Oleh Dr Prasanthy Devi Maheswari, SAg.MAg.
Sebuah ajaran dan pengetahuan luhur dapat diperoleh melalui seseorang Guru. Krishna (2003:38) menyatakan bahwa Guru itu seperti tidak datang atau pergi, dia tidak masuk ke dalam ataupun keluar dari dunia seseorang.
Guru itulah yang sedang terjadi dalam setiap orang dan dalam hidup manusia. Kehadiran Guru merupakan berkah yang dapat mengubah hidup dalam seketika.
Bertemu Guru seperti membawa perubahan total dalam hidup seseorang. Orang yang telah bertemu Guru tidak akan lagi mengetahui apa itu penderitaan, apa itu kesedihan, sebab kehidupan menjadi seperti permainan yang harus dimainkan.
Apakah akan menang atau kalah, hal tersebut tidak menjadi masalah karena hidup layaknya permainan. Sebuah nama atau julukan dalam proses menemui Guru tidaklah penting, walaupun tidak diberikan nama atau istilah apapun, proses tersebut tidak akan kehilangan maknanya.
Seorang guru dalam wujud manusia tetap memiliki kekurangan. Selama ada dalam wujud manusia, siapapun itu akan terkena hukum alam yaitu panas-dingin, baik-buruk, kanan-kiri, sedih-senang dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu Krishna (2003:37) menyatakan bahwa singkirkan keinginan bahwa seorang guru yang akan menuntaskan pekerjaan rumah (PR) kita tentang kehidupan, ataupun sebagai seseorang yang memegang lengan dan membimbing sepanjang jalan menuju pembebasan. Tidak, guru seperti itu tidak akan ada, pencarian akan sia-sia dan akan mendatangkan kekecewaan. Alam yang sedemikian rupa ini tidak akan pernah membiarkan kelahiran seseorang seperti itu dan jangan berharap pada guru yang seperti itu. Masing-masing individu harus menemukan jalannya sendiri.
Sebab siapapun yang mengaku sebagai seorang guru, yang mengaku akan mampu memimpin ataupun menuntun hidup seseorang sampai akhir, maka sesungguhnya ia tidak memberi tahu apa-apa, ia tidak memberi tahu Kebenaran, atau mungkin ia sendiri tidak tahu tentang Kebenaran itu. Ia juga belum menemukan jalannya. Ia juga belum memahami. Sehingga kebersamaan dengan orang yang sama-sama tidak mengetahui akan menimbulkan kekacauan.
Tidak ada guru yang meng-aku-i dirinya mampu mengentaskan hidup seseorang, dari keakuan tersebut sudah menggambarkan ego dari seorang manusia, yang seolah-olah tahu akan Kebenaran Sejati. Seolah-olah mengetahui secara pasti Kebenaran akan rahasia kehidupan. Sesungguhnya Kebenaran tentang kehidupan menuju Kebebasan sejati merupakan sebuah proses rahasia yang akan diketahui oleh Sang Diri Sejati itu sendiri, Kebenaran akan datang, kesadaran akan tumbuh pada jiwa manusia yang terus mencari tanpa henti dan tanpa lelah sampai akhir hidupnya, jalan setiap orang berbeda dan unik dalam menemukan kebenarannya akan kehidupan itu sendiri. Tidak ada individu yang mampu dengan pasti menjelaskan kebenaran kepada orang lain. Sebab kemampuan setiap individu berbeda-beda.
Keterbatasan manusia dalam memahami hal atau objek yang sama juga akan menghasilkan pengamatan dan pemikiran yang berbeda-beda.
Iki kawruhakěna, nimittaning siddha ta saprayojananira, sama lawan Bhaṭāra. Yapwan ta sira ta wěnang, yan wruh ring kalěpasan. Matangnyan ta dumaranaha, tumiru aulah kasuśilan sang Yogīśwara. Dana, tapa, brata, śūreng raṇa, ulahakěna děn lenggěng.
Terjemahan:
Ini hendaknya diketahui, jika ingin tercapai dalam tujuan, menyatu dengan Tuhan. Supayalah itu dapat dilaksanakan, kalau sudah mahir dalam ajaran kelepasan. Maka akan menjadi panutan, tirulah perbuatan baik sang Yogīśwara, yogi yang agung. Perilaku dana yaitu dermawan, tapa yaitu pengendalian indera, brata yaitu pantangan, sureng rana yaitu dapat mengendalikan musuh-musuh, hendaknya itu dilaksanakan dengan tekun.(Tim, 2008:38)
Kang kinuñci kiněliran de sang paṇḍita.
Wekasing tattwa sang matuhwa. Wekasing warah sang yogīśwara. Apan sira wiśeṣa prabhū uripning rāt.
