Denpasar (Atnews) - UPTD Museum Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, menyelenggarakan "Seminar Busana Sulinggih" melibatkan puluhan peserta dari berbagai kalangan terkait, seperti: para Sulinggih, ilmuwan, budayawan serta Pinandhita di Bali.
Kasi Edukasi dan Reparasi UPTD Museum Bali, Putu Sudana, kepada Atnews mengemukakan, seminar sehari yang digelar, hari ini, 30/05/2023, di Museum Bali, bertujuan untuk menyempurnakan kembali hasil dari kajian tim yang telah dilaksanakan setahun lalu atau di tahun 2022.
Dikatakan anggota tim yang terdiri atas 6 orang, yakni: Ida Pedanda Gede Putra Bajing dari Geria Tegal Jingga Denpasar, Ida Pedanda Aan Klungkung, Prof. Dr. Drs. I Made Surada, MA , Guru Besar Univ. I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Drs. Ida Kade Suarioka, MSi, Drs. I Gusti Ngurah Tara Wiguna, M.Si dan IB. Purwa Sidemen, S.Ag.itu, setelah melakukan penelitian dengan melibatkan para nara sumber berkompeten tentang busana Sulinggih yang ada dalam kehidupan masyarakat khususnya soal busana kesulinghihan, semua masukan yang telah berhasil dirangkum, lanjut diseminarkan.
"Ketika kita melaksanakan kajian dan penelitian ke lapangan dengan mohon informasi kepada Sulinggih, tentu ini juga menjadi masukan bagi kami dalam rangka penyusunan laporan untuk busana Sulinggih mengingat koleksi museum Bali tentang busana Sulinggih yang terdapat di museum Bali ini, perlu kiranya diberikan sebuah deskripsi agar menjadi sebuah karya tulis yang benar-benar memberikan informasi kepada masyarakat", ujarnya.
Jadi seminar ini untuk mendapatkan penyempurnaan dari para Sulinggih, ilmuwan dan budayawan yang paham betul tentang busana Sulinggih yang ada dalam.masyarkat, tegasnya.
Seminar ini kata Putu Sudana, memang wajib dilaksanakan karena merupakan persyaratan dari pusat. Jadi ini memang sistem yang telah digariskan oleh Pemerintah Pusat, khususnya dari Kemendikbud berkaitan dengan penggunaan pengalokasian dana DAK.
Ida Pedanda Putra Bajing mengakui, memang suatu kerja berat dalam mencari info ke seluruh Bali dalam melengkapi data seputar busana Sulinggih ini, ujarnya selaku pembicara kunci dalam seminar tersebut.
Seperti disampaikan Kasi Edukasi dan Reparasi UPTD Museum Bali, Putu Sudana, kepada Atnews kesulitan yang dirasakan, yakni: adanya perbedaan-perbedaan pandangan yang berkaitan dengan busana Sulinggih ini. Seperti yang ia contohkan, perbedaan dari fungsi, bentuk dan pemaknaannya.
"Hal inilah yang perlu kita berikan garis bawah; artinya, bagaimana sesungguhnya bentuk , fungsi dan makna dari busana Sulinggih itu sendiri, seperti dari busana Sulinggih Siwa, Bhuda, Bhujangga, itulah yang perlu kita bicarakan", ucapnya mengakhiri bincang-bincang dengan Atnews.
Dalam seminar yang dipandu Made Arik Wira Putra, SS M.Sos. itu, Prof. Surada bicara soal "Busana Sulinggih Menurut Sumber Sastra", Ida Kade Suarioka mengungkap soal "Genitri pada Busana Sulinggih Koleksi Museum Bali", I Gusti Ngurah Tara Wiguna mengangkat "Kajian Arkeologis Busana Sulinggih", sementara dan IB. Purwa Sidemen pada kesempatan ini bicara masalah "Busana Singgih Bhawa (Ketu Agung)", Koleksi Museum Bali.(*/IBM).