Denpasar (Atnews) - Angka bunuh diri di Bali turut menjadi perhatian Ketua PHDI Provinsi Bali, I Nyoman Kenak. Dalam budaya Bali, bunuh diri dikategori kematian ulah pati atau tidak wajar.
Bahwa kasus ulah pati disebabkan karena unsur spiritual, yang justru memberi tekanan mental, Kenak menilai itu tidak linier.
"Bali punya kearifan lokal di bidang spiritual, namun ketika ini dikelola dengan baik, didiskusikan bersama keluarga, Rahayu kepangggih atau melahirkan kebaikan," ungkapnya di sela Rembuk Gerakan Indonesia Tertib di Provinsi Bali pada Rabu 3 Juli 2024.
Dari tinjauannya, agama dan spiritual, terlebih adat, bukan menjadi soal utama penyebab bunuh diri. Tapi yang lebih mudah diamati, hal itu disebabkan persoalan ekonomi.
Sehingga solusinya adalah kemauan seseorang untuk mengasah potensinya untuk kemudian bisa menjadi profesi. PHDI, kata dia, mendukung upaya pemerintah untuk mendorong terbentuknya UMKM lokal dan mengembangkamnya.
"Ada dua yang saya lihat perlu kita perkuat, pertama pentingnya memiliki skill mampu bersaing di era sekarang, saat ini kita berada di tengah persaingan global. Kedua, pentingnya edukasi kesehatan mental," tuturnya.
Dia menjelaskan, PHDI cukup sering mendapat pengaduan masyarakat seperti konflik keluarga, kesepekang desa adat, kasus perceraian hingga orang terlantar.
Kata dia, semua itu berpotensi memantik tingkat frustasi dan bahkan bisa berujung bunuh diri. Dalam penanganannya, PHDI mengingatkan umat tentang nilai-nilai ketuhanan.
"Astungkara, sebagian besar selamat dan menemukan solusi. Tentunya ini harus jadi perhatian bersama. Mulai dari tingkat keluarga, jangan mendidik dengan tekanan mental. Sekolah-sekolah juga wajib mencegah aksi bullying. Di lingkungan sosial, mari kita peduli dengan sesama," terangnya. (Z/001)