Oleh Jro Gde Sudibya
Pasca "pembangkangan" Jokowi terhadap partai pengusungsungnya, partai yang menjadi jangkar pendukungnya selama sembilan tahun pemerintahan, publik bertanya langkah apa yang diambil oleh Mbak Mega (panggilan akrab orang-orang dekatnya) terhadap manuver politik Jokowi.
Politik cawe-cawe Jokowi, telah membuat peta politik Indonesia menjadi fragile (mudah pecah), yang melahirkan proses demokrasi mengalami kemerosotan. Upaya serius berkelanjutan untuk merawat demokrasi, membuat demokrasi bertumbuh selama dua puluh lima tahun terakhir, bisa mengalami regresi dan menuju titik nol yang hampa.
Ulasan dari pakar dan pengamat politik yang mumpuni, nyaris berbarengan dengan "Kelompok 100" yang mewacanakan pemaksulan Presiden, membuat Megawati menjadi titik sentral dalam jagat perpolitikan Indonesia.
Mengingat terus melorotnya citra publik dan sentimen positif Jokowi, pasca politik "cawe-cawe" yang berwujud politik dinasti.
Ketangguhan berpolitik Megawati, sekarang sedang dihadapkan pada tantangan dan ujian, tidak sekadar otak-atik politik kekuasaan untuk meraup kekuasaan.
Tetapi misi besar: penyelamatan demokrasi, mengoreksi otorotarianisme, menghentikan prilaku korup yang nyaris menjadi "budaya", menyelamatkan konstitusi, menjamin arah perjalanan besar berada jalur yang benar menuju Indonesia Emas 2045.
Kualifikasinya sebagai politisi tangguh, yang dibuktikan oleh perjuangan politiknya yang keras penuh suka dan duka, dihormati teman dan disegani lawan, langkah kuda politik Ibu Mega ditunggu publik.
Dalam perjalanan politik yang panjang tsb.plus anak biologis dan ideologis Soekarno, dengan dukungan partainya yang mengakar sampai di akar rumput dan kalangan nasionalis yang menyebar dari Sabang sampai Merauke, banyak orang berharap beliau mampu menjalankan peran kesejarahannya.
*) I Gde Sudibya, intelektual kebangsaan.