Oleh Jro Gde Sudibya
Farel Prayoga penyanyi cilik berusia 12 tahun, anak kelas 6 SD, popularitasnya meledak di dunia maya, pasca menyanyikan lagu Ojo Dibandingke, di depan Istana Merdeka, Jakarta, dalam perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus 2022.
Farel menjadi magnet di dunia maya, diundang oleh berbagai kalangan selebriti, yang bisa jadi ingin numpang popularitas Farel yang lagi viral.
Fenomena yang hampir sama terjadi dalam peristiwa CFW ( Citayam Fashion Week), gerakan fashion yang dimotori anak-anak muda Citayam ( sebuah desa antara Depok - Bogor ), yang berlangsung di Zebra Cross, Setiabudi, Jakarta Pusat.
CFW yang sempat meledak di dunia maya, menarik berbagai kalangan termasuk sejumlah selebritas untuk " numpang " popularitas di event yang sedang viral.
Timbul pertanyaan, bagaimana ke dua event tsb.dapat sedikit dijelaskan dalam fenomema budaya kontemporer yang sedang berlangsung.
Pertama, dashyatnya kekuatan pencitraan ( the power of image ) di negeri ini. Dalam pandangan pakar marketing dunia Philips Kotler, pencitraan adalah satu hal, realitas adalah hal yang lain lagi. Menurut Kotler, citra akan bertahan ( image sustainability ), jika didukung oleh realitas, kalau tidak citra akan segera " menguap ".
Kedua, " krumunan " pencitraan di atas, dapat mengingatkan kita akan pandangan seorang antropolog ternama Prof.Kuntjaraningrat, bahwa ciri menonjol dalam kebudayaan kita adalah sikap mental menerabas dan aji mumpung.
Sikap mental untuk " potong kompas ", ingin cepat dapat hasil (besar) tidak menghargai proses dan aji mumpung (memanfaatkan semua kesempatan termasuk dalam " kesempitan ").
Ketiga, di era fenomena pasca kebenaran (Post Truth) dan berakhirnya kepakaran (the end of expertise) yang bercirikan: kedangkalan berpikir, hoax, ujaran kebencian dan sejenisnya, upaya nebeng ketenaran peristiwa dan kepopuleran figur, akan semakin menonjol, dalam fenomena di medsos yang bercirikan: "selfito ergosum", karena terus berselfie ria di medsos maka aku ada.Plesetan dari ungkapan yang sangat terkenal " Aku Berpikir, maka Aku Ada ".
*) Jro Gde Sudibya, pengamat kebudayaan.