Banner Bawah

Leluhur dan Keturuannya: Lahir untuk Rencanakan Kelahiran yang akan Datang

Admin - atnews

2022-02-01
Bagikan :
Dokumentasi dari - Leluhur dan Keturuannya: Lahir untuk Rencanakan Kelahiran yang akan Datang
Slider 1

Oleh Jero Mangku Agung I Ketut Puspa Adnyana
“Om swastyastu. Om Awignam Astu Nama Siddham. Sembah Sujud kepada Yang Maha Terang, Ida Batara Batari, Leluhur dan Pandita Suci sumber kebenaran. Mohon waranugraha rahayu lan rahajeng serta mohon ampunan telah menarasikan lagi AjaranNya yang sangat mulia. Om Siddhirastu Astu Tad Astu Swaha”
Ada dua kata yang menimbulkan perbedaan persepsi mendalam. Natal dan Mortal. Natal berhubungan dengan kelahiran yang menimbulkan persepsi menyenangkan dalam suasana gembira dan senang. Mortal terkait dengan kematian yang menimbulkan persespi kesedihan dan duka mendalam. Hindu mengenal rwabhineda: perbedaan dan kesamaan selalu dalam sebuah ruang yang sama. Nilai uang dan lambang uang merupakan sebuah kesatuan yang menyebabkan kertas atau logam itu berharga. Rasa duka dan rasa senang merupakan satu kesatuan. Lahir dan mati merupakan pasangan yang tidak terpisah. Menydari ini, mereka yang berhasil dalam kehidupan, yaitu membangun kesimbangan. Sesuatu yang pasti adalah kelahiran dan kematian (natal dan mortal).

Leluhur
Leluhur manusia dalam masa kalpa ini adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Brahman, entitas Yang Mada Ada, yaitu Manu atau disebut juga Rsi Sayambumanu. Ia yang mengadakan dirinya sendiri yang kemudian menikahi Dewi Starupa, yang tiada tara kecantikannya. Diantara semua keturunan manu yang terkenal adalah Daksa atau Prapapati Daksa yang memerintah Bumi. 
Tuhan Brahman juga menciptakan 7 maharsi utama yang menjadi leluhur semua mahluk selain manusia, yaitu Maharsi Kasyapa yang Agung. Prajapati Daksa memiliki 70 putri, 12 diantaranya menjadi istri Maharsi Kasyapa. Keduabelas istri Maharasi Kasyapa melahirkan dan mengembangkan keturunan keturunan yang utama (di jalan dharma) dan keturunan keturunan yang berkebalikan yaitu di jalan Adharma. Kedua ciptaan ini bersifat melengkapi: Rwabhineda.

