Denpasar (Atnews) - Direktur Utama PT. Pak Oles Tockcer Dr Gede Ngurah Wididana yang dikenal dengan Pak Oles mengatakan, "Audentes fortuna juvat," artinya, keberuntungan berpihak kepada si pemberani, itu adalah pepatah latin tua, yang kebenarannya diamini oleh orang yang beruntung.
Kebenaran pepatah itu diuji pada 770 orang alumni Universitas Princeton 1949 dengan menjawab angket pertanyaan, dalam buku Faktor Keberuntungan, karya Max Gunter.
Jawaban dari alumni yang sukses cukup mengejutkan, bahwa mereka merasa beruntung atau sukses, karena berani; dan mereka yang merasa gagal atau tidak beruntung karena tidak berani, takut, atau ragu. Penelitian tersebut membenarkan pepatah lama tersebut, bahwa keberanian berpihak pada si pemberani.
"Keberanian dan kecerobohan atau nekat adalah dua hal yang berbeda. Berani memiliki tujuan jelas, perhitungan, dengan insting, logika, dan jalan keluar jika tidak berhasil," kata Wididana di Denpasar, Selasa (9/7).
Sedangkan nekat atau ceroboh tidak memiliki tujuan jelas, perhitungannya pendek, serta jalan keluar seandainya gagal tidak dimiliki. Ibarat penjudi, orang yang beruntung berjudi dengan uang kecil untuk bermain, sedang uang besarnya disimpan.
Namun orang yang tidak beruntung nekat berjudul dengan uang simpanannya. Jika keduanya kalah, orang yang beruntung masih bisa tersenyum, sedangkan orang yang nekat pasti menangis.
Sebagai pengusaha, keberanian adalah sangat penting, sekali lagi bukan nekat. Tanpa keberanian, pengusaha kehilangan kesempatan.
Keberanian adalah semacam otot yang harus dilatih, yang dimulai dengan latihan latihan kecil menuju besar. Orang yang beruntung adalah orang yang banyak mencoba, penuh kreatif dan enjoy mencoba hal yang ditekuninya, sampai suatu saat dia menemukan suatu momentum (kesempatan emas) yang sangat langka, dan momentum itulah yang memberikan keberuntungan.
Orang yang tidak beruntung selalu menunggu kesempatan emas, tidak berani mencoba, bermain di zona nyaman.
Dengan waktu yang terus bergulir, kesempatan emas sering tidak terbaca, lewat, dan baru diketahui beberapa tahun kemudian dengan perasaan menyesal.
"Orang yang beruntung menciptakan kesempatan dengan keberaniannya. Orang yang tidak beruntung menunggu kesempatan di zona nyaman," pungkasnya. (GAB/001)