mapulang lingga merupakan sertifikasi, dan publikasi, pencapaian proses aguron-guron (pelembagaan pembelajaran ekslusif) dalam bentuk anyaman sains dan teknologi fisik-metafisik “para-aparavidya” atau praktik ritual spiritual kontemplatif supra rasional ultra saintifik yang dilaksanakan oleh sang dīkṣita (sisya) di bawah bimbingan guru nabé-nya (sista) untuk mewujudkan suddha (kesucian); sadhu (kebijaksanaan); siddhi (mirakel/ kemukjizatan); dan siddha (keberhasilan) dalam dirinya sehingga dirinya layak menyandang predikat paripurna dīkṣā atau sampurna dīkṣā “perwujudan siwa sakala”. 5. Prosesi mapulang lingga merupakan koitus suci, sebuah praktik trantra yang menggunakan elemen-elemen tantra yang telah mengalami penghalusan “sublimasi”. Sesirat lingga yang dicelupkan pada śivambha meru-pakan bentuk koitus suci yang melahirkan tirta pamuput sarwaning karya utama (air suci yang dapat menuntaskan berbagai ritual utama) yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali pada khususnya. Praktik trantra ini analog dengan keberadaan gunung dan laut sebagai hulu dan hilir pada alam semesta ini, dimana keduanya secara terus-menerus saling berkelindan memunculkan kesuburan dalam bentuk lingkaran kehidupan abadi. Berdasarkan delapan temuan di atas, baik temuan teoritis maupun temuan praktis dapat dirumuskan menjadi satu formulasi, bahwa Prosesi Mapulang Lingga Institusi Dīkṣā Paṇḍita Śiwa di Kabupaten Gianyar merupakan pengejawantahan ajaran Brahmarahasyam sebagaimana diajarkan dalam ajaran Raja Yoga. Oleh karena itu pembelajarannya harus dituntun oleh seorang Guru yang telah benar-benar mencapai Realisasi Diri (Self Realization). Adapun manuskrip atau literatur Kaśevān yang menjadi autorisasi teks pendukung dari temuan ini, antara lain: lontar Bhuwana Kosa, Wrahaspati tattwa, Ganapati Tattwa, Tattwa Jnana, Jnana Siddhanta, Sanghyang Mahajnana, Tattwa Sangkaning Dadi Jatma, Siwa Sasana, Werti Sasana, Bhuwana Mabah, Bhuwana Sang Kasepa, Agastya Parwa, Aji Saraswati, Silakrama, Dharma Patanjala. Demikian yang dapat kami sampaikan tentang hasil Riset Disertasi Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana, SPd., M.Ag., kami selaku Tim Promotor menyampaikan ucapan selamat kepada saudara beserta keluarga semoga saudara menjadi kembang pengharum keluarga dan masyarakat.
Sebagai catatan penting bagi Dr. Ida Bagus Gede Wiradnya, SPd., M.Ag., sebagaimana sudah sering pihaknya katakan bahwa swadharma utama seorang Doktor adalah berpikir teoretis bukan praktis. Dalam Jenjang Pendidikan yang bersifat praktis ditempuh dalam Pendidikan Diploma I, II, III dan IV profesinya sebagai praktisi dalam Bahasa awam disebut TUKANG, pimpinan tukang disebut MANDOR. Berbeda dengan seorang Doktor, ia adalah seorang PEMIKIR.
Ia mengetahui Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana, SPd., M.Ag., adalah praktisi ritual sejak masih terlalu muda, sehingga profesionalitas saudara dalam praktik ritual agama sudah mapan.
Dengan diperolehnya gelar Doktor Ilmu Agama dan Kebudayaan ini, diharapkan mampu membangun teori dari praktik-praktik yang dilakukan puluhan tahun.
Kemampuan membangun teori seorang Doktor Hindu, maka hasilnya akan menjadi rujukan komprehensif yang cerdas untuk menjelaskan ajaran Hindu yang sering dijawab dengan Mule Keto. Jawaban Mule Keto adalah argumentasi final filosofis yang tidak lagi mampu mengajukan argumentasi.
"Untuk mentradisikan cara berpikir argumentative yang cerdas secara filosofis dan teologis, jika dipandang perlu Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana bisa mendirikan Intitusi Sekolah Tinggi Kepanditaan, pihaknya bersedia mengabdi tanpa honor," pungkasnya. (GAB/001)