Badung (Atnews) - Putu Suasta Sohib Lawasnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Mantan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPP Partai Demokrat makan siang sembari diskusi secara intensif di hotel Stone Kuta, Kamis (17/11) dalam ngobrol ringan itu ada Heru Lelono, Made Mudarta, Made Sada dan Nengah Tamba.
Pertemuan nostalgia itu, setelah menghadiri undangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menjamu para delegasi KTT G20 makan malam di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Selasa (15/11) malam.
Dalam jamuan makan malam itu hadir para menteri Kabinet Indonesia Maju, serta para Presiden dan Wakil Presiden RI terdahulu seperti Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, hingga Try Sutrisno. Serta Ketua DPR Puan Maharani. Megawati dan SBY bahkan terlihat duduk satu meja saat jamuan makan malam tersebut.
SBY sebagai Presiden Indonesia keenam yang menjabat sejak 20 Oktober 2004 sampai 2014 mengajak Putu Suasta agar terus mengabdi dan berjuang untuk kemajuan NKRI menuju generasi emas 2045.
"Pertemuan makan siang dengan Pak SBY satu meja berempat sehingga dapat diskusi secara intensif," ujar Suasta yang juga Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Cornell University.
Acara itu menjadi sungguh berkesan karena lama tidak bertemu di tengah - tengah para pemimpin dunia negara - negara G20 bertemu di Bali selama dua hari dalam menentukan perekonomian global.
Selain itu, SBY juga mengingatkan bahwa negara Indonesia yang masyarakatnya plural harus diperjuangkan. "Supaya kebhinekaan nya solid dan terjaga karena konstitusi kita sudah mencantumkan yang harus dilaksanakan," ujarnya.
Apalagi Presiden SBY pernah menerima gelar World Statesman Award karena keberhasilan memelihara kedamaian dan menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
Penghargaan itu World Statesmen Award diberi oleh AFC. AFC adalah organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antar kepercayaan yang berbasis di New York, Amerika Serikat.
Organisasi itu mulai menganugerahkan penghargaan tahunan pada 1997. Beberapa pimpinan negara mendapatkan penghargaan ini, di antaranya PM Inggris kala itu, Gordon Brown pada (2009), Presiden Perancis Nicolas Zarkozy (2008). Pada 2012, penghargaan ini dianugerahkan kepada Perdana Menteri Kanada Stephen Harper.
Pada kesempatan itu, SBY menolak radikalisme agama dan faham - faham yang bertentangan dengan Pancasila.
SBY juga bilang sebagai pengagum Bung Karno, pikirannya dan ajarannya dia rumuskan sebagai bagian dari pemikirannya dalam menentukan kebijakannya 10 Tahun (2004-2014) sebagai presiden.
Disamping itu, SBY dengan Bali banyak kenangan, Bali sebagai inspirasi kulturalnya.
Bali sebagai pulau yang diberkati Tuhan, ada pagelaran Pesta Kesenian Bali (PKB), bahkan SBY selama 10 tahun sebagai Presiden terus datang menghadiri tanpa pernah absen.
Semasa menjadi Presiden RI, diselenggarakan juga sebagaian besar konfrensi internasional di Bali seperti APEC, kongres perubahan iklim dari PBB, dalam masa pemerintahannya dibangun jalan Prof. Ida Bagus Mantra, perbesaran Bandara International I Gusti Ngurah Rai, tol Bali Mandara di atas laut yang digunakan dalam menyukseskan acara APEC, WB IMF dan KTT G20.
Merehabilitaai hutan bakau yang rusak, Presiden SBY bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri yang menanam mangrove bersama bintang sepak bola dunia asal Portugal, Cristiano Ronaldo, di Taman Hutan Raya Ngurah Rai pada Tahun 2013.
Namun saat ini, SBY hobby melukis, membangun museum kebudayaan di Pacitan. "Saya langsung diundang Pak SBY bulan Juli ke Pacitan. Dalam obrolan ringan itu Saya hadiahkan Pak SBY beberapa buku yakni "Majapahit Style", juga buku yang saya tulis "SBY Menegakkan Demokrasi Mengawal Perubahan" dengan 340 halaman.buku Mengapa Harus SBY, Twiter SBY, Buku konvensi Partai.
Diceritakan pula, dalam undangan KTT G20, SBY bertemu dengan PM Singapore Lee Hsien Long, satu meja dengan Megawati, Jusuf Kalla. Diskusi soal perubahan iklim, demokrasi dan ketahanan pangan. (ART/001)