Banner Bawah

Prasanthy Devi Raih Gelar Doktor, Teologi Hindu dalam Teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma

Admin - atnews

2024-07-03
Bagikan :
Dokumentasi dari - Prasanthy Devi Raih Gelar Doktor, Teologi Hindu dalam Teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma
Slider 1

Denpasar (Atnews) - Prasanthy Devi Maheswari, SAg.MAg. berhasil meraih gelar Doktor dengan IPK 3,75  setelah menempuh masa studi 7 tahun Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

Prasanthy Devi yang membawakan disertasi dengan judul “Teologi Hindu Dalam Teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma” pada Ujian Terbuka Promosi Doktor Ilmu Agama dengan promovenda , bertempat di Auditorium Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Senin (1/7).

Pada ujian terbuka tersebut di hadapan Dewan Penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag., Dr. Made Sri Putri Purnamawati, S.Ag., MA.,M.Erg., Dr. Drs. I Made Sugata, M.Ag., Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag.,M.Fil.H., Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag.,M.Fil.H. dan Dr. I Gusti Made Widya Sena,S.Ag.,M.Fil.H. dengan Promotor Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag. dan Kopromotor Prof. Dr. Drs. I Made Surada, M.A. sehingga dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor (S3).

Prasanthy Devi yang juga Dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa ini menjadi doktor agama ke-142 di kampus tersebut.

Disertasi ini telah diujikan dan dinilai oleh Panitia Penguji Ujian Tertutup Disertasi pada Program Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar pada tanggal, 20 Juni 2024.

Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Nomor: Tahun 2024
dan dinyatakan Lulus.

Panitia Penguji Ujian Tertutup Disertasi dengan Promotor : Prof. Dr. Dra. Relin D.E., M.Ag. Kopromotor : Prof. Dr. Drs. I Made Surada, MA Dewan Penguji : 1. Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., 2. Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag., 3. Dr. Made Sri Putri Purnamawati, S.Ag, MA.,M.Erg., 4. Dr. Drs. I Made Sugata, M.Ag., 5. Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H., 6. Dr. I Nyoman Alit Putrawan, S.Ag.,M.Fil.H serga 7. Dr. I Gusti Made Widya Sena, S.Ag.,M.Fil.H

Dijelaskan, Teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma merupakan salah satu karya sastra Jawa Kuna yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Teks itu memuat tentang ajaran Siwa Tattwa. Penelitian ini membahas tentang teologi Hindu yang ada dalam teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma.

Rumusan masalah penelitian ini yaitu: (1) Bagaimana struktur ajaran teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma?; (2) Bagaimana makna teologi Hindu dalam teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma?; (3) Bagaimana hakikat manusia dan proses mencapai tujuan hidup pada teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma?

Penelitian ini menggunakan beberapa kajian pustaka yang berkaitan dan konsep yang disesuaikan dengan judul. Teori yang digunakan adalah: teori strukturalisme sastra dan teori hermeneutika.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Metode penelitian terdiri atas jenis penelitian kualitatif dan pendekatan teologi Hindu.

Jenis data kualitatif deskriptif dan sumber data primer teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma dan data sekunder dari hasil penelitian yang terkait. Teknik penentuan informan dengan purposive sampling, dengan teknik pengumpulan data dengan cara wawancara dan dokumentasi.


Teknik analisis data dengan reduksi, display dan penarikan kesimpulan. Teknik penyajian analisis adalah naratif argumentatif.

Hasil penelitian ini yaitu: Pembahasan rumusan masalah pertama, struktur ajaran teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma terdiri atas (1) Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit; (2) Yoga; (3) Ātmajñāna; (4) Ongkara; (5) Kalepasan dan Kamoksan.

Pembahasan rumusan masalah kedua, Makna teologi Hindu dalam teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma yaitu: (1) Tuhan Sumber Segala; (2) Tuhan Yang Tunggal/Esa; (3) Tuhan ada dimana-mana; dan (4) Tuhan Yang Tak Terpikirkan. Pembahasan rumusan masalah ketiga, hakikat manusia dan proses mencapai tujuan hidup dalam teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma antara lain, (1) Hakikat manusia dalam teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma; (2) Proses transformasi kesadaran yang meliputi; (a) Penghormatan seorang sisya terhadap guru; (b) Yoga sebagai cara kontemplasi menuju tujuan hidup; dan (c) Realisasi diri dalam mencapai tujuan hidup. (3) Kebahagiaan sejati sebagai tujuan hidup.

Teks itu merupakan kekayaan nusantara yang memuat tentang hakikat kelahiran menjadi manusia.

Temuan penelitian ini yaitu formulasi teologi Hindu dalam teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma berupa Saguna Brahma dan Nirguna Brahma sebagai pertemuan unsur transenden (niskala) dan imanen (sakala) dalam tubuh manusia sebagai penyebab sebuah penciptaan dan menyatu pada pencipta.