Terjemahan:
Itulah kunci yang dirahasiakan oleh sang Pendeta. Itu adalah hakekat ajaran orang yang bijaksana. Sebagai ajaran pamungkas sang Yogi agung. Sebab beliaulah sesungguhnya sebagi raja penguasa kehidupan di dunia. (Tim,2008:24).
Sloka di atas menyatakan bahwa seorang guru (yogiśwara) adalah seseorang yang dijadikan panutan dalam disiplin berperilaku sehingga dapat mencapai tujuan kehidupan yaitu penyatuan dengan Tuhan. Pengetahuan inilah yang menjadi pengetahuan bagi para orang bijaksana (paṇḍita).
Seorang guru tidak boleh melakukan pilih kasih dalam membimbing dan memberikan penjelasan tentang pengetahuan kebenaran kepada seorang murid. Seorang guru dikatakan sebagai pengingat dalam membangunkan kesadaran ketuhanan seorang murid, oleh sebab itu seorang guru harus melaksanakan ketaatan terlebih dahulu baik pikiran, perkataan dan berbuatannya dalam kehidupan menjadi pegangan seorang wiku (guru) sebelum memberikan pengetahuan suci terutama pengetahuan tentang Sang Diri sejati (ātmajṅIāna) pada seorang murid.
Ketika menemukan Sang Guru sejati, sesungguhnya menemui Tuhan yang sesungguhnya. Namun, hal penting yang perlu diingat oleh seorang guru yaitu kebijaksanaan dalam memilih murid (sisya) yang berhak menerima pengetahuan suci tersebut, yaitu kriterianya adalah seorang murid yang baik dan memiliki tata krama, seperti yang dinyatakan pada sloka Tattwa Sangkaning Dadi Janma berikut:
Ya teka panonanta, iḍěpta, tuturanta. Ya teka pinaka gěgwan sang wiku. Ika śūkṣma taya. Yang apa kalinganya. Ri tělas nira katěmu, makāwak śūnya tan pahamengan. Samangkana.
Terjemahan:
Dari sanalah penglihatanmu, pikiranmu, kesadaranmu. Itulah sebagai pegangan seorang Wiku. Itu yang sangat gaib. Entah bagaimana itu sebenarnya. Setelah Beliau dijumpai, yang berwujud kosong tanpa batas. Demikianlah (Tim,2008:24)
Aja winarahakěn ring śiṣya, yan tan anūt śilakrama. Muwah yan tan wong menaka, pingitěn wěkas ira para Bhujangga ring kuna –kuna ring ruhur-ruhur.
Terjemahan:
Janganlah mengajarkan kepada murid, yang tidak mentaati tatakrama. Dan kepada orang yang tidak terpelajar, rahasiakanlah ajaran Beliau para Resi dari sejak zaman dahulu seperti tersebut di atas. (Tim,2008:6)
Mapan ring śiṣya yan lěwiha ring pangawruh, yan tan panūt śilakramaning guru, buwat paṭaka ikang śiṣya. Yadyapi sada kuranga pangawruh, yan amita śilakramaning guru, byakta katěmu sadhyaning śiṣya.
Terjemahan:
Sebab murid yang pandai tetapi tidak bermoral tidak mentaati tatakrama dan tidak hormat kepada guru, mendapatkan petaka besar si murid. Sebaliknya walaupun murid itu agak kurang, kalau mentaati ajaran tatakrama dari guru, pastilah murid itu akan berhasil. (Tim,2008:6)
Berdasarkan sloka di atas, maka dapat disebutkan bahwa Tattwa Sangkaning Dadi Janma menekankan bahwa tidak dibenarkan jika ajaran kebenaran diajarkan oleh sembarang orang, hanya pada sisya/murid yang baik sajalah ajaran ini patut diberikan. Sebab ajaran yang benar (veda) akan mengakibatkan kehancuran dunia apabila diajarkan pada orang yang salah.
Disimpulkan bahwa seorang sisya atau murid merupakan wujud sesungguhnya dari seorang pencari kebenaran dalam kehidupan. Menghormati seorang guru adalah pintu gerbang dalam memasuki kalepasan dan mokṣa, baik selagi hidup maupun setelah kematian.
Makna teologi yang terkandung yaitu Tuhan merupakan Sang Guru Sejati, manusia dapat memahami pengetahuan apabila ia mampu menemukan Guru sehingga ajaran rahasia ini dapat dipelajari, dipahami dengan baik. Jika ingin memahami ajaran ini maka seseorang harus menjadi murid (sisya) yang baik terlebih dahulu, agar berkah guru sebagai Tuhan dapat diperoleh untuk mencapai akhir dari tujuan hidup sesungguhnya. (*)