Oleh Jro Gde Sudibya
Pemugaran Besakih dengan dana negara Rp.950 M, dengan slogan menjaga kesucian Besakih, tetapi faktanya terbangun proyek komersial, lengkap dengan gedung jangkung parkir bertingkat, layaknya sebuah Mall, tempat pembeli berbelanja dan bersenang-senang, ciri prilaku masyarakat kapitalistik sekuler.
Gedung jangkung yang "ngungkulin" Pura Titi Gonggang, dan arah tetuak kayun mebakti menghadap ke gedung ybs. Bukan ke Pura Ulun Kulkul, Pura Bale Agung Kladian (merujuk sejarah awal Besakih) atau Pura Penataran Agung.
Parkir bertingkat ini, "menghempang" - menyumbat ruang, yang menghubungkan Pura Dalem Puri sebagai simbolik Tuhan Pradana dengan Penataran Agung sebagai simbolik Tuhan Purusha.
Pembangunan gedung ini, melahirkan "kekacauan" teologis dalam perspektif ruang Besakih. Kekacuan sosiologi agama, jika dikaitkan dengan upakara meajar - ajar nyegara gunung pasca upakara pengabenan.
Di mana Pura Dalem Puri, titik sentral "pengempak lawang" penting dari pitra yajna, menuju Sorga (dalam pengertian tradisi Bali) Pura Manik Mas, menuju ke kesadaran (consiousness) dalam pengetahuan yang datang kemudian.
Belum kita bicara tentang tempat asli gedung bertingkat tersebut, sebagai tempat bersejarah, "moment of truth" mempertahankan Besakih secara puputan, oleh para tetua Besakih yang sekarang di "sungsung-linggiyang" ring Pura Catur Lawa.
Menarik disimak, sekelumit kisah raja Bali keturunan Singhasari, Wang Bang Sri Kresna Kepakisan yang mengembangkan kepemimpinannya berbasis prinsip, sebut saja filosofi kepemimpinan, menetapkan Besakih sebagai: kebanggaan manusia Bali, wahana membangun persatuan dan "tetuek" kayun menuju ke keselamatan - Basuki - skala niskala.
Zaman berubah, kearifan besar Besakih di atas dihadapkan pada tantangan nyata kapitalisme pasar sekuler dengan "ornamen" ambisi kekuasaan.
Peradaban Bali dihadapkan tantangan besar, tetapi masyarakat Bali umumnya diam "berpangku tangan". Tanda-tanda awal prahara dan "sandya kalaning Bali?.
Dimana Pura, Puri (baca simbol kekuasaan) tunduk pada Pasar (baca ekonomi kapitalistik dengan kecendrungan kuat sekulerisme) menundukkan cara berpikir dan bahkan kekuasaan negara.
*) Jro Gde Sudibya, anggota MPR RI Utusan Daerah Bali, pengamat kebudayaan.