Seluruh konsep dalam memahami Tuhan, pencarian pengetahuan akan Sang Diri sejati hingga sampai pada mencapai pembebasan dalam teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma merupakan penggabungan dari ajaran samkhya, yoga dan vedānta.

Formulasi ini tidaklah dianggap sebagai konsep pemikiran yang terpisah dan bertentangan, namun sesungguhnya formulasi yang menyempurnakan dalam tahapan pencapaian spiritual manusia.


Manava Dharmasastra V.109, menyatakan: “adbhir gātrāṇi śuddhyanti manaḥ satyena śuddhyati, vidyātapobhyāṃ bhūtātma buddhir jñānena śuddhyati“, Artinya: (1) tubuh dibersihkan dengan air, (2) pikiran disucikan dengan kebenaran, dan (3) jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata, serta (4) kecerdasan dengan pengetahuan yang benar (Pudja dan Sudharta, 2004:249).

Kutipan itu menggambarkan bagaimana manusia dapat mencapai kemuliaan dengan membersihkan diri baik secara lahir maupun batin. Ketika seseorang ingin mencapai tujuan utama manusia lahir ke dunia, maka tahap awal yang harus dilakukan yaitu dengan membersihkan tubuh dan pikirannya maka kemudian setelah tahapan tersebut dilalui maka seseorang mampu memahami pengetahuan rahasia tentang atman dan Brahman yang sesungguhnya adalah satu.

Teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma benar-benar layak dieksplorasi secara teologis demi kemajuan pemahaman umat Hindu terhadap Teologi Hindu yang menjadi basis sraddha dan sebagai pemenuhan kebutuhan rohani umat Hindu.

Kearifan lokal mengandung rahasia eksistensi dan esensi manusia harus dieksplorasi demi kemajuan pemahaman umat Hindu.

Sesuai dengan ajaran Hindu bahwa pada manusia terdapat dua macam kesadaran yang menguasai diri, yaitu pertama, kesadaran badan (material) yang bersifat sementara, dan kedua, kesadaran rohani atau kesadaran spiritual (ātman) yang bersifat kekal.

Para orang bijak menganjurkan agar umat manusia selalu sadar dan merindukan hal-hal yang bersifat rohani karena itulah yang kekal dan jangan terikat dengan hal-hal yang bersifat duniawi yang bersifat sementara bahkan akan ditinggalkan setelah kematian.

Salah satu Teks kearifan lokal Bali yaitu Tattwa Sangkaning Dadi Janma yang merupakan teks teologis (tattwa) yang menguraikan seluk-beluk tentang hakikat diri manusia baik secara fisik maupun secara rohani, karena itu kedalaman isi ajarannya sangat penting dieksplor agar menjadi ilmu pengetahuan yang dapat pelajari oleh masyarakat luas.

Dewasa ini, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi seseorang dipermudah dalam menemukan teks-teks suci yang telah dialihaksara dan dialihbahasa oleh para pakar dalam bentuk buku, sehingga terbukanya kesempatan para peneliti untuk mulai mengkaji makna dari kitab suci.

Namun penelitian teks atau kitab suci masih belum banyak dilakukan khususnya dalam menggali pengetahuan tentang Tuhan dengan kajian ilmiah. Penelitian ini berupaya mengeksplor dan menggali pengetahuan tentang Tuhan dalam kitab suci yang merupakan jalan terbaik dalam memahami Tuhan yang tidak mampu dijangkau oleh akal manusia.

Teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma dipilih sebagai objek penelitian dari sekian banyak teks tattwa yang ada, sebab judul teks ini telah menggambarkan bahwa isi teks ini membahas tentang manusia, dan setelah dikaji lebih lanjut isi teks ini berfokus dan menempatkan manusia sebagai pusat dari kesemestaan, tubuh manusia sebagai meru sarira atau sebagai sthana Tuhan dalam manifestasinya, memberikan pedoman bagaimana manusia dapat mengetahui bagaimana proses kehidupan yaitu utpeti, sthiti dan pralina, manusia memahami hakikat dirinya sehingga manusia mampu menjadi manusia sejati, kemudian teks ini juga membuat seseorang dapat menemukan pengetahuan sebagai jalan untuk kembali menemukan tujuan hidup yang sesungguhnya yaitu mencapai kebahagiaan sejati yaitu pembebasan abadi, sehingga teks ini sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh penelitian ini.

Sesungguhnya berdasarkan Veda tidak ada ilmu yang baru, hanya saja karena keterbatasan kemampuan para ilmuwan untuk mengkonstruk hal tersebut, maka ilmu pengetahuan yang ada dalam Veda bagaikan mutiara di dasar samudera. Berdasarkan paparan di atas, maka penelitian ini mengkaji secara mendalam tentang teologi Hindu dalam teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma.

Diharapkan para pemuka agama dapat penyajian ajaran dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat dengan mengikuti perkembangan jaman agar seluruh generasi tertarik dan terbuka berdiskusi bahkan tanpa rasa takut mempelajari tentang teologi dan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya sebagai manusia sejati.

