Denpasar (Atnews) - I Gde Sudibya, Intelektual Hindu, Pengagum Pemikiran Dayanand Sarasvati, Vivekananda dan juga Gandhi menilai pandangan Budayawan Putu Suasta komprehensif tentang Universitas Taksasila yang menjadi simbol terkemuka peradaban Bhartiya/India masa lalu.
Menurutnya, Bhartiya adalah negeri yang kompleks, punya peradaban besar masa lalu, yang bisa saja dibandingkan dengan peradaban Yunani, dan juga Persia.
"Tetapi Bhartiya punya sejarah yang kelam, 200 tahun dikuasai kerajaan Islam dan hampir 100 tahun dijajah Inggris dalam artian politik dan kultural," ujar Gde Sudibya di Denpasar, Jumat (28/6).
Dikatakan juga, penjajah Inggris, didukung oleh ilmuwan sosial mumpuni di zamannya, secara sengaja memberikan tafsir terhadap peradaban Bhartiya secara "semena-mena" untuk tujuan hegemoni mereka.
Konon pengaruh ini sampai sekarang terasa di India.
"Gelising cerita, munculnya BJP dan PM Modi yang dinilai kontroversial terutama oleh pengamat Barat, memberikan warna baru buat India kini dan ke depan.
Good luck to Bro Putu atas tulisan komprehensifnya," ungkap Sudibya.
Sebelumnya, Pengelana Global Putu Suasta yang pernah belajar di UGM, Universitas New York dan Cornell University mengatakan, bahwa peradaban Bharatavarsa (India) telah memiliki universitas tertua di planet bumi bernama Universitas Taxila (Takṣaśilā Viśvavidyālaya).
Takṣaśilā adalah model universitas internasional pertama di peradaban kuno menurut informasi, diperkirakan terjadi (sekitar 400-500 SM hingga 550 M), dinamai berdasarkan “Kota Batu Potong Taksha” di India Utara kuno.
Institusi pendidikan kuno tersebut berada di Taxila, Gandhara Punjab Pakistan saat ini , dekat tepi Sungai Indus .
Takṣaśilā adalah warisan zaman Ramayana yang berasal dari Raja Taksha, keponakan Shri Rama dan putra Bharata.
Catatan dari berbagai sumber, Raja Taksha memerintah wilayah Taksha Khanda yang terbentang dari pinggiran Utara India hingga Uzbekistan modern.
Faktanya, Tashkent, ibu kota Uzbekistan saat ini, juga mendapatkan pengaruh namanya dari sumber yang sama.
Kota ini dinamai untuk menghormati Takas dan berarti "Batu Takas" dan terkenal karena kekayaannya.
Dalam Epik Ramayana, (Edisi Vangavasi-Uttarakandam-Bab XIV) Bharata, saudara laki-laki Sri Rama, dikatakan telah membangun dua kota, Takkhasila dan Puskalavata, dan mengangkat putranya, Takkha dan Puskala, menjadi penguasa masing-masing.
Kota-kota tersebut digambarkan sangat makmur karena warganya saleh dan sejahtera.
Dalam berbagai catatany sejarah, berbagai sumber informasi ,dalam Uttarakanda Ramayana yang samay bahwa Takkhasila adalah pusat pembelajaran dan dan ilmu pengetahuan bagi orang-orangu dari berbagai belahan negara yang menggunakan Institusi Pendidikan di sana untuk mengkhususkan diri pada Hukum (Vyavahara). Vayupurana Bab 88, sastra, pengetahuan Alam yang mengacu pada Takkhasila, sebagai ibu kota Takka, sebuah kota yang indah.
"Brihatsamhita" menyebutkan Takkhasila sebagai kota yang paling terkenal, sehingga menyiratkan bahwa kota tersebut tidak diragukan lagi merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan kuno.
"Aradanakalpalata" karya Ksemendra menyebutkan bahwa putra Asoka, Kunala, diutus oleh Asoka untuk menaklukkan Takkhasila yang diperintah oleh Kunjarakarna.
Dalam Mahabharata, Parikesit (Cucu Arjuna), pewaris kerajaan Kuru adalah penguasa Takṣaśilā.
Menurut Mahabharat, Janmanjeya melakukan "Sarpa-Satra" (Pengorbanan Ular), dih Takṣaśilā. Kemudian tempat itu, diyakini pembacaan Mahabharata pertama kaliy dibacakan di Takṣaśilā oleh Vaisampayana kepada Janmanjeya.
