Badung (Atnews) - Tokoh Kemanusiaan Putu Suasta yang hadir sebagai pembicara dalam Forum Keharmonisan Peradaban Dunia Ke-1 dan Forum Peradaban Dunia Nishan Ke-10 – Sub-Forum Indonesia yang digelar di Nusa Dua Bali, 15 Juni 2024.
Acara itu digelar oleh Forum Harmoni Peradaban Dunia yakni Yayasan Indonesia Prajna Harmony Culture, Yayasan Wahid, Ikatan Persahabatan Indonesia-Tiongkok dan Nishan World Centre for Confucian Studies (Yayasan Konfusius Tiongkok).
Dengan melibatkan berbagai negara, sekitar 300 peserta dari Tiongkok, Malaysia dan Singapura serta Indonesia.
Forum Harmoni Peradaban Dunia mengusung tema "Building A Pathway to Harmonious Coexistence" atau “Membangun Jalan Menuju Hidup Berdampingan yang Harmonis”. Upaya itu dalam turut serta membangun keharmonisan untuk mewujudkan perdamaian dunia.
Acara itu diawali dengan sambutan Ketua Yayasan Prajna Harmonis Kasino, turut mengundang Pj Gubernur Bali SM Mahendra Jaya dan Konsulat Jendral Tiongkok di Denpasar Zhang Zhisheng.
Pada kesempatan itu, menghadirkan pembicara Direktur Wahid Foundation sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Tiongkok Yenny Wahid, Direktur Nishan Center for Confucius Studies Guo Chengyan yang juga Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia Tiongkok (PPTI), Akademisi Terhormat di Asia Research Institut, National University of Singapore Prof Kishore Mahbunani.
Sedangkan dalam Sesi Pleno bertemakan "Membangum Jalan Hidup Bersama Harmonis" yang membahas konsep intlektualisme dan nilai spiritualisme yang dimiliki oleh peradaban umat manusia dalam melampaui konflik dan mewujudkan kehidupan bersama komunitas global yang harmonis, Acara itu dipandu oleh Prof Wen Haiming, Wakil Direktur Nishan Center for Confucius Studies.
Keynote Spekaer Anggota DPD RI Dapil Bali Made Mangku Pastika yang juga Gubernur Bali 2008-2018, pembicara dari Direktur Institut Filsafat Akademi Ilmu Sosial Tiongkok Zhang Zhiqiang, Ketua MKMK I Dewa Gede Palguna, China Confucius Foundation Kong Lingbin, Guru Besar Emeritus Fakultas Filsafat Universitas Hawaii Professor Roger T Ames dan Wakil Presiden Akademi Studi Kontemporer Tiongkok dan Dunia Sun Jingxin.
Sedangkan Sesi Pleno bertemakan "Bhineka Tunggal Ika dan Persaudaraan Umat Manusia" yang menggali kebijaksanaan kolektif dan perspektif filosofis dari berbagai latar belakang peradaban umat manusia yang menggunakan semangat Bhineka Tunggal Ika dan rasa persaudaraan sesama insan manusia untuk menciptakan harmoni sosial dan membangun masa depan berkelanjutan yang dipandu oleh AA Gede Rahma Putra, Dosen Universitas PGRI Mahadewa Indonesia.
Dengan menghadirkan pembicara Tenaga Profesional Bidang Kewaspadaan Nasional Lemhannas RI I Putu Sastra Wingarta, Wakil Direktur Nishan Center for Confucius Studies Prof Wen Haiming yang juga Profesor Fakultas Filsafat Renmin University of China, Beijing Bohua Traditional Chienese Medicene Inheritance and Development Center Kong Lingqian, Tokoh Kemanusiaan Putu Suasta, Guru Besar Fakultas Filsafat Capital Normal University of China Professor Kong Deli dan Dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa Dr I Ketut Donder.
Sesi Panel II tema "Dialog Perdaban Indonesia - Tiongkok" yang membahas persepktif historis, filosofis dan kontemporer mengenai budaya harmoni yang berakar dalam tatanan hidup masyarakat Tiongkok dan Indonesia, bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman dan apresiasi yang lebih dalam terhadap kekayaan warisan budaya yang dimiliki antara kedua negara dan memberikan kontribusi positif bagi keharmonisan global, acara itu dipandu oleh Novi Basuki, Peneliti Institut Budaya Keharmonisan Semesta Yayasan Prajna Harmonis.
Dengan menghadirkan pembicara Guru Besar Pusat Ilmu Filsafat Shandong University Professor Li Shangxin, Guru Besar Peneliti Departemen Sastra dan Editorial Nishan World Center for Confucius Studies Professor Chang Qiang, Associate Professor University Tunku Abdul Rahman of Malaysia Dr Chin Chong Foh, Wakil Direktur Shandong Academy of Social Sciences Professor Zhang Fenglian, Guru Besar Hunan University Professor Chen Renren dan Guru Besar Beijing Language and Culture University Professor Du Yunhui.
Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University menekankan agar manusia dalam menciptakan perdamaian mengedepankan pemahaman spiritual dan tidak melanggar konstitusi.
Indonesia telah menagkui enam agama resmi yakni Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Keenam agama itu diyakini memiliki ajaran-ajaran yang universal dalam mewujudkan perdamaian.
Hal itu pula sudah diatur dalam empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
Suasta juga menjelaskan, salah satu tujuan bangsa Indonesia, sebagaimana tertuang dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 yakni ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Untuk ikut menciptakan perdamaian dunia, Indonesia memiliki peran aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Hal ini dilakukan melalui cara menjalin hubungan internasional dan berpartisipasi dalam organisasi internasional.
Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia melalui hubungan internasional dan organisasi internasional dibuktikan dengan tergabung dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB, Misi Garuda, Konferensi Asia Afrika (KAA), Gerakan Non Blok (GNB), Deklarasi Djuanda, ASEAN, OKI dan Jakarta Informal Meeting (JIM).
Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dunia mengakui, bahkan mengagumi kerukunan umat di Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika itu diambil dari isi kitab Sotasoma karangan Mpu Tantular pada masa Majapahit yang artinya walaupun berbeda-beda tapi tetap satu.
Melihat nilai luhur itu dari konteks sejarah, bangsa Indonesia terbangun dari realitas yang beragam, baik suku, ras, agama maupun budaya.
Apalagi dalam ajaran Hindu yang dikenal dengan Sanatana Dharma memiliki nilai-nilai universal. Dalam membangun perdamaian, Hindu memiliki filosofi Vasudaiva Kutumbakam (semua bersaduara).
Untuk itu, sebaiknya semua umat manusia selalu bersatu, membangun komunikasi terus-menerus dari generasi ke generasi. Meksipun memiliki perbedaan wilayah, budaya maupun kebiasaan. Namun tujuan utamanya yakni perdamaian dunia.
Sejarah telah memberikan pelajaran berharga bahwa peperangan hanya menyisakan duka, kalah jadi abu, menang jadi arang.
Sebagaimana perang Mahabharata di Kurukshetra yang menjadi perang terbesar dalam sejarah selama 18 hari.
Untuk itu, pihaknya mengajak semua pihak melakukan segala upaya agar perdamaian itu diprioritaskan. Hubungan antar negara juga ditingkatkan melalui diplomasi budaya.
Menurutnya, kebudayaan Bali tidak berjalan sendiri. Ada beberapa pengaruh unsur budaya lain dalam perjalanan historinya. Pengaruh kaum penjajah tentu memiliki andil yang tak kecil dalam "mencampuri" kebudayaan Bali. Jejak itu misalnya terdapat dalam aspek bahasa, arsitektur, perabotan rumah tangga, kesenian dan sebagainya.
Akulturasi sesungguhnya telah terjadi dari masa lalu. Peristiwa persenyawaan dan saling mempengaruhi ini bukan saja berlangsung dalam konteks kolonisasi, namun juga dalam pergaulan yang lebih luas, misalnya dalam pergaulan perdagangan, lawatan yang disengaja atau tak sengaja.
Apalagi hubungan Indonesia dengan Tiongkok sudah berjalan lampau, sebagaimana adanya jalur rempah maupun jalur sutra.
Pengaruh budaya Tiongkok di Bali sampai saat ini masih dirasakan. Disamping pengaruh kebudayaan Veda dari Bharatavarsa (India).
Yang menarik dari akultursi kebudayaan Bali ialah kuatnya pengaruh China di Bali. Pengaruh ini justru tidak melalui peristiwa kolonisasi, yaitu penguasan China atas Bali, melainkan melalui berbagai peristiwa pergaulan, di antaranya ialah perdagangan, perlawatan, juga bukan tak mungkin serdadu China yang tak kembali ke negerinya ketika mencoba menaklukkan kerajaan—kerajaan di Nusantara.
Namun berdasarkan beberapa catatan, kunjungan China ke Bali lebih banyak karena lawatan dan perdagangan. Bahkan disebutkan juga sejumlah warga China (Tionghoa) bermukim di Bali, pertama kali diketahui di Singaraja.
Orang China di Bali beserta kebudayaan China memiliki keterkaitan erat dalam perjalanan kebudayaan Bali. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Eve Tedja dan Dicky Lopulalan dalam proyek “Balichinesia” menemukan bukti-bukti akulturasi yang sangat kuat. Dalam penelitiannya, mereka menulis bahwa orang Bali menganggap orang China sebagai kakak tertua dan memasukkan unsur-unsur budaya China dalam kesenian dan ritual adat.
Tari baris China, barong landung, hingga gong beri, adalah contoh-contoh pengaruh budaya China dalam seni tari Bali. Di wilayah sastra, oroang Bali sangat mengenal cerita Sampik Ingtai yang jelas-jelas berasa dari China.
Mereka juga menemukan cerita rakyat yang cukup terkenal dari perkawinan raja Bali Sri Raja Jaya Pangus dengan putri China bernama Kang Cing Wei pada abad ke-12 atau paangan beda budaya yang kemudian berakhir pada keberadaan Pura Balingkang di Kintamani.
Selain itu, penggunaan uang kepeng atau koin China yang bagian tengahnya bolong sampai sekarang adalah bagian dari kelengkapan upacara yang harus ada. (BBC News Indonesia, "Balichinesia"; Melihat Akulturasi Budaya dalam Identitas Cina Bali", 16 Februari 2018). Beberapa peneliti yang lain, juga lembaga peneliti seperti LIPI, menemukan fakta yang kurang lebih sama.
Namun proses asimilasi dua budaya atau lebih bisa juga terjadi karena faktor kesamaan. Seorang peneliti LIPI yang juga pakar Studi China Universitas Indonesia, Thung Ju Lan, mengakui bahwa benar, di satu sisi ada kesamaan antara identitas budaya orang Bali dengan Orang China, seperti kesamaan agama leluhur, namun itu bukan satu-satunya yang menentukan. Persamaan dengan orang Bali, menurutnya, lebih terkait dengan tradisi dan religi.
Baik di kalangan orang China maupun orang Bali, religi sudah menyatu ke dalam klan melalui ritual di pura atau kelenteng (BBC News Indonesia, "Balichinesia" Melihat Akulturasi Budaya dalam Identitas Cina Bali", 16 Februari 2018).
Orang China maupun beberapa budayanya yang kemudian menjadi satu dalam budaya Bali adalah suatu proses yang sangat panjang. Peristiwa itu sering kali melalui berbagai tahapan yang kadang tak mudah. Thung Ju Lan menyebutkan, akulturasi adalah proses yang panjang.
Mulai dari kontak, interaksi, integrasi baru kemudian akulturasi. Tahap akhir barulah asimilasi. Dalam konteks sebagaimana yang dikatakan Thung Ju Lan, dan melihat juga betapa lekatnya produk budaya China di Bali. orang China di Bali dan sejumlah budayanya sesungguhnya telah mencapai tahapan asimilasi. Pengakuan Eve Tedja sebagai keturunan Tionghoa Bali mengungkapkan, ia lebih merasa sangat diterima sebagai warga keturunan di Bali ketimbang ketika ia berada di Jakarta.
Berdasarkan jejak sejarah, China datang ke Bali hampir tanpa konflik untuk mengatakan tidak sama sekali.
Mereka masuk ke dalam pergaulan masyarakat dan budaya Bali melalui perkawinan, perlawatan dan perdagangan. Orang-orang China diterima di Bali karena, berdasarkan penelitian dan pendapat pakar, adalah banyaknya kesamaan di antara dua bangsa ini, terutama mereka memiliki kesamaan dalam religi dan tradisi.
Inilah salah satu faktor mengapa budaya China gampang berasimilasi dalam budaya Bali. Selain itu, kedatangan China ke Bali juga tidak ada sedikit pun upaya penaklukan, mereka bahkan melebur dalam aktivitas masyarakat Bali.
Harmonisnya dua budaya itu pada akhirnya menyelaraskan kehidupan masyarakat China dan orang-orang Bali. Bahwa kemudian terjadi pemisahan peran profesi di mana orang-orang China kemudian lebih berfokus kepada tindakan ekonomi perdagangan dan masyarakt Bali lebih memilih kepada usaha agraris dan mendedikasikan kehidupannya pada aspek budaya, hal itu tidak menurunkan keselarasan yang telah terbangun sejak berabad-abad lampau. Berdasarkan jejak sejarah pula, hampir tak ditemui konflik ras pada orang China dan Bali di Pulau Dewata ini. Inilah representasi dari bentuk asimilasi dua budaya paling konkret yang pernah ada di dunia ini.
Dalam sosiologi kontemporer di mana suhu politik saat ini mengedepan sebagai pemicu konflik, persoalan ras pernah menjadi isu yang santer, tertuama di pusat-pusat kota besar di Jawa dan beberapa daerah lain, Bali tak terpancing oleh isu tersebut. Orang China tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa tanpa cemas oleh berhembusnya isu SARA (suku, agama, ras dan antargolongan). Ini karena keselarasan dan keharmonisan orang Bali dan Orang China di Bali telah melebur dalam asimilasi yang solid dan telah berumur berabad-abad. Sehingga sekuat apa pun rusuh ras sebagaimana yang terjadi pada 1998 silam di Jakarta, sama sekali tak berpenaruh di Bali.
Kuatnya kebersatuan orang China dan orang Bali di Bali lebih menyadarkan kedua pihak untuk menjaga dan mempererat keselarasan yang telah terbangun dan terbentuk dari sejak masa sejarah. Daya rekat asimilasi itu ialah dengan menjalin kerja sama budaya, terutama saat ini yang paling memungkinkan ialah kerja sama kesenian.
Beberapa yang telah diwujudkan ialah denga menyelenggarakan pameran lukisan antara seniman China dengan seniman Bali, work shop seni bersama, diskusi lintas budaya antara seniman Bali dan China sering kali menjalin komunikasi kreatif untuk mengedepankan masa depan kesenian bersama. Juga baru-baru ini sejumlah seniman Bali bahkan diundang pergi China dalam rangka pertukaran budaya.
Beberapa seniman Bali mendapat undangan dari Konsul China di Bali untuk mengunjungi China. Mereka di antaranya ialah Made Somadita, Polenk Rediasa, Chusin Setiadikara, dan beberapa yang lain. Pihak Konsul China di Bali sendiri memang memiliki perhatian yang serius terhadap seni rupa di Bali khususnya, kebudayaan Bali pada umumnya. Mereka menyadari bahwa ada keterkaitan yang erat antara kebudayaan Bali dan China.
Itulah mengapa dalam beberapa even seni rupa, Konjen China di Bali memberi perhatian yang serius, men-support dan beberapa kali mengadakan kerja sama dalam bentuk pameran antara seniman Bali dan seniman China.
Tentu saja kerja sama dan kepedulian budaya ini menemukan sinerginya yang pas mengingat Bali dan China memiliki kekayaan budaya satu sama lain. Faktor inilah kemudian yang membangun minat Konjen China di Bali untuk mengundang sejumlah seniman Bali ke China.
Menilik dari perjalanan sejarah keberadaan orang China dan budayanya di Bali, bahkan juga di Indonesia pada umumnya, jelaslah kehadiran budaya China di Bali bukanlah budaya yang hadir kemarin sore. Ia telah ada sejak berabad-abad silam dan mengalami proses tingkat akhir dari tahapan akulturasi, yaitu asimilasi.
Meleburnya produk budaya China yang telah terjadi berabad-abad makin memudahkan terbangunnya kerja sama apa pun, apalagi di bidang budaya, terutama kesenian. Kesenian adalah aktivitas manusia yang hanya mempunyai kecenderungan estetik dan humanisme, oleh karena itu, memulai mewujudkan kebersamaan melalui kesenian adalah suatu permulaan humanisme yang baik. (GAB/001)