Oleh Jro Gde Sudibya
Jagat politik kita kembali riuh dengan wacana Presiden 3 periode dan penundaan pemilu yang dilansir oleh beberapa elite politik, termasuk mereka yang menjabat menteri. Di tengah realitas ekonomi penuh tekanan: antre dan tingginya harga minyak goreng, kenaikan harga komoditas pangan dan naiknya harga minyak. Terjadi kontradikisi disini, masyarakat menengah bawah bergelut untuk bisa bertahan hidup, tetapi sebagian elitenya secara vulgar menunjukkan besarnya libido untuk mempertahankan kekuasaan, dengan cara " menelikung " konstitusi.
Presiden dalam berbagai kesempatan menyatakan untuk taat dan tegak lurus dengan konstitusi, yang maknanya "terang benderang" : menolak penundaan pemilu dan jabatan Presiden 3 periode.
Tetapi aneh bin ajaib, sejumlah menteri yang nota bene bawahan Presiden, dengan rasa percaya diri terus melontarkan pendapat penundaan pemilu dengan argumentasi yang lemah dan bahkan dinilai mengada-ada.
Dari perspektif kepemimpinan para menteri tersebut telah melakukan "pembangkangan" terhadap keputusan dan pilihan politik Presiden. Dari perspektif kepemimpinan dan aspek managerial, timbul kesan terjadinya anomali kepemimpinan, di tengah tekanan ekonomi rakyat yang berat.
Para pengamat memahami ungkapan: "politic is the art of posibility", politik adalah seni dalam mengelola kepemimpinan. Dengan sikap Presiden di atas, dan risiko politik dari pemundaan pemilu dan wacana Presiden 3 periode, yang menurut pendapat seorang sosiolog bisa menimbulkan konflik horizontal, sudah sepantasnya Presiden menegur para menteri diatas, sehingga polemik politik yang tidak bermutu, menguras energi masyarakat dapat diminimalkan.
Anomali kepemimpian dapat dihilangkan, kewibaan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan kembali terpulihkan.
Kualifikasi kepemimpinan ini penting di menyongsong pertemuan G 20, dimana Indonesia pada posisi presidensi dan suhu politik yang diperkiran terus meningkat menjelang Pilpres dan Pilkada 14 Februari 2024. Presiden sedang mengukir sejarah, rakyat mengharapkan beliau mampu mengukir " tinta emas " kesejarahan buat bangsa dan negara.
*) Jro Gde Sudibya, ekonom, pemgamat ekonomi politik.