Vaisampayana merupakan seorang murid Vyasadeva atas perintah Vyasa sendiri.
Menurut catatan dari berbagai informasi diyakini bahwa cerita ini pertama kali dibacakan oleh Vaishampayana atas perintah Vyasa selama pengorbanan ular yang dilakukan oleh Janamejaya di Takshashila.
Penontonnya juga termasuk Ugrashravas, seorang penyair keliling, yang kemudian membacakan cerita tersebuceritayhy sekelompok pendeta di sebuah ashram di Hutan Naimisha dari mana ceritayh tersebut disebarluaskan lebih lanjut.
Pewaris Kerajaan Kuru, Parikesit (cucu Arjuna) konon bertahta di Takshashila.
Dhammapadadattahakatha menceritakan tentang seorang siswa yang pergi ke Taxila, jauh dari Benares, untuk mempelajari "Silpa" di tengah-tengah lima ratus teman sekelasnya.
Di beberapa tempat, dalam Pali Jataka, terdapat referensi tentang guru-guru terkenal yang tinggal di Taxila dan berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sana.
Para pelajar dan penulis asing dari Yunani, Roma, Mediterania, Mesir, Babilonia, dan China telah meninggalkan catatan berharga tentang Taxila kepada dunia Internasional.
Sedangkan Arrian menyebutnya sebagai kota yang besar dan berkembang pada zaman penguasa Alexander Yang Agung.
Takshashila, atau lebih dikenal dengan Taxila, adalah lembaga pendidikan terbaik pada masanya. Itu berlanjut selama ratusan tahun di tanah umat Hindu.
Kampus didirikan sebagai pusat pendidikan dan pembelajaran Veda, ilmu Alam, kedokteran, agama dan sekuler. Sedangkan abad-abad awal Masehi, kota itu juga menjadi pusat keilmuan Buddhis yang terkemuka.
Takshashila 2700 tahun yang lalu telah menawarkan kursus di lebih dari 64 bidang studi yang berbeda mulai dari bedah dan perdagangan hingga musik dan tari, dan dari filsafat dan Ayurveda hingga tata bahasa, politik, panahan, dan peperangan.
Terlebih lagi, kursus diajarkan untuk menemukan harta karun dany mendekripsi pesan juga.
Apalagi proses penerimaannya juga cukup ketat dan murni berdasarkan prestasi. Dan, kompetisi ini akan diikuti oleh siswa yang memenuhi syarat di seluruh benua. Termasuk mereka juga harus menyelesaikan sekolah dasar dan berusia 16 tahun, sebelum mendaftar kursus di sini. Hal itu mirip seperti model pendidikan moderen sebelum masuk universitas.
Bahkan catatan sejarah menunjukkan bahwa lembaga ini mengakui semua orang sederajat; tidak ada diskriminasi berdasarkan kasta, keyakinan atau agama.
Diceritakan pula, Takṣaśilā saat itu digambarkan sebagai kota yang Aman, kaya, makmur berkelimpahan di India Utara. Universitas ini merupakan pusat pendidikan dari lebih dari 10.000 mahasiswa yang datang dari berbagai belahan dunia untuk mengumpulkan pengetahuan dan pendidikan.
Kampus itu menarik mahasiswa dari seluruh dunia baik dari China, Arab, Mesir, Suriah, Babilonia dan Yunani.
Diyakini bahwa siswa memulai studi mereka di Takshashila sekitar usia 16 tahun, setelah mereka menyelesaikan pendidikan dasar di rumah, dan pendidikan menengah di Ashram.
Guru-guru yang pernah dikatakan mengajar di Universitas Taxila yakni Pāṇini (Ahli Tata Bahasa India abad ke-5 SM), Chanakya Perdana Menteri berpengaruh dari pendiri Kekaisaran Maurya, Chandragupta Maurya, Kumāralāta sebagai pendiri sekolah Sautrāntika juga merupakan guru yang sangat baik di universitas Taxila dan menarik siswa dari jauh Tiongkok .
Dengan alumni kampus yang dikenal dunia yakni Chanakya sebagai salah satu pakar politik terbaik dan perdana menteri Kekaisaran Maurya, Chanakya atau Kautilya yang menulis Arthashastra yang terkenal, sebuah kompilasi dari 15 buku yang tidak diragukan lagi merupakan salah satu karya tertua namun terbaik tentang kebijakan ekonomi, tata negara, tugas politik, strategi militer, keterampilan administratif, dan sistem intelijen negara.
