Banner Bawah

Tentang Airlangga

Admin - atnews

2024-07-31
Bagikan :
Dokumentasi dari - Tentang Airlangga
Goenawan Mohamad (ist/Atnews)

Oleh Goenawan Mohamad, dibacakan pada Dies Natalis XXI ISI Denpasar, 20 Juli 2024
Tugas saya hari ini — saya memandangnya sebagai sebuah kehormatan — adalah berbicara tentang “Bangkit Manusia Mulia”. Thema ini bisa mengasyikkan untuk kita bahas bersama, khususnya di masa ini, ketika orang berbisik ataupun berteriak tentang hilangnya rasa malu di antara elite, ketika nyaris tak ada lagi sikap yang mulia dalam kehidupan sosial politik.

Dengan harapan paparan saya ini tak membikin hadirin mengantuk, saya akan lebih banyak bercerita.
Tokoh dalam cerita saya siang ini Airlangga. Perlu saya segera saya katakan, riwayat pangeran Bali yang di abad ke-11 berkuasa di Jawa ini bukan kisah bangkitnya “manusia mulia”. Meskipun di sepanjang riwayatnya kita bisa memetik saat-saat yang memperlihatkan “kemuliaan”.

Kata“mulia,”yang berasal dari bahasa Sanskerta, मलू य्, kurang-lebih sama dengan “luhur”. Umumnya dipakai untuk menilai budi pekerti. Dalam kosa kata agama Kristen, “mulia” sering dihubungkan dengan sifat “Tuhan” dan juga Injil. Terjemahan H.B. Jassin atas Qur’an memakai judul “Bacaan mulia”. Agaknya, “mulia” selalu dikaitkan dengan penilaian yang diberikan bukan untuk keadaan manusia rata- rata sehari-hari. “Mulia” adalah sebuah “tingkatan” — sebuah “pencapaian” tersendiri.

Dalam kalimat “bangkit manusia-mulia” tersirat gambaran manusia sebagai sebuah proses dari pra-mulia ke mulia.

Di sini izinkan saya menyadur kata-kata pemikir Jerman abad ke-19, Friederich Nietzsche. Dalam Also Sprach Zarathustra, Nietzsche menggambarkan manusia sebagai proses menuju ke suatu tahap di mana ia mengatasi, überwunden dirinya sendiri.. Katakata Nietzsche yang termashur: “Manusia ibarat titian tali (ein Seil) yang terentang antara hewan dan Übermensch”.

Kata Übermensch tidak persis bisa diterjemahkan sebagai “manusia mulia”; mungkin dalam khasanah tasawuf Islam, pengertian itu sama dengan “insan kamil”, seseorang yang telah berproses membersihkan apa yang “rendah” dan “kotor” dalam diri, tazkiyat al-nafs. Saya hanya menggunakannya di sini buat mengacu ke suatu keadaan ketika manusia bisa mencapai tingkat itu — sesuatu yang jauh lebih luhur ketimbang manusia rata-rata dan ketimbang hewan.

Riwayat Airlangga adalah proses seperti itu. Tak berarti ia tauladan “manusia mulia.” Tapi kehidupannya diisi saat-saat ketika kemuliaan muncul dan menentukan sejarah.

Airlangga anak sulung Gunapriyadharmapatni dan Raja Udayana dari Badahulu, Bali. Ia lahir tahun 990. Pada usia 16, ia berangkat ke Jawa dan menjadi menantu Raja Dharmawangsa, pamannya, penguasa Medang di masa kerajaan itu berpusat di Jawa Timur.

Tapi apa lacur. Pada hari perkawinannya, ibukota kerajaan diserbu pasukan dari wilayah yang kini disebut Blora. Pemberontakan itu — konon didukung kerajaan Sriwijaya— berhasil. Sebagaimana dicacat dalam prasasti Pucangan, di tahun 1017 Raja Dharmawangsa dan seluruh keluarga beserta punggawanya dibantai. Istana dibakar. Itulah apa yang disebut dalam prasasti sebagai “Mahapralaya” atau “kematian besar” itu.

