Oleh Jro Gde Sudibya
Sejarah sering mengajarkan jika terjadi krisis kehidupan yang berarti krisis kepemimpinan, orang berpaling ke keteladanan kepemimpinan masa lalu, bukan untuk kembali ke masa lalu, karena masa lalu tidak pernah kembali, tamsilnya membalikkan arah jarum jam merupakan kesia-siaan.
Tetapi berangkat dari kearifan manajemen holistik waktu kehidupan Tri Semaya: Atitha : masa lalu, mengambil pelajaran, hikmah dan kearifan masa lalu, Nagatha: masa depan, menatap, merespons dan " mengisi" masa depan, melalui perbuatan nyata di hari-hari ini - Warthamana -.
Berangkat dari pemikiran di atas, hari ini 21 September 2022 Raina Buda Kliwon Ugu, lazimnya Odalan/Puja Wali ring Pura Bale Agung Taro, umum menyebut Pura Gunung Raung, mengenang perjalanan Rsi Markandya dari Gunung Ruwung Jawa Timur menuju Bali.
Rsi yang berasal dari Odhisa, Kalingga, Bharatwarsha (nama otentik India) yang datang menuju Nusantara. (Sampai hari ini keberangkatan Sang Rsi menuju Nusantara, dirayakan di Odhisa dalam perayaan Bali Yatra bulan Oktober setiap tahunnya).
Rsi Markandya yang "mendem " Panca Datu , dengan "tetuek" kayun ke Pucak Toh Langkir - berangkat dari keyakinan " Gunung Toh Langkir mraga lingga Widhi. Lokasi pemendeman tsb. kemudian disebut ring ambal-ambal Pura Besakih, sekarang berdiri Pura Basukhian, dalam bahasa ke kinian jalan menuju ke keselamatan - the way to salvation-.
Dalam bahasa ke kinian, Rsi Markandya adalah Bapak Pendiri Pura Besakih - the founding father of Besakih temple - dengan seluruh sistem keyakinan yang melekat pada " jejer kemiri pura ring sawewengkon Basukhian".
Jika disimak sistem keyakinan masyarakat pada sejumlah pura yang berelasi dengan Sang Rsi, menyebut beberapa Pura: Campuan (Ubud), Pucak Payogan (Lungsiakan), Dalem Swargan (Kadewatan Let), Bale Agung Tanggayuda, Bale Agung Payangan, Hyang Api (Klusa), Bale Agung Kertha, Bale Agung Wong Aya Gede, Bale Agung Kladian, Basukhian, Gunung Kawi Sebatu, Bale Agung Taro dan Dalem Pingit Taro, kearifan kepemimpinan Sang Rsi, menyebut beberapa yang penting dan pantas untuk dicatat.
Pertama, ethos kerja yang menyatu dengan alam, menyimak sasmita alam.
Kedua, kepemimpinan pemberi teladan, dalam artian berada di garis terdepan persoalan, penanggung beban terbesar dari rakyat yang dipimpinnya. Ketiga, dharma kepemimpinan dalam bahasa ke kinian merupakan wahana dari pendakian rokhani, yang digambarkan oleh nama Sang Rsi MARKANDYA: insan manusia yang menang melawan kematian, baca Moksha.
*) Jro Gde Sudibya, Ketua FPD (Forum Penyadaran Dharma).