Oleh I Gde Sudibya
Soekarno, lahir di Kampung Peneleh Surabaya, 6 Juni 1901, tepatnya 123 tahun yang lalu. Sebagai sebuah refleksi timbul pertanyaan: apa relevansi pemikiran visioner Soekarno dalam dinamika dan percaturan global yang sedang berlangsung?. Yang antara lain ditandai oleh: potensi risiko terjadinya Perang Dunia
Ketiga, akibat perang Israel - Iran, yang faktor penyebabnya (casus belli) skalanya jauh lebih besar dari pemicu Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua.
Di samping potensi Perang nuklir di Eropa Timur bagian Timur, jika terjadi casus belli, NATO menyerang Rusia dengan senjata nuklir dengan pangkalan di Ukraina.
Dominasi China dalam ekonomi global, kekuatan pengaruh politik negara ini banyak negara, dan oleh pengamat kecenderungan masa depan John Naisbitt dalam bukunya Megatrend China, ekspansi China di dalam strateginya punya target penundukan.
Kesenjangan pendapatan dan kesenjangan ekonomi antar negara yang begitu tajam, demikian pula ketidakadilan ekonomi antar penduduk di banyak negara.
Dalam konteks tantangan geopolotik global yang fragile (mudah pecah), pemikiran visioner Soekarno sebagai inisiator Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung, yang melahirkan DASA SILA BANDUNG, tidak saja relevan tetapi sangat penting dalam lanskap politik global dewasa ini.
Dasa Sila Bandung antara lain memuat: penghormatan terhadap hak asasi manusia sesuai Program PBB, mengakui keutuhan dan kedaulatan wilayah setiap bangsa, penghormatan yang sama antar bangsa, melarang invensi kekuatan asing terhadap kedaulatan negara bangsa dan sejumlah kesepakatan lainnya.
Dalam fenomena dominasi ekonomi politik
China di banyak negara, sangat kentara di sejumlah kawasan Afrika, dengan proyek super jumbo dari negara ini yang diberikan nama proyek jalur sutra modern, BRI (Bridge, Road Initiatives) dengan dana puluhan triliun dolar AS.
Pemikiran Soekarno tentang TRI CAKTI: Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, Berkepribadian di Bidang Kebudayaan, tetap relevan dan menjadi semakin penting.
*) I Gde Sudibya, intelektual, pembelajar isu kebangsaan.