Banner Bawah

Peringatan Hari Puputan Margarana, Prof Windia : Kemerdekaan Bangsa Ini Tidak Tiba-Tiba Jatuh dari Langit

Admin - atnews

2022-11-21
Bagikan :
Dokumentasi dari - Peringatan Hari Puputan Margarana, Prof Windia : Kemerdekaan Bangsa Ini Tidak Tiba-Tiba Jatuh dari Langit
Slider 1

Denpasar (Atnews) - Ketua DHD 45 Provinsi Bali Prof Wayan Windia mengatakan, makna peristiwa Puputan Margarana dimaknai sebagai momentum mengingat para leluhur memang terpanggil untuk memberi kepada bangsanya pada era perang kemerdekaan.

"Itulah sekarang yang disebut dengan wawasan kebangsaan. Sebuah wawasan bahwa pada saat-saat yang diperlukan kita harus memberi kepada bangsanya, ikhlas berkorban untuk bangsanya, dan mementingkan kepentingan di atas kepentingan bangsa," kata Prof Windia di Denpasar, Minggu (20/11).

Demikian disampaikan setelah peringatan hari Puputan Margarana ke-76 Tahun 2022. Wakil Gubernur Bali Prof. Tjok. Oka Sukawati saat memimpin Upacara hari Puputan Margarana ke-76 Tahun 2022 di Taman Pujaan Bangsa Margarana, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Minggu (20/11).

Sejarah bangsa Indonesia mencatat bahwa Puputan Margarana merupakan suatu peristiwa heroik dari pasukan Ciung Wanara bersama-sama rakyat yang dipimpin oleh Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai untuk menjaga kemerdekaan dan kedaulatan bangsa dari penjajah yang ingin menguasai kembali tanah tumpah darah kita sampai pada tetes darah penghabisan yang dinamakan "Puputan Margarana". 

Menurutnya, generasi muda sekarang karena pengaruh eksternaliltas, otak dan hatinya penuh dengan harapan-harapan. Harapan tentang kebebasan, demokrasi, HAM, kesejahteraan, dll.

"Itu boleh-boleh saja. Tetapi generasi muda juga harus dibangun kesadarannya bahwa dahulu kemerdekaan bangsa ini tidak tiba-tiba jatuh dari langit," ujar Prof Windia yang juga Ketua STISPOL Wira Bhakti Denpasar dan Guru Besar Fakultas Pertanian Unud.

Kemerdekaan ini, dibangun dengan tetesan darah. Korban sangat banyak berjatuhan. Di Bali gugur lebih dari 1.371 orang dari 24 ribu pejuang yang terlibat dalam perang kemerdekaan ketika ada satu juta penduduk Bali pada saat itu. 

Belum terhitung pejuang yang cacat seumur hidup karena disiksa musuh. Belum terhitung istri-istri yang menjadi janda, dan anak-anak yang menjadi yatim dan yatim piatu.

Pusaka yang diwariskan oleh para pejuang kemerdekaan tersebut harus dijaga dengan kokoh. Pusaka itu yakni Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Para pejuang menyebutnya sebagai Tri Pusaka Bangsa. Sekarang dikembangkan menjadi 4 pilar kebangsaan.

Jadi kaum generasi muda, disamping memiliki harapan-harapan, juga harus taat menjaga warisan masa lalu bangsanya tersebut.

Masa depan bangsa, tidak boleh menyimpang dari masa lalu bangsanya. "Bila kita melupakan masa lalu, maka kita akan kehilangan arah dalam menata masa depan. Bahwa pembangunan masa depan bangsa harus merupakan pengamalan dari Pancasila, sebagai warisan para pejuang kemerdekaan kita," ujarnya. 

Sementara itu, Wagub Cok Ace menambahakan, sebagai penghargaan atas hal itu, kita memperingati peristiwa Puputan Margarana setiap tahun. Upacara peringatan ini bukan hanya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kemerdekaan yang kita nikmati, tetapi sekaligus sebagai refleksi terhadap jati diri sebagai bangsa bermartabat yang dilahirkan oleh para pejuang.

Perjuangan dan pengorbanan tanpa pamrih para pahlawan dalam peristiwa heroik Puputan Margarana tanggal 20 Nopember 1946 tersebut patut dijadikan contoh dan teladani semangat perjuangan para pahlawan oleh semua komponen masyarakat pada era sekarang ini, dalam mengisi kemerdekaan demi mencapai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur. "Sejalan dengan hal tersebut, maka sangatlah tepat tema yang diangkat dalam peringatan saat ini adalah "MENGIMPLEMENTASIKAN NILAI-NILAI PUPUTAN MARGARANA  MENUJU BALI UNGGUL, yakni berjuang melawan kemalasan dan kebodohan," tegas Wagub Cok Ace.

"Banyak hal yang dapat diteladani dari peristiwa sejarah masa lalu, salah satunya adalah kebersamaan dalam berbagai perbedaan. Kita boleh berbeda dalam tugas dan fungsi masing-masing, namun hendaknya bersama- sama dalam mewujudkan kesejahteraan sosial.
Contohnya, dalam konteks budaya Bali, kita memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang Adi Luhung, antara lain konsep Tri Hita Karana dan konsep menyama braya. Nilai kearifan lokal tersebut pada hakekatnya selaras dengan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Konsep Tri Hita Karana mengajarkan keharmonisan dan keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam serta lingkungan. Sedangkan konsep menyama braya mengajarkan semangat kebersamaan dan kekeluargaan dalam memecahkan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari," imbuh Wagub Cok Ace.

Lebih lanjut disampaikan, bahwa bercermin dari konsep nilai perjuangan masa lalu yang diadaptasikan dengan konsep- konsep pembangunan pada masa sekarang ini, maka melalui momentum peringatan Hari Puputan Margarana ke-76 Tahun 2022 ini, Wagub Cok Ace mengajak seluruh krama Bali untuk terus memupuk dan meningkatkan rasa solidaritas sosial dengan dijiwai oleh semangat dan nilai- nilai luhur kepahlawanan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Bali dengan Visi, Misi dan Program Pembangunan Bali "Nangun Sat Kerthi Loka Bali" Melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana yang bermakna "Menjaga Kesucian dan Keharmonisan Alam Bali Beserta Isinya, untuk Mewujudkan Kehidupan Krama Bali yang Sejahtera dan Bahagia, Sakala-Niskala Menuju Kehidupan Krama dan Gumi Bali Sesuai dengan Prinsip Trisakti Bung Karno, Berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan melalui pembangunan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah dan terintegrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia Berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila 1 Juni 1945.

Lebih lanjut lagi, Wagub Cok Ace menegaskan bahwa momentum historis ini aga menjadi dasar pijakan dalam mensukseskan pembangunan daerah Bali dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peringatan hari Puputan Margarana ke-76 tahun 2022 yang juga dihadiri oleh Ketua DPRD Provinsi Bali, Wakil Bupati Tabanan dan segenap unsur terkait juga diisi dengan peletakan karangan bunga dan tabur bunga di pusara pejuang kemerdekaan, sekaligus dilengkapi dengan penandatanganan Surat Sakti dan Panji-Panji Perjuangan I Gusti Ngurah Rai. (GAB/ART/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : BPBD Bali Cek Pemicu Jebolnya Tembok Sekolah di Bhuana Giri

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng