Mengenang 100 Tahun Mochtar Lubis, Wartawan Ternama dan Pejuang Anti Korupsi
Banner Bawah

Mengenang 100 Tahun Mochtar Lubis, Wartawan Ternama dan Pejuang Anti Korupsi

Admin - atnews

2022-03-23
Bagikan :
Dokumentasi dari - Mengenang 100 Tahun Mochtar Lubis, Wartawan Ternama dan Pejuang Anti Korupsi
Slider 1
Oleh Jro Gde Sudibya 
Mochtar Lubis wartawan ternama Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya  yang nyaris melegenda di era Orde Baru, "berusia" 100 tahun, lahir di Padang 7 Maret 1922 dan meninggal di Jakarta 2 Juli 2004.
Mochtar Lubis terutama di kalangan wartawan, gerakan masyarakat sipil di era tahun 1970-an dan sesudahnya, adalah memilih profesi  wartawan sebagai "jalan pedang" kehidupan. Membela kepentingan publik pantang mundur, penjaga terdepan tegaknya etika jurnalistik, tidak mengenal kata kompromi untuk melawan kecendrungan kekuasaan yang korup, menggunakan fakta dan data yang nyaris suci, sacred data.
Harian Indonesia Raya pada zamannya, menjadi rujukan berpikir, inspirasi, penyemangat bagi gerakan masyarakat sipil, komunitas wartawan, intelektual, mahasiswa dan komponen gerakan masyarakat sipil lainnya. Sejarah mencatat, harian Indonesia Raya dibredel, karena kegigihannya memberitakan skandal korupsi dan salah guna kekuasaan lainnya.
Harian Indonesia Raya "mati", tetapi spiritnya dan keberaniannya melawan korupsi dan salah guna kekuasaan, terus bersemi dalam gerakan reformasi di awal tahun 1990-an.
Mochtar Lubis cum sastrawan ternama, mentransformasi idealisme kehidupanmya dalam karya - karya sastra yang menggugah. Salah satu diantaranya, karya sastra berjudul Jalan Tak Ada Ujung.
Mengenang 100 tahun Mochtar Lubis, menarik menyimak orasi kebudayaan yang dibacakan oleh wartawan cum sastrawan ini, di Taman Ismail Marzuki TIM 6 April 1977. 
Dalam orasi kebudayaannya yang kemudian dibukukan dalam buku bertema Manusia Indonesia, mengemukakan 6 sifat umum manusia Indonesia: 
(1) Hipokrit atau munafik, yang kemudian melahirkan sikap ABS, asal bapak senang.
(2) Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, sehingga mudah melemparkan tanggung jawab pada pihak lain atau keadaan.
(3) Berjiwa feodal, yang bisa menjadi pangkal penyebab korupsi dan sejenisnya.
(4) Percaya Takhyul, di sini arti pendidilan untuk meminimalkan sifat ini.
(5) Punya kemampuan artistik.
(6) Berwatak lemah, sehingga pemimpin  mudah melemparkan tanggung- jawab pada bawahannya.
Di samping sifat-sifat lainnya: boros, menyenangi prilaku insan, penggerutu, punya rasa humor dan cepat belajar.
Menyimak realitas sosial yang ada, pendapat yang disampaikan oleh wartawan senior pemberani dan tidak mengenal kompromi terhadap korupsi dan salah guna kekuasaan, tetap relevan sampai dewasa ini.
*) Jro Gde Sudibya, pengamat sosial ekonomi.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Putri Koster Sosialisasikan HATINYA PKK di Desa Tiyinggading

Terpopuler

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali

ARUN Soroti Wacana Devisa Pariwisata Bali Rp176 Triliun, Gung De Pertanyakan Besaran PAD

ARUN Soroti Wacana Devisa Pariwisata Bali Rp176 Triliun, Gung De Pertanyakan Besaran PAD