Banner Bawah

Adaptasi: Bedah Buku, Sembilan Pemikiran Denny JA Soal Agama di Era Google

Admin - atnews

2023-12-24
Bagikan :
Dokumentasi dari - Adaptasi: Bedah Buku, Sembilan Pemikiran Denny JA Soal Agama di Era Google
Slider 1

Denpasar (Atnews) - Seminar dan Bedah Buku "Era ketika Agama menjadi Warisan Kultural Milik Bersama: Sembilan Pemikiran Denny JA Soal Agama di Era Google" yang diselenggarakan Penerbit Budaya Jakarta kerjasama dengan Universitas IGB Sugriwa dan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Denpasar, Jumat (22/12).

Dengan menghadirkan Penulis Buku Dr. Ahmad Gaus AF, MA yang juga Dosen dan Peneliti Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Keynote Speaker Ketua PHDI Bali Nyoman Kenak, Pembedah Pemerhati Politik Sosial Indonesia I Putu Suasta, Dosen Universitas IGB Sugriwa Dr I Gede Suwantana dan Dr. I Ketut Donder.

Ahmad Gaus AF sebagai peneliti, dosen, dan penulis. Ia terlibat aktif dalam berbagai program penelitian bersama CSRC UIN Jakarta dalam isu-isu konflik komunal, radikalisme, toleransi, dan pembangunan perdamaian. 

Ia juga trainer dalam program Pesantren for Peace dan Kontra Narasi Ekstremis (keduanya unit kegiatan CSRC) dalam materi hak-hak asasi manusia dan teknik penulisan kreatif untuk kontra narasi ekstremis.

Gaus pernah menjadi peneliti di P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) dan Maarif Institute. Terlibat dalam berbagai program kajian dan penerbitan di Yayasan Paramadina. 

Menulis di beberapa media massa seperti Kompas, Suara Pembaruan, Suara Karya, Media Indonesia, Republika, Gatra, Matra, dll. Menulis biografi tokoh-tokoh gerakan pembaruan Islam: Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, dan Utomo Dananjaya. Gaus mengenyam pendidikan di Pesantren Daar el Qolam, Banten, S1 di IISIP, S2 di Paramadina, dan S3 di Universitas Nasional. Ia juga pernah bekerja sebagai tim sensor di Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia (2016-2020). Pada 2020 bergabung dengan tim media Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Sejak 2007 hingga sekarang Gaus adalah dosen dalam mata kuliah Bahasa dan Budaya di Swiss German University (SGU), Tangerang. Beberapa bukunya antara lain: Passing Over: Melintasi Batas Agama (co- author); Menjadi Indonesia (co-author); Fiqih Lintas Agama (co-author); Islam, Negara, dan Civil Society (co-author); Filantropi dalam Masyarakat Islam; dan beberapa buku sastra seperti: Pergolakan Puisi Esai, Hujan dalam Pelukan (novel), Istana Angin (puisi), Senja di Jakarta (puisi), Kutunggu Kamu di Cisadane (puisi esai).
 
Riwayat buku itu bermula dari percakapan singkat dirinya dengan Denny JA pada pertengahan bulan Desember 2022. 

Saat itu pihaknya mengundangnya untuk hadir di acara Natal Bersama Lintas Agama yang diadakan pada 26 Desember 2022. Diri sendiri yang menjadi inisiator dan sekaligus ketua panitia acara itu, yang diadakan di rumah kediaman Ibu Omi Madjid, istri almarhum cendekiawan Nurcholish Madjid, di bilangan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

"Saya katakan kepada Denny bahwa acara Natal bersama ini saya adakan setelah saya membaca tulisan-tulisannya mengenai perayaan Natal di Amerika dan Eropa. Di dua benua itu, tulis Denny, Natal tidak hanya dirayakan oleh umat Kristiani tapi juga oleh umat agama lain, termasuk umat Islam," ungkap dalam sambutan tersebut.

Menurutnya, Bahkan kaum ateis, dan mereka yang tidak percaya Yesus lahir pada 25 Desember, ikut pula merayakan Natal, dan menghias rumah mereka dengan pernak-pernik Natal. Kaum Muslim di Eropa juga merayakan Natal dengan mengundang umat Kristiani ke rumah mereka.

