Oleh Jero Mangku Agung I Ketut Puspa Adnyana“Sembah sujud kepada Mahadewa, Adi Yogi-Adi Guru yang telah mengajarkan Yoga kepada Prajapathi yang melanjutkan kepada Manusia. Mohon restu dan ampunan kepada Maharsi Patanjali agar tan keneng updrawa lan pastu”.
Dalam rangka perayaan International Yoga Day (IYD) berbagai kegiatan dilaksanakan sejak dicangkannya tahun 2015 dengan sangat antusias di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Kegiatan tersebut merata di seluruh dunai misalnya: yoga massal, seminar tentang yoga, kegiatan sosial, donor darah dan lainnya. Kegiatan ini telah membantu dan menodrong kesadaran dalam berperan serta atau berpartisipai dalam menyemarakkan yoga.
Tujuan dari ditetapkannya International Yoga Day adalah untuk mengakui pentingnya yoga dalam mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan fisik serta mental di seluruh dunia. Alasan lain dibalik itu dalah untuk menghormati warisan yoga kuno India. Yoga telah menjadi bagian integral dari budaya India selama ribuan tahun dan dianggap sebagai metode yang efektif untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan secara holistik.
Inisiatif International Yoga Day bermula dari pidato perdana menteri India, Narendra Modi, pada tanggal 27 September 2014, di depan sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam proposalnya Narendra Modi menyampaikan keyakinannya bahwa yoga bukan saja meningkatkan kesehatan secara fisik tetapi juga menyelaraskan antara tubuh dan pikiran yang melibatkan meditasi, kontrol pernafasan dan aspek-aspek spiritual, menata modifikasi pikiran untuk keseimbangan menyeluruh dan menciptakan harmonis sosial.
Pada akhirnya, pada tanggal 11 Desember 2014, mejelis Umum PBB mengadopsi resolusi dan menetapkan tanggal 21 Juni sebagai International Yoga Day (Hari Yoga Internasional).
21 Juni
Pilihan tanggal 21 Juni mengacu pada ajaran Veda yaitu astronomi atau “Jyotisha”. Jadi penetapannya berdasarkan pengetahuan “Jyotisha shastra”, yaitu pengetahuan tentang astronomi, astrologi, kosmologi, planet dan bintang (jyothis, artinya “cahaya” atau “cahaya illahi”).
Ajaran Veda mengenal perputaran matahari berada disebelah utara yang dikenal dengan “uttarayana” setelah musim dingin dan perputaran di sebelah selatan yang disebut “daksinayana” musim panas. Musim panas pada perputaran uttarayana merupakan hari terpanjang dan titik tertinggi matahri jatuh pada tanggal 21 Juni, dan posisi bumi dengan matahari paling jauh.
Diyakini bahwa pada solstis ini, 21 Juni, merupakan hari yang baik untuk melakukan sadhana spiritual dan meditasi yaitu upaya manusia untuk menyelarasakan tubuh dan pikiran yang selanjutnya akan berlanjut keseimbangan antara tubuh (mikrokosmos, buana alit) dan alam semesta (makrokosmos, buana agung) yang dikenal dengan Yoga.
Pengetahuan tentang Jyotishsastra inilah yang kemudian menjadi dasar dalam penysuunan Kalender Hindu, terutama kalender Bali yang menerangkan menghitung waktu ritual dan upacara, serta untuk membaca tanda-tanda astrologi, yang dapat menentukan hari baik dan hari buruk “padewasan” (ala ayuning dewasa).
Alasan lain mengapa tanggal 21 Juni dipilih adalah terkait dengan perayaan Festival Musik ("Fête de la Musique") yang dilaksanakan di seluruh dunia. Pemilihan bulan juni sebagai pertanda kesatuan dan perdamaian dunia melalu pagelaran seni musik.
Dengan demikian tanggal 21 Juni menjadi moment yang tepat untuk memposisikan upaya-upaya besar dan sungguh-sungguh membangun keselarasan pikiran baik lewat Yoga maupun lewat seni musik untuk harmoni, kedamaian dan kesejahteraan dunia.
Berdasarkan paparan tersebut, beberapa manfaat International Yoga Day yang dirayakan pada hari ini, terutama dalam upaya mencapai harmoni dan kedamaian dunia, antara lain: Terciptanya kesehatan fisik dan mental; Terciptanya Kesadaran diri dan Empati; Terciptanya Kesehatan Fisik dan Keseimbangan, Terbangunnya Seni Budaya Musik sebagai pelengkap kehidupan yang berestetika, dan Terwujudnya Pelestarian Lingkungan dan Ekosistem serta Terwujudnya Perdamaian Dunia dengan cara memartabatkan kemulian manusia.
Selamat Hari Yoga Internasional (*)