Oleh Jro Gde Sudibya
Hari ini Minggu, 15 Mei 2022 rainan Purnama Mala Jiestha, bertepatan dengan Hari Raya Waisak bagi umat Budha. Raianan Purnama dalam fenomena kehidupan yang semakin bercirikan era pasca kebenaran, post truth yang antara lain bercirikan kebenaran palsu, " kebenaran " bohong, karena merupakan perpaduan dari informasi yang terdistorsi, fakta hasil rekayasa, kebohongan, hoax dan sejenisnya, diterima sebagai "kebenaran" untuk memenuhi keinginan, kepentingan dan bahkan ilusi. Era post truth ini, berbarengan dengan era berakhirnya kepakaran, the end of epertise, yang bercirikan proses pendangkalan pemikiran, anti intelektual. Bersamaan dengan sikap kehidupan yang tidak menghargai proses, sikap mental menerabas, aji mumpung, potong kompas dan pendapat " suryak siu " yang abai terhadap kecerdasan dan kebeningan hati.
Fenomena kehidupan yang menggambarkan kerapuhan karakter, bisa sebagai akibat dari dominasi dari ekonomi keserakan, ekonomi perjudian yang membuat materi dan juga kekuasaan sebagai " dewa " pengatur kehidupan dalam artian sebenarnya. Invisible hand, " tangan yang tidak kelihatan " yang mengatur kehidupan adalah keserakahan yang tidak mengenal henti dan tidak ada ujung akhirnya.
Padahal Bhagavad Gita mengajarkan dan menekankan arti penting insan-insan manusia membangun kepribadian yang mantap, Stitha Prajna, strong personality dalam menghadapi disrupsi perubahan, memaknai kehidupan dan menuju pendakian rokhani.
Dalam upaya (tidak mudah) membangun kepribadian mantap, pantas disimak buku Bhagavad Gita (Nyanyian Tuhan) edisi jumbo yang diterjemah-tafsirkan oleh Prabu Darmayasa dalam beberapa sloka di bawah ini.
Pertama, dalam Bab Dua Bhagavad Githa sloka 56, Cri Kreshna sebagai perwujudan dari Cri Narayana Tuhan Visnu bersabda pada Arjuna di medan Kuru Setra: " Orang yang pikirannya tidak tergoyahkan di dalam duka, tidak riang berlebihan di dalam keadaan suka, bebas dari ikatan, kecemasan dan kemarahan, dia disebut sebagai muni yang memikili kesadaran mantap ".
Kedua, dalam Bab Dua sloka 61 tertulis: " Para sadhaka yang sungguh-sungguh, dengan mengendalikan seluruh indriyanya dan menjadi terlelap secara sempurna di dalam diri- Ku, karena mereka yang pikirannya berada dalam pengendaliannya, ( maka ) kesadaran orang seperti itu menjadi mantap secara sempurna ".
Ketiga, dalam Bab Dua, sloka 62 dan 63 tertulis: " Orang-orang yang selalu memusatkan pikirannya pada obyek-obyek indria, maka keterikatan pada obyek-obyek indria itu akan tumbuh. Dari keterikatan itu muncul hawa nafsu, ( dan ) dari hawa nafsu muncullah kemarahan ".
" Dari kemarahan muncullah kebingungan yang kuat maka ingatan menjadi kacau. Ketika ingatan menjadi kacau balau maka kecerdasan menjadi binasa. Akibat binasanya kecerdasan maka orang mengalami kehancuran diri ".
*) Jro Gde Sudibya, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma ).