Denpasar (Atnews) - Pesta Kesenian Bali ke-44 yang saat ini masih berlangsung di Taman Budaya atau Art Center Denpasar tetap saja menarik minat masyarakat. Hampir tiga pekan sudah berjalan, dari pengamatan media online Atnews, ternyata masyarakat yang bertandang ke pusat perhelatan seni tahunan daerah Bali ini, masih luar biasa. Ribuan pengunjung masih tetap memenuhi areal Taman Budaya. Mereka ternyata bukan hanya tertarik untuk menonton seni pertunjukan,, tetapi juga nampak membludak di tempat penjualan pakaian, permainan anak-anak dan kuliner yang berada di sebelah barat Art Center, yang nota bena adalah di luar kawasan Taman Budaya sendiri.
Mereka datang ke Taman Budaya memang dengan berbagai alasan. Ada yang hanya sekedar untuk jalan-jalan refreshing ataupun memang sengaja menonton pertunjukan yang ia senangi. Seperti yang dikemukakan oleh Ngurah Anom yang mengaku berasal dari Sempidi Kabupaten Badung.
Dijumpai disela-sela keramaian pertunjukan seni Joged Bungbung dari Sanggar Seni Eka Satya Budaya Selemadeg Tabanan, Anom kepada Atnews mengemukakan, ia sendiri tidak senang ngibing joged, tetapi senang menontonnya. Yang menarik dalam menonton joged, kata Ngurah Anom, adalah variasi gerakan tariannya, baik penari joged maupun pengibingnya.
Kendati demikian, ia mengaku tidak suka dengan penari joged yang menampilkan gerakan-gerakan terlalu erotis yang menurut istilahnya "joged jaruh" atau joged forno. Hal senada juga disampaikan oleh Pak Wayan yang berasal dari Banjar Abiankapas. Jadi rumahnya tidak terlalu jauh dari areal Taman Budaya. Pak Wayan yang mengaku datang sendirian ke Taman Budaya, juga tidak suka ngibing, tetapi senang menonton joged Bungbung karena variasi ibing-ibingan para pengibibgnya
Pertunjukan seni tari Joged Bungbung yang dikatagorikan sebagai tari pergaulan, setiap ajang Pesta Kesenian Bali - PKB memang selalu mendapat perhatian antusias masyarakat pengunjung Taman Budaya. Seperti halnya dalam penampilan Sanggar Seni Eka Satya Budaya Selemadeg Tabanan di stage atau Kalangan Ayodya Taman Budaya. Para penonton dari awal hingga akhir pertunjukan tidak bergeming. Mereka demikian antosias dalam menyaksikan penampilan 5 (lima) orang penari yang tampil silih berganti.
Disela-sela pertunjukan tersebut, salah seorang penari Joged Bungbung yakni Ni Wayan Nuasih Dewi ketika dijumpai di belakang panggung, sebelum menunjukkan kebolehannya kepada Atnews menyampaikan, dirinya saat menari joged pertama adalah spontanitas gara- gara tamu villa meminta tarian hiburan. Ia yang mengaku sudah mulai menari sejak usia 13 tahun, biasanya hanya sebagai penari lepas, ketika itu diminta untuk menari joged. Ibu dari dua putra dan seorang putri yang kini sudah memasuki usia 35 tahun, mau saja. Nah bermula dari situlah, Istri dari Sumadiasa ini, menyukai tarian Joged Bungbung.
Ia menyatakan sangat senang dan bangga bisa tampil di ajang PKB mewakili Kabupaten Tabanan. Ia mengaku tidak hanya sekedar menari, tetapi lebih dari itu, berobsesi untuk mengangkat citra tarian Joged Bungbung agar tidak lagi dicap sebagai tarian forno. Ia minta kepada para penari joged agar menghargai seni pertunjukan ini, "Kembalikan tari joged sebagai tari pergaulan yang adhi luhung", pungkasnya.
Selama kurang lebih dua jam sejak pukul: 17.00 WITA pertunjukan tari joged di kalangan Ayodya itu, benar-benar berhasil memukau para pengunjung yang memenuhi tempat duduk di kalangan Ayodya taman budaya. Sementara hari ini, Jumat, 1/07/2022, berbagai pagelaran seni masih tetap menyemarakkan arena PKB ke-44 sejak pagi hingga malam hari, termasuk kesenian luar daerah Bali, dan akan berlangsung hingga, 10 Juli mendatang.(IBM).