Mereka berkumpul bersama. Makan bersama. Berbagi kebahagiaan bersama. Mereka menikmati perayaan Hari Besar keagamaan sebagai social gathering, sebagai peristiwa kemanusiaan.
Dari pengamatannya itu Denny menyimpulkan, saat ini orang sudah sampai pada kesadaran bahwa “agama-agama adalah warisan kekayaan kultural milik bersama umat manusia.” 

Ketika kutipan dari Denny itu pihaknya katakan sebagai alasan mengadakan Natal Bersama Lintas Agama, dia terkejut dan, kira, senang. Sayang sekali dia tidak bisa menghadiri acara tersebut karena pada hari H sedang berada di luar negeri. 

Tapi dia menitip puisi ciptaannya tentang Natal untuk saya bacakan, dan juga dukungan dana untuk acara tersebut.

Pada hari ulang tahun Denny JA, 4 Januari 2023, saya menulis postingan di Facebook dengan judul  “Agama-agama Milik Bersama.” Di situ pihaknya mengelaborasi lagi pikiran Denny yang dirinya kutip di atas. Rupanya Denny membaca itu dan terkesan. Dalam kolom komentar dia menulis, yang intinya meminta saya untuk “memanjangkan” postingan itu dalam bentuk buku.

Singkatnya, pemikiran keagamaan Denny JA dapat diringkaskan dalam sembilan butir yakni 

1) Pentingnya pendekatan kuantitatif untuk membuat perbandingan soal peran agama di masyarakat. 2) Para arkeolog berjasa mengkonstruksi ulang kisah agama. 3)Setelah Nabi tiada, tiada pula tafsir tunggal agama. Yang tersisa adalah perebutan tafsir. Penting kita memilih tafsir yang sesuai dengan prinsip HAM. 4) Islam Eropa memgembangkan tafsir Islamnya sendiri yang sesuai dengan kultur Eropa. Kita pun di Indonesia tak perlu terikat dengan tafsir kultur Timur Tengah. 5) Bagi yang tak meyakini agama, agama dapat dinikmati sebagai sastra. Apa yang terjadi pada Laligo (kitab suci) yang dinikmati manusia masa kini sebagai sastra dapat juga terjadi pada agama lain. 6) Pentingnya mencari intisari semua agama berdasarkan the science of happiness dan neuro science. Denny JA mengembangkan spirituality of happiness. 7) Mendekati agama sebagai kekayaan kultural milik bersama. Merayakan hari besar agama lain sebagai social gathering lintas agama. 8) LGBT itu isu HAM masa kini. Pentingnya mengembangkan tafsir agama yang tidak mendiskriminasi kaum LGBT. 9) Perlunya menggandeng Science dan Jalaluddin Rumi.

"Sejak awal buku ini hanya diniatkan untuk menyorot aspek- aspek pemikiran Denny JA yang terpenting, yang terkait dengan agama dan spiritualitas. Dan itu pun, belum tentu saya berhasil melakukannya," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PHDI Bali Kenak mengharapkan, pemikiran yang lahir Denny JA-Denny JA dan Ahmad Gaus-Ahmad Gaus yang lainnya lagi sehingga agama menjadi taman yang mempesona . 

"Saya selaku pribadi dan juga sebagai Ketua Pengurus Harian Parisada Bali berharap semoga yth. Bapak Dr. Ahmad Gaus juga bisa memprakarsai Perayaan Nyepi Bersama di Jakarta," harapnya.

Ternyata Dr. Ahmad Gaus memiliki alasan komprehensif, tidak ragu menyampaikan kepada Denny Januar Ali, bahwa acara Natal bersama itu diadakan setelah Dr. Ahmad Gaus membaca tulisan Denny Januar Ali mengenai perayaan Natal di Amerika dan Eropa. 

Denny Januar Ali yang popular dipanggil Denny JA seorang penulis dan tokoh intelektual yang dinobatkan oleh majalah TIME pada tahun 2015 sebagai salah satu dari 30 orang paling berpengaruh di dunia Internet. 

Denny JA selain cerdas juga pemberani (dalam arti berani menyatakan pendapatnya yang berbeda atau dianggap masih sebagai sesuatu yang masih tabu. Terutama pendapat di seputar  persoalan-persoalan agama meliputi filsafat hidup, kebebasan sipil, demokrasi di dunia Muslim yang biasanya dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai wilayah otoritas majelis agama. 

Pandangan Denny JA sejalan dengan puisi-puisi Jalaluddin Rumi, dan juga pandangannya terhadap lahirnya spiritualitas baru abad 21.
 
"Natal tidak hanya dirayakan oleh umat Kristiani tapi juga oleh umat agama lain, termasuk umat Islam. Bahkan kaum ateis, dan mereka yang tidak percaya Yesus lahir pada 25 Desember, ikut pula merayakan Natal, dan menghias rumah mereka dengan pernak-pernik Natal. Kaum Muslim di Eropa juga merayakan Natal dengan mengundang umat Kristiani ke rumah mereka," ungkapnya.

Sungguh luar biasa dan fenomenal, Segelintir orang masih sibuk mengharamkan ucapan Selamat Natal, tetapi kaum Muslim di negara-negara maju sudah menikmati perayaan Hari Besar keagamaan umat lain dengan syahdu. 

Mereka berkumpul bersama. Makan bersama. Berbagi kebahagiaan Bersama (satu fikiran,Tindakan dan tujuan/ sam gacchadwam sam wadadwam. sam wo manamsi jānatām. dewa bhagam yatha purwe. samjānāna upasate). 

Mereka menikmati perayaan Hari Besar keagamaan sebagai social gathering, sebagai peristiwa kemanusiaan. Saat itu orang sudah sampai pada kesadaran bahwa “agama-agama adalah warisan kekayaan kultural milik bersama umat manusia.”

Pemikiran Denny JA mirip dengan pemikiran Acarya Canakya yang hidup ribuan tahun silam, sebagaimana tertuang dalam sloka Canakya Niti Sastra Bab IV.16 yang menyatakan: “Tinggalkan Ajaran yang tidak mengajarkan cinta kasi”. 

Senada dengan Acarya, Denny JA menawarkan jalan tengah untuk menghadapi rasa cemas dan takut dalam beragama. Denny JA berpendapat bahwa: “daripada agama dipahami sebagai kebenaran mutlak yang akhirnya ditinggalkan oleh para pemeluknya yang merasa “tercerahkan” oleh ajaran lain, atau ditinggalkan karena berbenturan dengan klaim kebenaran mutlak agama lain, maka agama yang dipahami sebagai kebenaran mutlak, lebih baik melakukan transformasi pemahaman,.

Dari kebenaran mutlak menjadi warisan kekayaan kultural milik bersama umat manusia. Pandangan ini sejalan dengan ajaran pluralism dalam Hindu sebagaimana tertuang dalam Bhagavadgita IV.11 yang mengakui semua jalan menuju Tuhan yang sama. Juga dinyatakan dalam Bhagavadgita XVII.3.

Sedangkan Putu Suasta meminta tata kelola umat Hindu di Indonesia lebih canggih dan beradaftasi dengan perkembangan zaman.

Hal itu diupayakan dalam mengelola organisasi umat, khususnya PHDI bisa meniru NU atau Muahammadyah. Mereka organisasi umat yang besar dan memiliki aset yang besar pula dengan menggunakan manajemen moderen.

Suasta mengaku banyak belajar dari India, tempat-tempat suci umat Hindu (Sanatana Dharma) bahkan sudah lima kali keliling negara tersebut dalam kurun waktu 30 tahun lebih. 

Bahkan tinggal di tempat-tempat suci bagi umat Hindu yakni Punjab, Varanasi disebut juga Benares, Banaras, atau Benaras, atau Kashi atau Kasi, adalah kota suci agama Hindu di tepi Sungai Gangga yang terletak di negara bagian Uttar Pradesh di India bagian utara. 

Varanasi, bagi umat Hindu, adalah seperti Mekkah bagi umat Muslim atau Vatikan bagi umat Katolik. Ketika berada di India, Putu Suasta bergaul dengan para orang suci atau sadhu.

Suasta tiba di India pada tanggal 4 Oktober 2024, setelah melakukan kunjungan ke Vietnam dalam rangka undangan pertemuan tentang lingkungan, kesetaraan perempuan, HAM dan pluralisme global.

Selama seminggu di India, Suasta juga mengunjungi Akshardham yang merupakan kompleks kuil Hindu yang luasnya kira-kira 200 hektar di pinggiran metropolitan Delhi, India. Termasuk Kurukshetra, Haridwar, Rishikesh dan Mathura.

Sebelumnya juga, Suasta sudah pernah mengunjungi Angkor Wat, Thailand, termasuk Batu Caves Temple Hindu Malaysia dan komunitasnya di Malaysia beberapa waktu lalu. 

Putu Suasta merasa bersyukur dapat berkesempatan melakukan meditasi (dharsan) kepada Dewa Murugan dan tukar pikiran dengan pengempon komunitasnya beberapa waktu lalu di Selangor Malaysia. 

Dewa Murugan sebagai Dewa Hindu yang terkenal di kalangan bangsa Tamil di negara bagian Tamil Nadu di India, dan Sri Lanka. Dewa ini juga dikenal dengan berbagai nama, seperti Kartikeya, Kumara, Shanmukha, Skanda, hingga Subramaniam.

Digambarkan sebagai dewa berparas muda, bersenjata tombak dan mengendarai burung merak, Dewa Murugan ternyata merupakan dewa perang dan pelindung negeri dan bangsa Tamil.

Kedatangannya dalam rangkaian acara pertemuan NGO Leaders se-Asia atau pertemuan para Tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional selama 9 hari di Kuala Lumpur dan Songkhla Thailand Selatan.

Kegiatan pertemuan pimpinan LSM itu dilaksanakan di Singapore, Malaysia dan Thailand. Putu Suasta adalah Alumni UGM dan Cornnel University New York, menjadi pembicara di Kampus Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Songklha di Thailand Selatan, Universitas Thaksin dan Universitas Nasional Singapore.

Peserta LSM yang hadir adalah lintas negara yakni Kamboja, Laos, Malaysia, Singapore, India, Vietnam, Srilangka, China Taiwan, Philipina.dan Indonesia

Pertemuan itu dalam rangka memperkuat Gerakan Masyarakat Sipil di seluruh ASIA. Begitu juga menajamkan issue pluralisme dan keragaman global dalam era digitalisasi. 
            
Suasta pun khawatir umat Hindu di Indonesia tergerus, apabila tidak segera melakukan adaptasi. Oleh karena peradaban budaya Suku Maya Amerika sudah lebih dahulu runtuh.

Maka dari itu, pihaknya kembali mengingatkan percakapan Sri Krsna dengan Bisma dalam Itihasa Mahabrata tentang filsafat buah mangga. 

Sri Krisna : ” tradisi, seperti buah mangga saat baru berbuah rasanya pahit setelah beberapa waktu, rasanya asam hanya manusia yang menyukai rasa asam akan menerimanya dengan senang hati dan setelah beberapa waktu lagi rasanya manis dan disukai banyak orang tapi hingga suatu waktu dia menjadi lembek dan mulai berbau busuk, manusia yang memakannya akan jatuh sakit dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah biji yang mengering yang tidak berguna bagi siapapun” “aku tidak menentang tradisi, paduka tapi jika mulai dijadikan alat untuk mengeksploitasi dan lebih memberi kedukaan dibanding kesukaan maka harus dikubur dalam bumi untuk menumbuhkan sesuatu yang baru” Bhisma : “siapa yang menentukan sebuah tradisi mulai membusuk?” Sri Krisna : “waktu yang akan memutuskannya dan siapapun harus mematuhi keputusan waktu, paduka”. (Gab/ART/001)


Baca Artikel Menarik Lainnya : SMA 2 Denpasar Dulu dan Kini

Terpopuler

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

Wabup Buleleng Gede Supriatna Resmikan Kantor Perbekel Desa Alasangker, Tekankan Pelayanan Masyarakat Meningkat

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sorotan Restaurant Dharma Uluwatu, PHK Sepihak hingga Dugaan Pelecehan Simbol Agama

Sorotan Restaurant Dharma Uluwatu, PHK Sepihak hingga Dugaan Pelecehan Simbol Agama