Faktanya, betelah dipuji sebagai penasihat manajemen terbaik ketiga dalam sejarah India setelah Sri Krishna sendiri dan Shakuni dan merupakan pendukung utama di balik berdirinya Kekaisaran Maurya yang terkenal.
Ada pula Panini. Jika Chanakya adalah pendukung kuat dalam politik; Panini adalah ahli tata bahasa dan bahasa. Faktanya, Ashtadhyayi karya Panini dianggap sebagai salah satu karya tata bahasa yang paling mendalam, meski rumit. Ini memberikan perspektif yang sangat teknis tentang tata bahasa Sansekerta dan mengilustrasikan semua nuansa, aturan, dan fitur dengan sempurna. Teorinya tentang analisis morfologi lebih maju daripada teori Barat mana pun sebelum pertengahan abad ke-20 dan analisisnya tentang kata majemuk masih menjadi dasar teori pemajemukan linguistik modern, yang meminjam istilah Sansekerta seperti bahuvrihi dan dvandva.
Begitu juga Wisnu Sharma penulis cerita Panchatantra, penulis terkenal di balik kisah-kisah sederhana namun mengagumkan itu juga merupakan murid Takshashila. Lagipula, tidak semua orang bisa mengajarkan seni ilmu politik yang penting dan sulit melalui kisah-kisah yang sederhana dan penuh kasih.
Menurut informasi dari berbagai sumber, Wisnu Sharma menulis Panchatantra untuk mendidik tiga pangeran bodoh dari seorang raja menjadi pemimpin politik yang hebat dalam kurun waktu 6 bulan.
Charaka, penulis terkenal Charaka Samhita tentang kekuatan seorang dokter yang baik. Charaka adalah salah satu dokter Ayurveda paling terkenal yang pernah ada dan telah menulis Charaka Samhita yang, bersama dengan Sushrutha Samhita, Ashtanga Sangraha dan Ashtanga Hrudayam, merupakan inti dari Ayurveda modern.
Jivak, pria yang bisa mengetahui permasalahan fisik suatu tubuh hanya dengan membaca denyut nadinya. Setelah belajar di Universitas selama 7 tahun dan mengkhususkan diri dalam bidang bedah, Marma dan Panchakarma, Jivak juga menemukan pengobatan untuk Filariasis pada masa itu. Menjadi tabib pribadi Sang Buddha, Ia juga menyembuhkan Nandi Vran Sang Buddha. Amrapali yang cantik mempertahankan wajah muda dan kecantikannya berkat banyaknya operasi dan poin Marma yang dilakukan oleh Jivak padanya.
Dijelaskan pula Taxila berada di persimpangan jalan perdagangan utama Asia, dan diperkirakan dihuni oleh orang India, Persia, Yunani, Skit, dan banyak etnis yang berasal darit berbagai wilayah Kekaisaran Achaemenid.
Oleh karena, kota Inmtu menjadi ibu kota wilayah Achaemenid di barat laut India Kuno setelah penaklukan Achaemenid di Lembah Indus sekitar tahun 540 SM.
Bahkan terletak strategis di cabang Jalur Sutra yang menghubungkan jazirah Tiongkok ke Barat, Takṣaśilā yang kemudian ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1980 dan terletak di dekat Rawalpindi di Pakistan modern.
Menurut John Marshall yang dikutip dari Wikipedia, Dalamttt literatur Buddhis awal, khususnya di Jataka , Taxila sering disebutkan sebagaipusatttt universitas di mana siswa dapat memperoleh pengajaran di hampir semua mata pelajaran, agama atau sekuler, dari Veda hingga matematika dan kedokteran, bahkan astrologi dan panahan."
Peran Taxila sebagai pusat ilmu pengetahuan semakin menguat pada masa Kekaisaran Maurya dan pemerintahan Yunani (Indo-Yunani ) pada abadt ke-3 dan ke-2 SM.
Universitas ini bukanlah universitas dalam pengertian modern, karena para guru yang tinggal di sana mungkin tidamemilikitgtftg keanggotaan resmi di perguruan tinggi tertentu, berbeda dengan Universitas Nalanda yang berasrama pertama di dunia bertempat di Bihar, India yang kemudian muncul.
Namun kampus itu juga sempat dihacurkan penjajah, saat Narendratttt baru Universitas Nalanda diresmikan Perdana Menteri Shri Narendra Modi di Rajgir, Bihar, Rabu (19/6/2024).
