Denpasar (Atnews) - Bangsal adalah sebuah bangunan tua, di mana para pejuang kemerdekaan bertemu, dalam rangka mengatur strategi perjuangan untuk kemerdekaan RI. Lokasinya persis di pertigaan Gaji-Dalung-Sempidi. Pada saat perang kemerdekaan, lokasi Bangsal sangat strategis. Karena di sekitarnya adalah persawahan. Sehingga para pejuang dengan aman dapat bertemu, membangkitkan semangat kebangsaan, untuk mempertahankan kemerdekaan RI.
Setiap ada gerakan yang mencurigakan pasti ketahuan, dan para pejuang dapat segera masuk ke goa perlilndungan. Pejuang Made Wijakusuma alias Pak Joko mengatakan bahwa Bangsal memiliki kaitan yang erat dengan perang laut di Gilimanuk, pendaratan Pak Rai di Jembrana, dan TPB Margarana. Pak Joko adalah wakil komandan Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (DPRI) Sunda Kecil.
Dengan terbitkan buku edisi kedua, maka nilai-nilai kejuangan dan kebangsaan yang berkembang di Bangsal harus dapat dilestarikan. “Generasi Baru Indonesia, harus paham tentang sejarah bangsanya, termasuk nilai-nilai yang berkembang di Bangsal”. Demikian dikemukakan Ketua Umum DHD Angkatan 45 Prov. Bali, Prof. Wayan Windia. Dikemukakan bahwa pada saat bangunan Bangsal diresmikan sebagai Monumen Perjuangan Bangsal (MPB) pada tahun 2008, telah diterbitkan buku dengan judul : Bangsal Dalam Kenangan Revolusi dan Perang Kemerdekaan di Bali. Isinya tentang peran Bangsal dalam perang kemerdekaan.
Selama kurun waktu itu, telah berkembang berbagai komentar dan peristiwa di MPB. Oleh karenanya kini telah siap diterbitkan buku edisi kedua. Isinya lebih lengkap, karena telah dimasukkan berbagai domumen sejarah lainnya. Diantaranya adalah catatan dalam buku Bali Berjuang (terbitan tahun 1954) karangan Nyoman S Pendit. Disebutkan bahwa peristiwa puncak pertemuan para pejuang kemerdekaan tanggal 16 Agustus 1945, adalah peristiwa ke-7 dari 49 peristiwa penting dalam perang kemerdekaan di Bali. Bahwa pertemuan-pertemuan sebelumnya telah dilakukan oleh para pejuang di Bali sejak tahun 1942, yakni ketika penjajah Jepang mendarat di Bali. Semua pertemuan yang dilakukan di Bangsal adalah pertemuan rahasia. Oleh karenanya, MPB disebut sebagai Markas Rahasia Perjuangan Bawah Tanah dalam Perang Kemerdekaan di Bali. Bangsal adalah embrio dari perjuangan perang kemerdekaan di Bali.
Ketua Umum MPB, Dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, SpA (K) dengan rendah hati mengatakan bahwa peran para leluhurnya di kawasan MPB, mungkin hanya secuil dari gegap gempita gerakan pemuda untuk Indonesia merdeka. Meskipun demikian, bahwa api, semangat, dan nilai-nilai yang berkembang di MPB perlu direfleksikan oleh Generasi Baru Indonesia (GBI). Bahwa nilai-nilai pragmatisme yang kini berkembang di alam pembangunan nasional, perlu diseimbangkan dengan nilai-nilai sejarah bangsa. Tujuannya agar dalam menatap masa depan Indonesia, maka harapan-harapan yang ada, harus tetap berakar dari bumi NKRI, yang dahulu dibangun dengan tetesan darah.
Sementara itu, Manager MPB Bagus Ngurah Rai mengemukakan bahwa buku edisi kedua adalah kelanjutan dari buku Edisi pertama yang terbit tahun 2008. Kemudian dilengkapi dengan berbagai fakta dan data yang berkembang hingga saat ini. Diantaranya kunjungan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo ke MPB, dan wawasan tentang masa depan MPB dalam menyongsong satu Abad MPB dan NKRI. Di samping itu, juga bersisi catatan fakta bahwa pertemuan pejuang kemerdekaan di MPB, tercatat sebagai peristiwa ke-7 dari semua proses perang kemerdekaan di Bali. Buku diterbitkan oleh Penerbit Universitas Udayana Press. Buku edisi kedua ini ditulis oleh Wayan Windia, dengan editor Bagus Ngurah Putu Arhana dan Bagus Ngurah Rai. (ww/001).