Narasikan dengan Hebat, Mangku Pastika Coba Kuliner Babi Guling Desa Wisata Nongan
Admin - atnews
2023-12-19
Bagikan :
Slider 1
Karangasem (Atnews) - Anggota DPD RI Dapil Bali Made Mangku Pastika mengharapkan pengembangan desa wisata Nongan Karangasem menonjolkan keunikannya sebagai daya tarik wisatawan.
Keunikan dan perbedaan itu yang akan menjadi daya tarik para wisatawan, bahkan dikemas dengan narasi yang hebat.
Menurutnya, potensi Desa Wisata Nongan cukup besar baik budaya, kuliner, hasil perkebunan maupun bentang alam yang berada di kaki Gunung Agung dan jalur menuju Pura Besakih.
Desa wisata Nongan Karangasem yang sudah terbentuk sejak 2014 perlu terus menggali keunikan yang ada sebagai keunggulan selain tetap menjaga kelestarian lingkungan dan tradisi. Dengan demikian desa wisata ini bisa berkembang dan memajukan masyarakatnya.
“Desa wisata bisa menjadi tempat wisata karena daya tarik yang dimilikinya. Jadi harus tahu, kalau orang (wisatawan) datang ke sini mau lihat dan menikmati apa, harus ada keunggulan dan Keunikannya. Harus ada sesuatu yang tak ada di tempat lain,” kata Mangku Pastika.
Hal itu disampaikan ketika Reses dengan tema “Pengembangan Desa Wisata: Tantangan dan Solusinya dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Desa” yang dipandu Tim Ahli Nyoman Baskara didampingi Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja.
Dengan menghadirkan Ketua Forkom Dewi Bali I Made Mendra, Kepala Desa Nongan I Wayan Daging SP, Bendesa Komang Yadnya, Ketua Sabha Desa Adat Nongan Pande Sudasta, Angga Kertha Desa Adat Nongan IGN. Indra Kecapa, Para Klian Dinas, Para Klian Subak se-Desa Nongan, Pokdawis desa Nongan, Ketua/Tim PKK Desa Nongan serta Tokoh Masyarakat Desa di Desa Wisata Nongan Karangasem, Senin (18/12).
Mangku Pastika pun meminta agar sumber mata air Desa Nongan diperuntukkan untuk penglukatan (penyucian) disertai dengan narasi. Begitu juga memafaatkan promosi melalui media sosial dan influencer.
Dicontohkan kenapa orang berduyun-duyun ke Tirta Empul Gianyar, ini karena ada hal khusus yang tidak dimiliki tempat lain. Bali jadi terkenal juga karena banyak yang cerita tentang Bali setelah melihatnya, seperti Arie Smith, Bonnet hingga Antonio Blanco.
“Saya dengar tadi di sini ada tirta (air) penglukatan yang bisa untuk pengobatan. Bahkan banyak istri yang tak bisa hamil setelah ke sini memiliki keturunan. Ini hal unik yang bisa menjadi daya tarik luar biasa,” ujar Gubernur Bali 2008-2018.
Pada kesempatan itu, Mangku Pastika pun mencoba mencicipi suguhan kuliner Babi Guling Yan Asih milik Ni Wanyan Widiasih yang sudah dibuka selama 2,5 tahun, kini memiliki tiga cabang yakni dua tempat di Desa Nongan dan Selat Karangasem.
Kuliner itu memang rasanya kriuk dan sedap. Banyak diminati para pemedek yang sembahyang ke Pura Besakih.
Untuk itu, pihaknya optimis Desa Wisata Nongan bisa maju dengan berbagai potensi yang dihadirkan tersebut.
Belum lagi, Desa Nongan memiliki pertanian salak organik yang begitu dikenal masyarakat luas. Bahkan Mangku Pastika pun menerima keluhan masyarakat terkait menurunnya dana BKK Pemda Bali selama lima tahun terkahir dari Rp50 juta menjadi Rp10 juta, di tengah meningkatnya dana BKK bagi desa adat. Padahal ada filosofi "asuwun atagen".
Bahkan Mangku Pastika menceritakan sejarah dan asal tenun ikat, di Bali dikenal dengan endek dan songket. Warisan itu tidak terlepas dari peran Rsi Markandeya dari India hingga ke Bali yang mengajarkan membuat endek, sistem irigasi Subak dan ajaran umat Hindu (Sanatana Dharma). Dimana Subak di Bali sudah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.
Untuk itu, Mangku Pastika telah melakukan napak tilas menapaki jejak leluhur Bali telah meletakkan dasar kuat sejarah peradaban Hindu di Pulau Dewata dengan "mendem" (menanam secara spritual) "Panca Datu" di Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem.
Mangku Pastika Gubernur Bali periode 2008-2018, mengatakan perjalanan Rsi Markandeya sebagai pendiri Pura Agung Besakih tersebut berasal dari tanah Odhisa, India.
Keberadaan Pura Besakih sebagai pura terbesar di Bali menjadi spirit bagi kehidupan Hindu hingga bisa bertahan sampai sekarang yang baru saja dilakukan penataan yang diresmikan oleh Presiden Jokowi.
Ia menjelaskan, lebih dari 1.500 tahun lalu, leluhur masyarakat Odisha mengembangkan perdagangannya sampai ke tanah Bali, sehingga dikenal dengan adanya upacara "Kalingga Bali Yatra" pada setiap Purnama Kartika di bulan November.
Ritual tersebut diharapkan menjadi spirit untuk memulai kembali merajut persaudaraan masyarakat dari leluhur yang masih terpelihara spiritnya, baik di Odisha dan Bali tersebut.
Dalam menguatkan hubungan Mangku Pastika yang didukung oleh Ida Rsi Putra Manuaba (Agus Indra Udayana) Pendiri dan Pengasuh Ashram Gandhi Puri Dianugerahi Presiden India Padma Shri Award berhasil mendirikan Padmasana Kalingga Bali terletak di tepi Sungai Mahanadi, yakni di Maritime State of Odhisa, Cuttack.
Tempat itu juga menjadi spirit Kalingga Bali Yatra. Dengan pendirian Padmasana tersebut diharapkan kedua negara kembali memulai semangat baru yang sesungguhnya telah dilakukan oleh Maha Rsi Markandeya sebagai leluhur kita. Semangat tersebutlah yang dapat dikembangkan ke depan.
Berbagai kerja sama, baik pendidikan, kebudayaan dan ekonomi, termasuk pengusah, dan pariwisata dapat dikembangkan sekaligus lebih mempererat hubungan keduanya. Ketua Forkom Dewi Bali I Made Mendra juga memuji kegigihan Desa Nongan dalam membangun desa wiaata. Dengan adanya dana desa melalui pembangunan desa wisata diharapkan mampu melestarikan budaya, alam hingga mendatangkan kesejahteraan.
Sebaiknya Desa Nongan tetap mempertahankan identitas desa, tidak meniru desa wisata tempat lain.
"Desa wisata kuatkan budaya kita, lestarikan Desa Nongan. Ada ketela maupun alam yang indah," ujarnya.
Mendra memaparkan ada 31 desa wisata di Karangasem. Kalau potensi desa wisata ini bisa dikembangkan maka akan meningkatkan ekonomi masyarakatnya.
“Pariwisata bukan barang baru bagi Bali dengan SDM-nya yang unggul. Oleh karena itu, penting menjaga budaya dan alam yang dimiliki yang menjadi daya tarik,” harapnya.
Desa Nongan ditempuh sekitag 60 menit dari Denpasar, tidak jauh juga dari Bangli dan Klunglung pula. Maka dari itu, Desa Nongan bisa menjadi pilihan liburan masyarakat maupun wisatawan ke desa wisata.
Sementara itu, Perbekel Nongan Wayan Daging menceritakan potensi desanya yang memiliki sejumlah kelebihan.
Namun diakui belum bisa dikembangkan. Bahkan di desa dengan penduduk 6 ribu jiwa lebih ini ada Penglukatan Panca Tirta yang dipercaya untuk pengobatan.
“Ibu yang sulit hamil setelah ke tempat ini kemudian bisa memiliki keturunan. Di desa dengan lingkungan yang sejuk ini juga telah dikembangkan wisata tracking dan ada tempat menginap (homestay).
Di desa ini juga terkenal dengan babi gulingnya, seperti Warung Babi Guling Asih yang saat ini banyak pelanggannya.
Angga Kertha Desa Adat Nongan IGN. Indra Kecapa mengaku pernah akan kuliah /diterima di Sekolah Pariwisata Nusa Dua Tahun 1982.
Begitu juga pernah kerja tour guide di salah satu travel dan kerja mengelola counter Nusa Lembongan Bungalows dan Rest Made pada tahun 1987 di Kuta depan bom Bali 1, selepas dari pendidikan Sastra Inggris Unud tahun 1987.
Pernah menulis mayor paper berjudul :The impact of tourisms in the developing country, Subject Critical Thingking in Education Setting, School of Law, Humanities and Education The Flinder University (based on study literature) mayor paper submitted to the lecture Dr. Paul Jawel.
Menurutnya, banyak dampak positif dan negatif dari tourims, lapangan pekerjaan, hingga income, pengembangan obyek wisata benda non benda (Thailand, Bali dan seterusnya). Ia pun mengkhawatirkan tergerusnya budaya dan alam lingkungan (Hawai dan Kepulauan Karibia).
Untuk itu, bagaimana agar adanya desa wisata dapat banyak dampak postif tanpa menimbulkan dampak negatif seperti misal berkurang lahan dan minat bertani gen Milenial dan Gen Z yang signifikan.
Termasuk, solusi mengembangkan potensi wisata di timur Desa Nongan yang mempunyai potensi benda berupa keindahan alam juga seperti misal bentangan sawah view indah ke arah gunung dan laut disekitar (areal Patolan) dan Bukit Junjang yang sempat dilirik tetapi urung karena kendala investasi dan kemungkinan dukungan masyarakat.
Serta keindahan alam di bagian barat desa berupa sungai yang masuk Goa di sekitar pesucian Dedari (satu-satunya di Bali mungkin).
Dikatakan pula keunikan potensi wisata berupa non benda, misalnya punya Tarian Rejang Pala dan Baris Kumbang yang ditarikan saat Ngusaba Dalem/Desa saat Purnama Kedasa (dipublish buletin ISI) Pura Balang Tamak, dengan ada fakta dan cerita situs Tegalan Petian, Kropak (tinggalan Sarkopagus), Kupa (buka) bujaga,
Menariknya lagi, multicultural karena warga Hindu yang bersima Tionghoa (yang menempati karang AYHD) sudah sejak lama, warga Liew sudah pernah ditulis oleh Sugi Lanus, Desa Nongan artinya Neng tanah kosong yang subur, di China juga ada district Nong an.
"Setuju untuk dikembangkan apa potensi yang harus diatensi oleh Pak Mangku, dan telah dan mulai berkembang wisata kuliner dengan wisata spiritual melukat, dan homestay dengan dimemas cerita-cerita yang menarik," ujarnya.
Diharapkan bisa dikembangkan apalagi Desa Nongan ada di jalur Pariwisata Pura Besakih. "Katanya orang Denpasar bila ke Besakih tiba di areal Nongan perlu istirahat sejenak minimal ngopi dan perlu toilet," pungkasnya. (GAB/ART/001)