Oleh Ketut Budiasa
Setelah gugurnya Kakek Bhisma, Sangkuni mulai mengubah-mengubah aturan perang. Kini terompet sangkakala tidak lagi perlu ditiup saat matahari tenggelam di ufuk barat. Tidak perlu ada jeda perang. Bahkan saat malampun musuh boleh diserang.
Shri Krisna, penasehat Pandawa yang tidak ikut angkat senjata dalam perang Bharatayudha, membisiki Bima. “Bima, panggillah anakmu, Gatotkaca. Dalam perang-perang malam, kita sangat membutuhkan bantuannya”
Maka demikianlah, Gatotkaca, ksatria putra Bhimasena dan Arimbi, masuk gelanggang Kuruksetra. Sangkuni yang sebelumnya berharap akan memperoleh keuntungan dari pertempuran malam, kini malah babak belur. Sebagai Ksatria yang memiliki darah Raksasa, kesaktian Gatotkaca tidak tertandingi oleh ksatria manapun, terutama di malam hari. Merinding ngeri membayangkan kehancuran pasukannya, Duryodana minta Karna maju melawan Gatotkaca.
Dan, satu-satunya peluang Karna mengalahkan Gatotkaca adalah dengan menggunakan senjata sakti anugerah Bhatara Indra yang pasti dapat membunuh siapapun musuhnya di muka bumi, tetapi hanya dapat digunakan satu kali dan itu Ia rencanakan digunakan untuk mengalahkan musuh bebuyutannya: Arjuna.
Gatotkaca roboh oleh senjata yang dilepaskan Karna. Tapi dalam bidak catur Bharatayuda, Gatotkaca hanyalah pion. Perwiranya adalah Pandawa. Terlepas dari kesedihan Bima, tetapi menukar Gatotkaca dengan senjata mahasakti yang didedikasikan untuk membunuh Arjuna jelas game changer yang membuyarkan rencana Sangkuni.
Demikianlah secuil kisah dari satu scene Mahabharata. Mengubah-mengubah aturan tidak selamanya membawa keuntungan. Bisa jadi, di lain waktu, aturan itu juga yang menghukummu. Memelihara ular dan berharap Ia hanya mematuk lawanmu, jelas tidak bijaksana. Karena bisa jadi, suatu saat ia akan mematukmu pula. Itu sudah watak hukum semesta.
Maka Veda mengajarkan: berpeganglah pada Dharma saja. Ia yang melaksanakan Dharma, akan dilindungi oleh Dharma. Itulah perlindungan terbaik. Dharmo raksati rakshitah. (*)