Perlunya keterbukaan para akademisi bahwa mempelajari pengetahuan spiritual tidak untuk melemahkan pengetahuan sains, sebab sesungguhnya pengetahuan sains adalah penyempurna bagi pengetahuan spiritual.

Begitu pula sebaliknya, para peneliti sains tidak perlu menyebut pengetahuan spiritual sebagai sesuatu yang membual dan berbicara tentang hal omong kosong, sebab memang begitu adanya bahwa spiritual sampai kapanpun tidak akan pernah mungkin dapat dibuktikan dengan panca indera.

Tidak perlu merasa salah satunya adalah pengetahuan yang lebih baik dan lebih tinggi dari pengetahuan lainnya. Jika hal ini dapat dilakukan, keharmonisan dalam kehidupan akan terwujud.

Pemerintah mampu menjadi wadah bagi masyarakat sebagai garda terdepan yang tidak terlibat dalam mendikotomikan antara ajaran Veda dengan tradisi spiritual Bali yang sesungguhnya esensinya adalah sama.

Tidak akan ada lagi ujaran kebencian yang 
menganggap orang lain memiliki pemahaman lebih rendah dari yang lainnya. Pemahaman masyarakat luas ditentukan dari bagaimana para pemuka agama dan peneliti mendeskripsikannya.

Diperlukannya sinergi dari para pemuka agama, pemerintah, para akademisi dan para peneliti untuk mengembalikan wajah dunia sebagai sebuah persaudaraan semesta.

Dengan demikian, tidak sulit untuk menyukseskan program pemerintah dalam mewujudkan bangsa yang moderat dengan program moderasi beragama.

Maka manusia dapat memaknai kehidupannya dan dapat hidup lebih bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara.

"Sebab pengetahuan rahasia tentang Tuhan dan kehidupan tidak akan pernah selesai apalagi hanya dibahas dalam kajian terbatas seperti ini. Semoga penelitian ini mampu memotivasi munculnya penelitian-penelitian berikutnya yang lebih baik," ujarnya.


Sementara itu, Ayah Kadung Prasanthy Devi, Drs I Ketut Donder M.Ag Ph.D yang Dosen Teologi Hindu Fakultas Brahma Widya, UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Denpasar mengucapkan selamat kepada putrinya.

"Atas ujian teebuja hari ini dengan judil disertasi Teologi Hindu Dalam Teks Tattwa Sangkaning Dadi Janma suastu naskah klasik yang memedam pengetahuan Brahma Rahasyam," ujar Donder.

Suatu penggalian yang serius sehingga Dewan Penguji sepakat menyematkan Predikat Sangat Memuaskan dengan IP 3,75.

"Semoga dengan gelar Doktor yang diraih itu menjadi cemeti yang menvambuk untuk lebih banhak membaca," harapnya.

Sebab wawasan pengetahuan komprehensif seorang Doktor memiliki korelasi dengan jumlah literatur yang dibacanya. Dan banyaknya literatur yang dibaca oleh seseorang akan tercermin dalam menggunakan argumentasi dalam berdiaolog.

Hal lain yang mesti diingat oleh seorang alumnus suatu Perguruan Tinggi termasuk Uhn Igbsugriwa adalah membangun "fanatisme positif" yang menjunjung kecerdasaan obyektif yang didukung oelh moralitas. Sehingga setiap alumni berpacu membangun kualitas intlektualitas obyektif.

Sehingga di lingkungan akademis tidak terjadi pergunjingan karena kantong bolong atau tidak dapat tempat duduk.

Tetapi menjadi profesional melakukan Swadharma sebagai persembahan bakti kepada Tuhan, karena dalam melaksanakan swadharma itu menemukan rasa damai dan bahagia.

Hal penting yang menjadi catatan khusus kepada Dr. Prasanthy Devi Maheswari adalah bahwa sampai kapanpun semua penguji, semua dosen yang pernah mengajar harus selama hidup tetap dipandang dan dihormati sebagai Guru yang harus selalu dihormati dalam hati.

Bahkan pustaka Manava Dharmasastra menyatakan  "sekalipun seorang guru hanya mengajar satu huruf saja, maka ia tetap menjadi guru seumur hidup".

"Orang yang selalu memuliakan gurunya maka hidupnya akan senantiasa dituntun oleh Kesadaran Suci Semesta Alam. Subhamastu," pungkasnya.

Pada kesempatan itu dihadiri Ketua MKMK Dewa Palguna yang juga Dosen FH Universitas Udayana, Budayawan Putu Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University, Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha, Pengacara Ketut Ngastawa, Nyoman Wiratmaja dan Nyoman Baskara.(GAB/ART/001)


Baca Artikel Menarik Lainnya : Kapal Kandas,  Ratusan Penumpang Dievakuasi Tim SAR 

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng