Banner Bawah

K.H. Dewantara: Jasanya Dikenang, Kelahirannya Diperingati

Admin - atnews

2023-05-03
Bagikan :
Dokumentasi dari - K.H. Dewantara: Jasanya Dikenang,  Kelahirannya Diperingati
Slider 1

Oleh Romi Sudhita

Pembaca, apalagi yang pernah menjadi siswa dan mahasiswa tentu pernah mendengar sekaligus mengalami yang namanya Hardiknas. Kata Hardiknas merupakan kependekan dari Hari Pendidikan Nasional. Disebabkan Hardiknas itu bukan hari biasa maka diperingatilah setiap tahunnya oleh bangsa dan rakyat Indonesia. Di balik Hardiknas ada orang/tokoh sentral bernama K.H. Dewantara.

Beliau, yang memiliki nama lengkap Ki Hadjar Dewantara bukan orang sembarangan. Sewaktu kecil, ia diberi nama Raden Mas (R.M) Suwardi Soerjaningrat oleh ayahnya yang bernama K.P.H. Soerjaningrat. Atas inisiatif sang ayah, R.M. Soerjaningrat berganti nama tahun 1928, kala itu yang bersangkutan berusia 39 tahun. Nama barunya tiada lain adalah K.H. Dewantara. Jadi, kelahiran beliau pada tanggal 2 Mei 1889 di kota gudeg Yogyakarta.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, beliau gigih berjuang agar Indonesia merdeka. Beliau sangat bersemangat ingin memperjuangkan nasib rakyatnya yang tertindas oleh penjajah.

Di bidang politik, K.H. Dewantara bersama Douwes Dekker (Dr. Setia Budi), dan Dr. Tjipto Mangunkusumo mendirikan partai politik yang diberi nama "Indische Partij." Partai yang didirikan tiga serangkai itu beraliran keras, selalu berhadapan dengan pemerintah/penjajah. Ujung-ujung pergerakan dan perjuangan yang mereka lakukan adalah kemerdekaan bagi seluruh rakyat  Indonesia.

K.H. Dewantara yang kelahiran kota pariwisata dan budaya Yogyakarta sangat mengilhami kalau dirinya lalu dijuluki sebagai seorang budayawan ulung, selain sebagai tokoh pendidikan nasional. Ke depannya, semua karya dan hasil karya beliau diwariskan kepada  generasi berikutnya, teristimewa kepada para pengikutnya.

Pada awal kiprahnya sebagai seorang yang sangat berpihak kepada bidang pendidikan, K.H. Dewantara mendirikan sekolah yang diberi nama Perguruan "Taman Siswa." Sebagaimana yang tertera dalam buku "Sejarah Pendidikan" yang ditulis oleh Djumhur, dkk. tahun 1959, bahwa Taman Siswa itu resmi berdiri pada 3 Juli 1922. Kelangsungan hidup sekolah yang didirikannya itu banyak mendapat rintangan dan tantangan dari pemerintah Belanda (penjajah). Rintangan dan rongrongan tersebut mulai dari yang bersifat prinsip soal perizinan hingga masalah kecil semisal pajak rumah tangga. Belum lagi soal larangan mengajar bagi beberapa orang guru yang dianggap membahayakan kewibawaan pemerintah. Namun berkat usaha dan perjuangan yang gigih dari K.H. Dewantara bersama rekan-rekannya, semua rintangan itu bisa teratasi. Semboyan yang dimiliki ketika itu "Rawe-rawe Rantas Malang -malang Putung" yang punya makna, segala rintangan akan hancur.

K.H. Dewantara sangat tidak setuju dengan sistem pendidikan yang rohnya berasal dari penjajah. Ia lalu berikrar bahwa pendidikan harus terselenggara dan berasaskan lima asas yakni ; Asas kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan dan asas kemanusiaan.

Dari kelima asas tersebut, Taman Siswa semakin eksis dan dilengkapi dengan Sistem Among serta Tut Wuri Handayani. Lengkapnya terurai, setiap guru yang mengajar di Perguruan Taman Siswa, berprinsip : Di depan memberikan contoh keteladanan (Ing Arso sung tulodo), di tengah-tengah memberikan semangat (Ing madyo Mangun Karso), dan di belakang para pendidik tinggal mengawasi bagaimana seharusnya anak-anak berperilaku yang baik (Tut Wuri Handayani). Prinsip ini sampai sekarang masih tetap diyakini dan diimplementasikan dalam pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

Berkat jasa-jasanya di bidang pendidikan dan di bidang politik (anti & melawan penjajah) lalu pemerintah bersama seluruh rakyat Indonesia mengenangnya. Di pihak lain juga disepakati setiap tanggal 2 Mei (kelahiran K.H. Dewantara) diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hardiknas, seperti yang telah disinggung pada awal tulisan ini.

Dewantara sebelum mengakhiri hidupnya (1959), banyak mendapat posisi dan kepercayaan dari pemerintah. Sebut saja pernah menjadi Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PPK), pernah menjadi Wakil Ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung), dan menerima gelar doktor kehormatan (Doktor Honoris Causa) bidang Ilmu Kebudayaan dari Universitas Gajah Mada. Semuanya ini beliau dapatkan sesudah Indonesia merdeka.

*) Penulis, jurnalis tinggal di Singaraja

Baca Artikel Menarik Lainnya : Biasakan Berkompetisi Gagasan

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius