Oleh Jro Gde Sudibya
Pandemi Covid - 19 yang telah berlangsung 2 tahun 6 bulan memakan korban yang begitu banyak: manusia, kerugian ekonomi yang tidak terhingga, menurut para akhli disebabkan oleh virus yang begitu kecil tidak kasat mata, yang lahir dan berkembang-biak akibat dari terganggunya keseimbangan alam.
Di sisi lain, perang yang berlangsung antara Ukraina - Rusia, yang menjadi pangkal penyebab dari krisis: pangan, energi yang mendunia, pangkal penyebabnya untuk sederhananya adalah keserakahan kekuasaan.
"Goro-goro" di dunia telah terjadi, pangkal penyebabnya adalah rusaknya alam plus keserakahan manusia.
Di samping hal tsb., terjadi anomali semacam " kekacauan " sosial lunak di banyak negara, yang pangkal penyebabnya jika merujuk pemikiran Mahatma Gandhi tentang 7 dosa sòsial yang menjadi penyakit masyarakat: politik tanpa prinsip, bisnis tanpa moralitas, kekayaan tanpa kerja, pendidikan tanpa karakter, iptek tanpa kemanusiaan, kesenangan tanpa pembatasan diri, memuja Tuhan tanpa kerelaan berkorban.
"Goro-goro" plus fenomena anomali sosial di atas, dapat mengingatkan kita akan " Jongko Joyoboyo " yang konon ditulis oleh seorang pangeran di Kerajaan Mataram di abad ke 18.
"Ramalan Joyoboyo" ini berisi: "Sak iki zaman edan, Sopo sing ora edan ora kaduman, Sak becik-becike wong edan, Pinih becik wong eling lan waspodo". Terjemahannya, sekarang ini zaman edan, siapa yang tidak edan, tidak kebagian, sebaik-baiknya orang edan, lebih baik orang yang sadar dan waspada.
Dalam konteks tantangan ke kinian, kepemimpinan di zaman edan mempersyaratkan, pertama, kepemimpinan dengan pribadi tangguh - personally strong leadership - , tidak hanyut, terkooptasi dan didikte oleh kekuatan kapital yang sangat kuat, yang oleh budayawan cum nasionalis Erros Djarot disebut sebagai kekuatan "9 naga".
Kedua, prilaku politik yang cendrung menjadi budaya politik yang bercirikan: pragmatis, transaksional, sehingga demokrasi menjadi pertarungan kekuatan modal, demokrasi para cukong ( meminjam istilah Prof Emil Salim ) semestinya lebih dikendalikan. Ketiga, karena proses demokrasi yang cacat akan melahirkan "anak kandung" korupsi dengan segala bentuknya, pemimpin di zaman edan seharusnya menjadi teladan dan panglima "perang" dalam penyakit sosial yang akut ini.
Tantangan kepemimpinan yang sangat berat, bukan berarti tidak mungkin bagi pemimpin yang amanah dengan penderitaan rakyat.
*) Jro Gde Sudibya, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma ).