Denpasar (Atnews) - Lusi & Pakan by The River hadir di perkotaan Denpasar sebagai sebuah usaha restoran di tengah rimbunan pohon yang hijau dikagumi Anggota DPD RI Dapil Bali Dr. Made Mangku Pastika.
Restoran model tersebut memang tengah tren dan menjadi daya tarik masyarakat baik lokal, domestik dan mancanegara.
Restoran dibangun pada awal pandemi Covid -19, pada tahun 2020. Dibangun oleh Ayu Gilang bersama I Gusti Made Arsawan yang juga Desainer Tekstil Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Hal itu sebagai pengembangan usaha Tenun Patra Nusantara, Arsawan telah menekuni tenun tradisional sejak 1986. Dirinya mengawali dengan melakukan riset terlebih dahulu sehingga mengetahui secara kajian akademik dan bisnis.
Sehingga dirinya berhasil kembangkan Tenun Patra yang merupakan kain tenun tradisional Bali yang memadukan teknik tenun endek dan teknik melukis diatas benang.
Motifnya kebanyakan terinspirasi atau diambil dari gambar relief candi, pura kuno di Bali Utara yang begitu bebas mengekspresikan maksud sang senimannya.
Lusi & Pakan berada di kawasan Penatih Denpasar. Lokasinya penuh pepohonan sehingga ketika berada di dalamnya serasa berada di tengah hutan.
“Ini usaha yang bagus karena membangun bisnis dengan tetap menjaga lingkungan aslinya. Restoran ini di kota (Denpasar), tapi suasananya pedesaan seperti di tengah hutan,” ungkap Mangku Pastika saat melakukan kegiatan reses diterima Arsawan didampingi Ayu Gilang selaku founder di Denpasar, Rabu (14/12).
Dalam reses yang mengangkat tema "Eksistensi perajin tenun khas Bali dan prospeknya”, Mangku Pastika didampingi Tim Ahli Nyoman Baskara, Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja.
Diharapkan pula, Tenun Patra agar tetap kembangkan marketing yang bernarasi. Ia menyadari orang - orang Bali masih memiliki kemampuan menarasikan hasil karyanya masih minim.
Namun Tenun Patra karya Arsawan memang telah memiliki ciri khas tersendiri yang memadukan warisan budaya dengan tren kekinian.
Keunikan Lusi & Pakan selain berada di tengah hutan dan melintasi jalan berundag serta melewati jembatan di atas sungai, pengunjung akan menikmati bangunan restoran menghadap tepi sungai yang dominan menggunakan material kayu. Bahkan menurut Arsawan sebagian besar material yang digunakan kayu bekas namun kualitasnya sangat bagus. “Sebagian kayu saya datangkan dari luar,” ujarnya.
Produk endek yang dihasilkan memiliki motif tersendiri. Bahannya juga sangat alami. “Kami melibatkan belasan tenaga kerja dengan alat tenun tradisional,” tambah Ayu Gilang yang sempat berkeliling ke sejumlah negara untuk menimba pengetahuan untuk mengembangkan usahanya.
Kepada Mangku Pastika, ia menjelaskan, kain endek produksinya dibuat tampil beda mengembangkan motif atau pepatraaan. “Kami ingin rombak biar ada sesuatu yang baru dan inovatif dengan multiteknik dan multicolour sehingga lebih fresh,” jelas penghobi lingkungan ini.
Terkait usaha tenun endek tersebut, Mangku Pastika berharap agar potensi lokal diberdayakan lebih maksimal. Selain tetap mengembangkan inovasi dan menjaga kualitas, pemasaran juga menjadi hal penting. “Produk itu akan lebih bernilai kalau dilengkapi narasi yang bagus,” pesan mantan Gubernur Bali dua periode ini.
Di Lusi & Pakan yang cukup luas ini pengunjung bisa menikmati makanan Bali, nusantara maupun western sambil menikmati kesejukan alam di tengah kerimbunan berbagai pohon yang cukup tertata. (GAB/ART/001)