Tapi Airlangga dan isterinya selamat. Dengan bantuan Mpu Narotama, punggawanya, mereka melarikan diri ke hutan Wonogiri. Mungkin kebetulan mungkin tidak, “Airlangga” berarti “ air yang melompat” — dan sangat pas apabila kita gambarkan keruntuhan Medang bagaikan dihantam banjir bandang.

Di hutan-hutan Wonogiri, Airlangga memutuskan menjadi pertapa — meskipun usianya masih sangat muda. Saya tak tahu, adakah ini sebuah siasat untuk menjauh dari pengawasan pemegang kekuasaan baru atau memang sebuah tekad alternatif. Yang saya tahu, ia tak selamanya menghilang dari percaturan kekuasaan. Para sejarawan mencatat, Airlangga akhirnya bisa menghimpun dukungan untuk merebut kembali tahta yang terlepas.
Ia berhasil. Hanya dua tahun setelah “Mahapralaya”, dalam usia 18, ia dinobatkan menjadi raja. Kemudian penakluk.

Ada yang mencatat, tiga perempat dari masa pemerintahannya, dari 1019 sampai 1043, Airlangga menginvasi wilayah-wilayah yang dulu setia kepada Darmawangsa yang kemudian,
setelah “Mahapralaya,” membebaskan diri. 

Raja yang baru ini hampir tak tertahan langkahnya. Dalam prasasti Pucangan, ia disanjung sebagai seorang yang “seperti singa”, dari atas kereta perang “menghancurkan” dan “menaklukkan pasukan yang berlimpah...”.

Tapi Airlangga — setidaknya menurut prasasti ini — tak seperti lazimnya seorang pemenang dan penakluk. “... ketika memimpin ia berpaling membelakangi keburukan dan bersungguh-sungguh menghapus noda buruk di tangan” {dan} “dia diberkati dengan segala guna karena rasa takut oleh dosa-dosanya sendiri.”.. kīrtyā khaṇḍita yā dhiyā karuṇ[ā]yā yas strīparatva[m] dadhac ca āp[a] karṣaṇataś ca yaḥ praṇihitantībraṅkalaṅkaṅkare yaś ca asac carite parāṅmukhat[ā]ya śūro rathe bhīrutām svaja[i]rdoṣān bhajate guṇais sa jayātadeirlaṅganāmānṛpa.

Saya bukan pembaca lontar dan prasasti. Kutipan di atas saya dapatkan dari Sugi Lanus, penelaah sejarah yang koleksi lontarnya, dan kemahirannya membaca serta menafsirkan teks lama, bagi saya impresif. 

Dengan mencampur sedikit tafsirnya dan imajinasi saya, saya menduga bahwa salah satu motif Airlangga memutuskan untuk turun tahta bukan hanya karena faktor usia, yang saat itu sudah 53 tahun.. Ia memutuskan berhenti berkuasa karena ia ingin, seperti tersebut dalam prasasti, “berpaling membelakangi keburukan dan bersungguh- sungguh menghapus noda buruk di tangan”.

Sejak awal ia masuk istana sebagai pengantin, di tahun 1017, sampai selama 24 tahun berikutnya, ia terlibat dalam konflik dan kekerasan. Berapa ribu orang terbunuh selama itu, berapa pemukiman binasa — berapa kali tangannya memberi perintah membinasakan sesama, untuk memenuhi hasrat memiliki, menguasai, dan menggelembungkan ego? 

Saya bayangkan akhirnya Airlangga merenungkan itu semua — dan melihat dirinya tak bisa bebas. Ia mengalami kebenaran Bhagawat Gita: hasrat memiliki, menguasai, menggelembungkan ego — tak membuat orang bebas dan bahagia.

Menurut Sugi Lanus, Airlangga, yang selama masa muda dalam pelarian hidup di hutan bersama para resi dan pertapa, pada akhirnya turun tahta untuk “mempelajari kamoksan”.

Kata “moksa” berasal dari kata Sansakerta “moksha”, dari akar kata “muc” yang berarti membebaskan atau melepaskan. Moksha juga berarti kebebasan dari samsara. Itulah pencapaian tertinggi dalam siklus kehidupan manusia menurut agama Hindu — agama yang diyakini Airlangga.

Tampak, “moksha” juga bisa berarti “mengatasi”, yang disebut Nietzsche dengan kata überwunden. Saya tak punya kemampuan mengaitkan konsep-konsep Nietzsche dengan alam pikiran Hindu, meskipun diketahui pemikir Jerman ini mengutip — dengan bersemangat — kitab Manusmṛti, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman menjadi Über Das Gesetzbuch Des Manu.

Diketahui pula terjemahan yang terbit di tahun 1876 itu tidak akurat. Meskipun demikian, semangat Manusmṛti tampaknya sejajar dengan pemikiran Nietzsche yang mengecam ajaran Kristen yang menjunjung kesetaraan manusia — dan melahirkan masyarakat tanpa kasta. Bagi Nietzsche, ajaran seperti itu menghasilkan kekuasaan kaum chandala, orang- orang yang mandeg, tak berkembang, Nicht-Zucht-Menschen.

Manusmṛti sebaliknya. Kitab hukum ini, kata Nietzsche, membuka jalan bagi manusia untuk kelak mencapai “kesempurnaan yang mungkin”. Ia memberi peluang manusia untuk meniti titian seraya berharap bisa mencapai strata yang tertinggi dalam kehidupan.

Nietzsche — yang tak mengalami kaku dan represifnya sistem kasta di masyarakat India — memujikan kaum “Arya”, yang digambarkan telah mencapai tingkat yang luhur di atas kaum chandala. Dari sini juga konon ia mengembangkan konsepnya tentang Übermensch.

Airlangga tentu saja bukan termasuk kaum chandala. Saya kira ia juga bukan personifikasi Übermensch. Dalam cerita saya ini, ia hanya menunjukkan kemuliaan justru karena, ia memilih untuk tidak lagi berkuasa dan tinggal di istana.

Mari kita simak patungnya yang sampai sekarang dikenal. Ia, digambarkan sebagai titisan Dewa Wishnu, duduk di atas kepala Garuda yang membentangkan sayap. Di ketinggian itu ia tampak agung dan perkasa, bisa menyaksikan apa saja yang terjadi. Tapi sebenarnya itu ilusi.. Sebagai raja, bukan sebagai dewa, posisi itu justru berjarak dari bumi.
Di sini saya perlu meminjam pengertian Heidegger, pemikir Jerman di abad ke-20, yang membedakan “dunia” (Welt) dari “bumi” (Erde).

“Dunia” terbuka sifatnya, tempat kita berlalulintas dengan peta yang jelas, di mana kita bisa dengan lebih mudah memilih tujuan dan mencapainya. Dunia-lah ruang tempat kita mendesain, merancang langkah, beroperasi secara rasional, dan mencapai hasil.

“Bumi” sebaliknya. Ia mengandung banyak hal yang tersembunyi, jauh tersimpan di dalam perutnya. Bumi, berbeda dengan Dunia, mengandung misteri, titik-titik pertemuan yang tak jelas. Jika Dunia ibarat sebuah kota, yang bisa dibaca dan diukur, Bumi ibarat belukar berkabut yang mistis dan penuh ambiguitas.

Dari ketinggian, dari atas Garuda, Airlangga tak menyentuh, apalagi memasuki belukar berkabut itu. Dalam hal ini, sebenarnya ia terbelah: ia berkuasa dan sekaligus tidak. Ia sadar ia bisa menganalisa Dunia, merancang dan menguasainya. Tapi tak bisa menangkap seutuhnya. Dunia senantiasa berkelindan tapi juga tarik-menarik dengan Bumi. Keduanya tak terpisahkan dalam gesekan dan benturan (dalam Streit, kata Heidegger). Sebab itulah wajar jika apa yang diketahui dan yang dikuasai seorang raja hanya terbatas.

Tapi berbeda ketika Airlangga turun dari tahta, dan masuk ke hutan sebagai resi. Dirinya kembali bertaut dengan Bumi, dengan pohon-pohon tropis, dengan sulur dan akar yang ruwet, dengan unggas dan reptil, dengan harum rimba dan bau getah.