12 Istri Maharsi Kasyapa 
Atas lilaNya Maharsi Kasyapa menjadi menantu Prajapati Daksa dengan menikahi 12 putrinya dari 70 orang putrinya (beberapa nama putra-putri Prajapati Daksa berbeda dengan Adiparwa/Itihasa dan Mahapurana, namun menjadi jelas bila 18 Mahapurana sdh dipelajari). Hubungan suami-istri antara Maharsi Kasyapa dengan 12 istrinya tersebut melahirkan keturunan semua mahluk yang ada di dunia ini, yaitu:
1. Dewi Aditi menurunkan bangsa bangsa Aditya,
2. Dewi Diti menurunkan bangsa bangsa Detya,
3. Dewi Danu menurunkan bangsa bnagsa Danawa,
4. Dewi Aristi mnurunkan para bidadari kahyangan,
5. Dewi Anasuya menurunkan bangsa bangsa para Yaksa,
6. Dewi Kusa menurunkan bangsa bangsa para Raksasa,
7. Dewi Tamra menurunkan bangsa tumbuhan/pepohonan,
8. Dewi Mregi menurunkan bangsa bangsa gana, bhuta dan kumbanda putana,
9. Dewi Krodawasa menurunkan 10 orang putri diantaranya Sarama yang mnurunkan bangsa hewan dan binatang,
10. Dewi Ira menurunkan bangsa gajah diantaranya Gajah Airawana,
11. Dewi Winata menurunkan bangsa burung diantara Aruna dan Garuda, dan 
12. Dewi Kadru menurunkan bangsa naga dan ular. 
Diantara semua mahluk penghuni alam raya ini, manusia yang merupakan keturunan Sri Manu dikisahkan memiliki Jnanan (Wiwekajananam) yang paling sempurna karena adanya pikiran, manas, bhudi dan tubuhnya yang terdiri atas panca maya kosa dan tri angga (ada menyebutkan Panca Angga, diskusikan pada momen yang lain). Karena itu manusialah yang paling perlu dikendalikan sikap dan prilakunya. Karena kecerdasannya, manusia dapat mencapai kesadaran tertinggi dan menyatu dengan penciptanya (Brahman) yang disebut mokhsah. Seluruh keturunan Maharsi Kasyapa ada sangat tergantung dari sikap dan prilaku manusia. Manusia dapat memanfaatkan semuanya untuk kepentingan memuliakan alam raya (karena itu sebenarnya manusia yang sesat ke jalan adharma lebih berbahay daripada ciptaan lainnya). 
Disebutkan dalam beberapa susatra, semua ciptaan harus melewati kehidupan sebagai manusia terlebih dahulu agar mencapai kesempurnaan.
Dalam Regweda disebutkan para dewa menjadi lemah bila manusia tidak melakukan pemujaan. Kekuatan para dewa (kecuali Trimurti). Dalam ajaran Veda tidak ditemukan konsepsi Tri Hita Karana namun dasar dasarnya ditetapkan bahwa manusia perlu saling terkoneksi dengan para dewa, manusia perlu menjaga hubungan antara sesama dan tugas manusia untuk menjaga lingkungan, karena hanya menusia yang merusak lingkungannya. 
Pada masa Kaliyuga Manwantara ke 7 ini, modal dasar potensi manusia menurun karen kehendak semesta, dan terus merosot sampai Manwantara ke 14 dan kemudian dilebur kembali pada moment tertntu setelah mencapai 1 kalpa, 100 hari Brahma yang disebut Mahapralayan.

SIapakah Kita: Manusia?
Manusia adalah keturunan Rsi Manu, karena menyadari bahwa keturunannya dapat sangat berdampak terhadap alam raya, dicipakannlah Pedoman Hindup/Kompedium Hukum Hindu, yaitu pedmoman hidup dalam masyarakat yang disebut “Manawa Dharma Sastra”. Sementara belum ditemukan adanya pakem tata cara kehidupan para Dewa, Detya, Danawa, Yaksa, Raksasan, tumbuhan dan binatang lainnya. Mereka hidup apa adanya sesuai dengan karakternya yang paten dan permanen. Sementara manusia karakternya dapat berubah karena pengaruh lingkungan dan kekuatan wiwekajnanam (para Rohaniwan sebelah mengatakan :Setanpun sekarang sudah takut pada manusia”). Indonesia terdiri atas 17 ribu pulau dan ratusan ribu suku bangsa, sesuai dengan konsepsi Leluhur sesungguhnya berasal dari sumber yang satu sehinga disebut :Vasudhewa Kuthumbakham”. Khusus untuk Bali, ada 29 Klan yang sampai saat ini hidup berdampingan hidup rukun dan damai dan bersama sama memperjuangkan keutamaan Hindu.

Kemana  Ciptaan Lain?
Dalam kehidupan sekarang, kita masih melihat pepohonan, binatang dan hewan hewan, namun tidak melihat adanya bangsa Yaksa, Danawa, Raksasa, Detya, Dewa dan Bidadari, Apsara Apsari, Kinara-Kinari. Mereka adalah mahluk gaib. Bila manusia mencapai kesadaran bukan saja dapat melihatnya, tetapi juga dapat bergaul dalam membangun harmoni untuk membangun kesukerthan jagad. Mahluk mahluk gaib ini sangat mempengaruhi manusia. Manusia mempercayai, misalnya adanya para Dewa, adanya para buta sehingga kita melaksanakan persembahyangan dan pemujaan serta korban caru. Akhirnya, naga naganya Alam Raya tergantung pada sikap dan karakter manusia untuk mencapai harmonis (Sukertaning Jagad). 
Karena itu manusia sangat perlu dikendalikan, percaya atau tidak. Rahayu 
(Maha Purana, Itihasa, Bhaagawad Gita, Upanisad, Catur Veda). (*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Ketum Dharma Pertiwi Kunjungi Museum Mahatma Gandhi di India

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius