Karangasem (Atnews) - Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih telah berakhir, dimana penyineban Ida Bhatara telah dilangsungkan pada hari Rabu, 26 April 2023. Ribuan pemedek tangkil setiap harinya selama 21 hari dari puncak karya pada Purnama Kedasa, tanggal 5 April 2023 yang lalu. Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih yang baru juga menjadi daya tarik lain yang menjadi alasan para pemedek sangat antusias untuk tangkil ke Pura Agung Besakih.
Terkait dengan Fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih, pegiat media sosial, I Ketut Adi Wibardi menyampaikan bahwa fasilitas Kawasan Suci Pura Agung Besakih yang diresmikan beberapa waktu yang lalu sudah beroperasi dengan optimal.
Menurut Jro Adi panggilan akrabnya, dukungan fasilitas ini hendaknya bisa diperlihara dengan baik, tidak hanya oleh pengelola tetapi juga seluruh umat Hindu dan setiap orang yang berkunjung ke Pura Agung Besakih.
Selain itu, Jro Adi juga menambahkan fasilitas fisik yang sudah berdiri ini hendaknya bisa dioptimalkan juga dengan didukung sistem operasional berbasis digital, terutama pada saat pemedek mengantre di Pura Pedharman dan Pura Penataran Agung Besakih. “Fasilitas yang telah dibangun oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Bali sudah sangat baik, hanya saja perlu dioptimalkan dengan sistem operasional terutama untuk penangkilan pemedek yang akan bersembahyang ke Pura Pedharman, Pura Penataran Agung Besakih, dan Pura-Pura lainnya di kawasan Pura Agung Besakih. Seperti yang kita lihat di sosial media sekarang, banyak sekali pemedek yang harus mengantre, berpanas-panasan dan kehujanan ketika akan bersembahyang.
Jika hal ini bisa difasilitasi dengan sistem penangkilan berbasis kuota pemedek, alangkah baiknya. Misalnya berapa daya tampung pemedek di Pura Penataran Agung, maka segitu yang diperbolehkan masuk.
Sedangkan kelompok kuota persembahyangan berikutnya bisa menunggu di jaba tengah, dan kuota persembahyangan di belakangnya bisa menunggu di Wantilan di jaba sisi, sembari menunggu antrean kuota mereka dipanggil untuk mengantre ke tahapan selanjutnya di jaba tengah. Misalnya, saya sekarang akan bersembahyang ke Pura Catur Lawa Ratu Pasek, pada saat di loket antrean, saya mendapat putaran persembahyangan ke 12, sedangkan di Pura Penataran Agung sudah putaran ke-13, maka saya bisa memperkirakan untuk mencari putaran persembahyangan di Penataran Agung yang ke 14 atau 15. Jadi setelah saya selesai sembahyang di Pura Penataran Agung Besakih, saya bisa melanjutkan persembahyangan ke Pura Penataran Agung,” Jelas Jro Adi memberikan sedikit simulasi.
Selain itu. Jro Adi yang juga aktif sebagai Pengurus Pasemetonan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) menambahkan sistem penangkilan berbasis kuota memang sudah dilakukan, namun belum optimal, pada saat awal Karya Ida Bhatara Turun Kabeh ada sistem aplikasi Speed Id yang dipakai sebagai pengatur kuota dan lalu lintas pemedek yang akan tangkil ke Besakih, namun sepertinya hal tersebut belum diketahui oleh masyarakat luas. Sehingga, bisa kita lihat dan baca di media-media, lalu lintas umat yang akan nangkil ke Pura Besakih dan Pura Batur sangat padat. Kemacetan terjadi di jalur-jalur yang menuju kedua Pura tesebut, apalagi ketika hari sabtu dan minggu, serta hari libur dan cuti bersama” terang Jro Adi yang juga seniman tari topeng Bali.
Jro Adi yakin bahwa Pemerintah Daerah, Pengelola Kawasan Suci Pura Agung Besakih dan Desa Adat Besakih sudah pasti akan mengevaluasi hal-hal yang perlu ditingkatkan dalam Karya Ida Bhatara Turun Kabeh tahun 2023.” Sebagai umat Hindu di Bali, saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Panitia, Pemerintah, Prajuru Desa serta pihak-pihak yang sudah ikut serta dalam menyukseskan Karya Ida Bhatara Turun Kabes tahun 2023 ini. Kita yakin bahwa Pemda, pengeloka Kawasan Suci ini, dan Desa Adat Besakih pasti akan melakukan evaluasi. Dan kita berharap ke depan, pada Karya Ida Bhatara Turun Kabeh berikutnya bisa lebih baik lagi.” jelas Jro Adi pada akhir keteranganya. (z/001)