Universitas itu dibangun sebagai hasil kolaborasi antara India dan negara-negara KTT Asia Timur (EAS). Beberapa tokoh terkemuka termasuk Kepala Misi 17 negara menghadiri upacara pelantikan tersebut. Perdana Menteri juga menanam pohon muddiikutitt peresmian Universitas internasional tersebut, selain India, juga diikutit oleh 17 negara lainnya yakni Australia, Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, Tiongkok, Indonesia, Laos, Mauritius, Myanmar, Selandia Baru, Portugal, Singapura, Korea Selatan, SriTaxilattt Thailand , dan Vietnam.
Sementara, Universitas Taxilat mengalami penghancuran yang dilakukan Toramana pada abad ke-5 M rupanya mengakhiri aktivitas Taxila sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan.
Universitas Takshashila diserang dan dijarah serta buku-bukunya dibakar, para Guru dibunuh oleh orang Hun.
Kemunduran Taksashila menandai kehancuran, penganiayaan, dan kemunduran pendidikan, pemikiran, dan struktur India.
Sangat menyedihkan situasinya, bahwa generasi saat ini tidak mengetahui betapa majunya pendidikan warisan Sanatana Dharma dan dunia dulu datang dan belajar dari kesana.
Namun, pendidikan dianggap sakral sejak dahulu, sebuah kutipan Sansekerta kuno mengatakan "Swagruhe Pujyate Murkhaha; Swagraame Pujyate Prabhuhu Swadeshe Pujyate Raja; Vidvaansarvatra Pujyate" artinya (Orang bodoh disembah di rumahnya. Seorang pemimpin disembah di kotanya. Seorang raja disembah di kerajaannya. Orang yang berilmu disembah di mana-mana).
Oleh karena itu, pendidikan tidak dapat disangkal bahkan bagi siswa yang paling miskin sekalipun. Penerimaan didasarkan pada prestasi dan dukungany keuangan sering kali diberikan oleh masyarakat atau melalui pengaturan kerja-studi.
Dengan demikian, negara harus hadir dan orang-orang kaya ikut turut serta membangun pendidikan. Sebagaimana Indonesia saat ini mengalokasi anggaran pendidikan 20 persen baik dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara maupun Daerah (APBN/APBD) merupakan amanat dari Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945.
Bahkan adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 24/PUU-VI/2007, diharapkan Pemerintah tidak menunda-menunda kebutuhan anggaran sekurang-kurangnya untuk pendidikan baik dari APBN maupun APBD.
Provinsi Bali yang kecil, diharapkan memprioritaskan pembangunan SDM dengan membangun lembaga pendidikan dasar hingga tinggi yang berkelas internasional. Lembaga itu mampu membangun hubungan secara global, apalagi Bali sebagai daerah pariwisata dunia. "Bali strategis kembangkan institusi pendidikan berkelas internasional," kata Suasta di Denpasar, Rabu (26/6).
Dalam sektor pendidikan, pihaknya juga telah berbuat serta mengungkap peran Prof Ngurah Bagus dalam dinamika Baliologi sangat Sentral dalam kurun waktu 25 tahun.
Baliologi berarti studi tentang kebudayaan Bali dalam semua aspek tata kehidupannya Baliologi ini yang mengkoneksikan Universitas Udayana (Unud) dengan kampus-kampus ternama di seluruh dunia.
Unud kerjasama dengan Universitas Sydney, ANU Australia, Universitas Hawaii, Universitas Cornell, Univesitas Princeton, Universitas Tokyo, Universitas Leiden, Universitas Sorbonne Prancis, UGM, Universitas Hawaii, Universitas San Francisco.universitas Indonesia, universitas Wollongong.
Pada waktu pertemuan Baliologi di Universitas Sydney itu pula, Prof Bagus juga sudah bertemu Prof Adrian Vickers dari Universitas Sydney, Prof Mark Hobart Universitas London, Prof Ayami Nakatami Universitas Tokyo, prof Hildred Geertz Universitas Princeton.yang mengambil thema tentang transformasi kebudayaan Bali. Dari sebagian makalahnya dikumpulkan jadi satu buku "The staying in the Global Village : Bali ini 21 Century" diterbitkan di Universitas Hawaii. Buku yang sangat monumental.
Prof Bagus dikenal Bapak Antropologi dan Studi Kebudayaan Bali (The Father of Balinese Studies), telah mewariskan sebuah keabadian berupa ilmu - ilmu Humaniora, khususnya Antropologi (Kebudayaan) Bali dan Kajian Budaya Bali di Fakultas Sastra (Unud).
Dijelaskan, pada Bulan Mei 1984 Mendikbud Nugroho Notosusanto telah meresmikan berdirinya Baliologi, suatu kajian yangg sederajat dengan Javanologi, Sundanologi, Galigologi, Melayulogi serta kajian dari suku bangsa yang lain yang didirikan kemudian.
Keseluruhan badan-badan kajian ini berada dibawah payung Indonesialogi. Studi tentang kebudayaan Bali ini tidaklah merupakan satu kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi merupakan satu bagian dari usaha mencapai tujuan pendidikan nasional secara menyeluruh . Dengan perkataan lain, “Proyek” Baliologi ini diadakan terutama untuk melayani keperluan pendidikan, pemahaman terhadap Pancasila, Nusantara dan Bhinneka Tunggal Ika.
Untuk mencapai tujuan tersebut, proses pendidikan pasti memerlukan perangkat nilai tertentu sebagai mediumnya disamping metode dan perlengkapan software dan hardware yang khas diperlukan untuk itu. Begitu halnya kebudayaan merupakan perangkat nilai.
Namun yang jelas, nilai-nilai yang kita butuhkan sebagai medium pendidikan dan kebudayaan itu harus kita gali dari khasanah kebudayaan kita sendiri, dari bumi kita sendiri di antaranya yang diakui sebagai kebudayaan Bali.
Dengan demikian penelitian, pemikiran dan pengembangan Baliologi tidak hanya bergerak di bidang kebudayaan, tetapi juga di bidang pendidikan dalam kaitan fungsional timbal-balik antara kedua bidang tersebut.
Sedangkan bila berbicara kebudayaan, pasti akan menyinggung unsur-unsur ruang dan waktu serta kesejarahan (masa lampau, masa kini dan masa akan datang), interpretasi, evolusi, kreasi dan norma-norma (pengembangan kualitas manusia).
Mengingat ruang lingkup kerja yang jangkauannya sangat luas dengan téma kerja yang sangat mendasar dan menentukan, sepatutnya kita semua merasa terpanggil untuk ikut berpartisipasi secara aktif menggali dan mengembangkan Kebudayaan Bali.
Ada pun pretensi partisipasi itu tidaklah ditentukan oleh jabatan resmi, oleh kedudukan politik atau pun oleh garis keturunan, akan tetapi didasarkan atas sifat intelektulitas dan kemampuan untuk berbuat sesuatu. Sifat intelektualitas ini diperoleh dari kebiasaan merenungkan sesuatu secara mendalam, kebiasaan menggunakan penalaran dan kebiasaan mengenalkan akal dengan ilmu pengetahuan.
Baliologi berarti ilmu tentang kebudayaan Bali. Itu berarti secara sadar ilmu pengetahuan dilibatkan dalam usaha untukt menggali, mempelajari memahami dan menilai sistem tata nilai yang dirumuskan dan dihayatit oleh nenek moyang kita dahulu di Bali.
Pihaknya gunakan ilmu pengetahuan dengan segala metode dan cara kerjanya yang spesifik, untuk melacak masa lalu yang pernah ada dan hidup di Bali, demi memperoleh nilai pijakan yang kokoh guna melompat ke masa depan.
Dalam melakukan kegiatan intelektual, mánusia mengalami keraguan untuk menilai kemampuannya karena adanya keterbatasan ‘alamiah untuk mengetahui tentang sesuatu’. Namun di sisi lain berkat kemampuan intelektual untuk mengetahui itulah, manusia menilai secara kritis situasi pengetahuannya sendiri.
Berdasarkan kesadaran yang kritis ini, kiranya pantas dikatakan adanya kemajuan ilmu pengetahuan. Pengakuan kemajuan ini didasarkan pada norma yang kokoh yang terkandung dalam kemampuan untuk mengetahui itu sendiri.
Kemajuan itu tampil dalam dua arah: terhadap masa lampau dan masa depan. Artinya, di satu pihak, ilmu pengetahuan dewasa ini mampu memahami hal-hal yang dahulu tidak dimengerti sehingga ada kemajuan dibandingkan dengan masa lampau. Kita jaga Peradaban Bali dengan sikap kritis, terbuka dan membuka diri pada nilai nilai baru yang meningkatkan harkat kemanusiaan. (GAB/001)