Bumi — bukan angkasa — adalah tempat kehidupan yang lebih majemuk, di mana jawaban tak pernah selesai, tak pernah tunggal, selalu dengan rwa bhineda, tak pernah lempang.

Manusia yang mulia justru siap hidup dalam keadaan itu. Dengan ikhlas — dengan bebas, dengan asyik — ia berkata “ya”. Ia tak ingin mengakhiri pesentuhan itu. Ia mampu mengatasi pikirannya yang dibentuk rasa curiga menghadapi sesuatu yang lain. Ia tak hendak menguasai lingkungan sekitarnya.

Di Bumi, ia menyisihkan ego-nya. Ia akrab bercengkerma dengan apa yang di langit, dengan penghuni alam, dengan dewa- dewa, dan sesama makhluk yang fana. Di Bumi, ia merasakan betapa kayanya kehidupan, justru dengan membebaskan diri dan mengatasi dari beberapa hal. 

Dalam frase Bhagawat Gita, ia hidup dengan nir-sprhah, (“bebas dari keinginan”), nir-mamah, (“bebas dari rasa memiliki sesuatu”) dan nir-ahankarah (“bebas dari ke-aku-an palsu”).

Airlangga adalah cerita pembebasan diri. Ia turun dari punggung Garuda, berdiam di Bumi. Dari sini sejarah Kahuripan menampakkan momen kekuasaan yang tragis tapi mulia: dengan Airlangga sebagai pertapa, kekuasaan bukan takdir, bukan suatu karunia, melainkan sesuatu yang contingent, serba-mungkin. 

Bahkan bisa jadi sesuatu yang repulsif. Kekuasaan — seperti dulu dijalankan Airlangga dan kemudian oleh Ken Angrok dan raja-raja keturunannya sebagaimana yang dikisahkan dalam Pararaton — adalah narasi tentang hasrat dan pembinasaan.

Airlangga tahu ia akhirnya harus menjauh dari itu.
Ia tak sendiri. Ada seseorang yang dekat dengan dirinya: anak perempuannya, yang, dalam prasasti Pucangan dilukiskan “ibarat angsa betina yang berada di Telaga Manasa yang suci”.

Namanya Puteri Sanggramawijaya Tunggadewi. Ia pewaris yang sah tahta Airlangga. Tapi penganut Budhisme ini memilih jadi raja hanya satu tahun, dari 1042 sampai 1043. Seperti yang tertulis dalam Babad Tanah Jawi, ia segera pergi ke dalam hutan rimba yang sunyi di Gunung Klothok, lima kilometer di sebelah barat Kediri. Di Gua Selomangleng ia duduk bertapa.

Ia disebut “Kilisuci”. Mungkin nama itu menunjukkan bagaimana ia menjadi manusia yang meniti tangga tali ke kesucian dan kemuliaan. Laku ini tak dilakukan kedua adiknya. Mereka bersiap berperang memperebutkan wilayah yang mereka warisi. 

Konflik bersenjata baru berhasil dilerai dengan wibawa Mpu Baradah, pendeta utama yang dihormati. Akhirnya, Kilisuci-lah yang melanjutkan rekam jejak Airlangga — bukan kejayaannya, melainkan kemuliaannya. Seperti ditulis dalam prasasti, ia “memberikan keharuman” kepada ayahnya, tokoh utama cerita ini. Dan barangkali juga sebuah inspirasi bagi kehidupan politik yang semata-mata pamrih di zaman kita sekarang. (*) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Lusia Ineke: Perjuangkan Perempuan dan Anak demi Masa Depan

Terpopuler

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Pasca Segel BTID, Bandesa Adat Pariatha Nilai Aksi Dukungan Pansus TRAP Mengatasnamakan 'Warga Serangan', Curigai Benturkan dengan Investor

Pasca Segel BTID, Bandesa Adat Pariatha Nilai Aksi Dukungan Pansus TRAP Mengatasnamakan 'Warga Serangan', Curigai Benturkan dengan Investor

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Carut-Marut Sampah

Carut-Marut Sampah

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia